Mencari Keuntungan adalah Watak Dasar Manusia

    112

    Pada 8 Oktober 2020, terjadi demonstrasi besar. Para buruh serempak melakukan mogok kerja dan atas nama solidaritas, mahasiswa bahkan siswa-siswa STM juga turut turun berdemonstrasi. Bisa Anda bayangkan, betapa sumpeknya suasana Jakarta dan sekitarnya, di mana banyak orang di berbagai wilayah turun ke jalan mengadakan aksi demonstrasi. Dapat ditebak, akhirnya demontrasi yang dilakukan oleh berbagai kalangan tersebut, pecah menjadi aksi keributan dan anarki.

    Seperti yang diberitakan oleh berbagai media massa, aksi demonstrasi dan protes terjadi sebagai respon penolakan mereka atas disahkannya Undang-Undang Cipta Kerja atau UU Omnibus Law pada 5 Oktober 2020. Pemerintah berdalih bahwa pengesahan Omnibus Law atau UU Cipta Kerja bertujuan untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia dan menahan angka pengangguran yang terus tinggi.

    Di lain pihak, para mahasiswa, aktivis kiri, dan buruh menilai bahwa Omnibus Law dianggap sebagai bentuk kejahatan karena lebih condong mendukung wirausaha dan pengusaha, mendorong investasi asing masuk. Dengan demikian, pemerintah dianggap akan semakin memperkuat kapitalisme.

    Di mata banyak mahasiswa dan para aktivis, kapitalisme adalah gambaran nyata dari iblis jahat yang kerjanya hanya menghisap dan mengeksploitasi tenaga buruh. Kapitalisme dianggap sebagai sistem imoral karena lebih menjunjung persaingan bebas ketimbang gotong royong.

    Undang-undang ini juga mendapat kritik dari berbagai tokoh agama. KH. Said Aqil Siraj misalnya, turut mengkritik pengesahan UU Ciptaker ini. Menurut pertimbangan Beliau, undang-undang tersebut hanya menguntungkan konglomerat, kapitalis, investor, tapi menindas dan menginjak kepentingan atau nasib para buruh, petani, dan rakyat kecil (CNN Indonesia, 07/10/2020).

    *****

    Selama ini, kapitalisme mungkin adalah ideologi yang selalu disalahpahami oleh banyak orang, baik di Indonesia atau di belahan dunia lain. Kapitalisme dianggap sebagai sistem yang jahat, kejam dan paling tidak bermoral, karena kapitalisme dianggap mengabaikan nilai-nilai gotong royong dan lebih mementingkan keuntungan pribadi ketimbang keuntungan bersama.

    Banyak orang beranggapan bahwa, kapitalisme adalah sistem ekonomi yang tidak mengenal belas kasih dan kemanusiaan. Kapitalisme dianggap membenarkan kerakusan, eksploitasi manusia, membolehkan kekayaan menumpuk di tangan segelintir orang bukan kepada setiap orang.

    Lantas, apakah kapitalisme bersalah karena mencari keuntungan pribadi? Apakah bekerja atau berniaga untuk memuaskan keinginan pribadi adalah dosa dan perilaku yang tak bermoral?

    Inilah yang membuat saya tergelitik. Mengapa kita menganggap bahwa mencari keuntungan untuk diri pribadi adalah salah? Apakh jika kita memiliki keuntungan maka orang lain juga memiliki hak untuk menuntutnya?

    Sangat aneh jika kita tidak dibolehkan memikirkan diri sendiri. Bukankah setiap hari kita bekerja untuk memenuhi hasrat kebutuhan dan untuk mendapatkan keuntungan? Juga, sangat lucu jika mereka menolak kapitalisme dengan dalih kapitalisme hanya memikirkan keuntungan pribadi, sedangkan setiap hari orang-orang berkerja untuk mencari keuntungan untuk dirinya sendiri.

     

    Mencari Keuntungan Adalah Fitrah

    Filsuf besar asal Britania Raya, Thomas Hobbes, memiliki pandangan bahwa kerakusan, egoisme, dan mencari keuntungan adalah watak alami manusia. Hobbes berpendapat bahwa manusia dalam dirinya adalah selalu ketakutan pada orang lain dan cenderung mempertahanlan diri. Karena itulah, manusia seperti yang kita lihat, selalu berusaha untuk mendapatkan kebutuhannya dengan jalan konfrontatif.

    Homo homini lupus, atau manusia adalah serigala bagi sesama, adalah adigium yang terkenal dari Hobbes. Manusia dianggap sebagai makhluk yang tidak pernah berhenti untuk bertengkar dan berkonfrontasi demi memenuhi kebutuhan dirinya. Hingga pada suatu saat, manusia yang saling bertikai ini sadar bahwa jika mereka selalu bertikai, maka mereka akan merugikan diri mereka sendiri. Sehingga, mereka kemudian berkomunikasi pada sesamanya dan membuat kesepakatan untuk saling tidak menyerang, kesepakatan ini disebut sebagai kontrak sosial (Hadiwijono, 1980).

    Adam Smith juga berpandangan hampir serupa dengan Hobbes. Namun, Adam Smith hanya melihat bahwa manusia memiliki sentimen untuk memikirkan diri sendiri (self interest), rakus dan ingin selalu memuaskan hasrat pribadinya. Di sisi lain, manusia memiliki juga sentimen untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan yang lain.

    Dalam transaksi ekonomi, kedua sentimen ini, (sentimen untuk memikirkan diri sendiri dan sentimen untuk berinteraksi dengan yang lain) kemudian menciptakan pasar. Demi mendapat keuntungan pribadi tanpa menyakiti siapapun, kemudian individu-individu itu melakukan transaksi niaga. Di sisi lain mereka berhasil memuaskan keuntungan diri sendiri, dan di saat bersamaan, mereka berhasil saling melengkapi dan memuaskan orang lain (Ormerod, 1998).

    Menurut Adam Smith, karena setiap orang berlomba-lomba untuk mencari keuntungan pribadi secara sehat (tanpa menyakiti siapapun), maka terciptalah harmoni pasar dan harmoni dalam masyarakat. Adam Smith berkata, “ bukan karena kedermawanan dari si tukang daging atau si tukang roti kita mendapatkan bahan pangan kita, melainkan dari kepedulian mereka terhadap kepentingan diri sendiri” (Smith, 2019).

    Di sini, penulis ingin mengingatkan bahwa, bukan berarti Hobbes dan Smith membenarkan pertikaian dan konfrontasi antar umat manusia. Mereka hanya berusaha menjelaskan bahwa menjadi watak dasar manusia untuk mencari keuntungan. Walaupun setiap orang saat ini sudah terikat oleh kontrak sosial yang berupa hukum, adat, norma, agama dan budaya, namun sifat dasar manusia untuk mencari keuntungan dan pemenuhan hasrat pribadi tidak serta merta hilang.

    Karena itu, setiap orang berusaha mencari jalan yang terbaik untuk memenuhi hasrat pribadinya, dengan catatan, tanpa menganggu hak orang lain. Kapitalisme dan perdagangan bebas adalah upaya manusia untuk memenuhi hasrat dan keinginan pribadinya.

    Apakah salah jika setiap orang bertransaksi dengan orang lain? Apakah salah jika orang bekerja untuk memenuhi hasrat pribadi? Jelas tidak. Adalah wajar jika setiap orang bekerja untuk mencari yang terbaik bagi dirinya sendiri, dan itu tidak salah sama sekali, selama ia menempuhnya dengan cara-cara yang baik.

    *****

    Kembali ke pembahasan awal, apakah benar hanya kapitalis yang mementingkan diri sendiri? Tentu jelas tidak. Setiap orang jelas mementingkan dirinya, baik dia buruh, petani, pedagang, kuli, pekerja seni, dan lain sebagainya.

    Sebagai ilustrasi, misalnya, kemarin ada pembagian jatah sembako murah dan seseorang tidak mendapatkan jatah sembako dan bantuan uang. Apakah lantas orang tersebut akan bahagia dan bersyukur karena meskipun ia tidak mendapat sembako, namun orang lain mendapatkannya?

    Kemungkinan besar tentu tidak demikian. Tidak mustahil pula orang tersebut akan memaki-maki para petugas yang memberikan sembako tersebut, karena dirinya tidak mendapatkan jatah sembako dan uang bantuan.

    Kesimpulannya, setiap orang mencari keuntungan untuk dirinya masing-masing, dan itu adalah lumrah bahkan itu fitrah manusia. Sama dengan kaum buruh, ketika kaum buruh menuntut upah layak, pada dasarnya kaum buruh juga memikirkan kepentingan diri mereka sendiri, karena mereka ingin keinginan dan kebutuhan diri mereka terpenuhi.

    Melalui tulisan ini, penulis bukan ingin menggiring opini bahwa membela kepentingan orang lain itu salah, atau sikap dermawan dan rela berkorban itu keliru. Tentu tidak seperti itu. Kedermawanan dan sikap rela berkorban itu penting. Bahkan, jika seorang pengusaha memberikan sebagian hartanya sebagai sumbangan, itu sangat baik sekali, selama itu sifatnya sukarela, bukan paksaan, apalagi memaksa dengan cara anarkis dan merusak.

     

    Referensi

    Buku

    Hadiwijono, Harun. 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Pustaka Kanisius.

    Ormerod, Paul. 1998. Matinya Ilmu Ekonomi (The Death of Economics). terj. Parakitri Simbolon. Jakarta: KPG.

    Smith, Adam. 2019. The Wealth of Nations. terj. Haz Algebra. Jakarta: Globalindo.

     

    Internet

    https://www.cnnindonesia.com/nasional/20201007161530-20-555563/said-aqil-ciptaker-untungkan-kapitalis-tindas-rakyat-kecil Diakses pada 15 Oktober 2020, pukul 16.24 WIB.