Memulihkan Citra Bangsa lewat Kata, Rasa, dan Rupa

179

Di tengah tajamnya kritik dan hujatan terhadap bangsa Indonesia, perlu setitik atau lebih banyak titik cerah dan penuh harapan untuk memulihkan citra bangsa ini. Kita sudah cukup jengah dan muak dengan berita-berita soal konflik politik, korupsi, kriminal, penegakan hukum yang salah kaprah dan diskriminatif, makin parahnya mental dan moral politisi, dan sebagainya, yang sudah terlalu penuh dengan pesan-pesan negatif tentang Indonesia. Ya, lihat saja kasus-kasus seperti hukuman mati yang kontroversial, (masih) soal cicak dan buaya,dewan perwakilan rakyat yang makin jauh dari aspirasi rakyat, perang internal partai politik, dan sebagainya.

Di sisi lain, kita juga sadar demokrasi bukan proses yang mulus, ia bersifat dinamis dan penuh kepentingan, tapi bukan berarti kita jadi permisif dan berpangku tangan dengan keadaan. Ketika negara dan pemerintah sudah sedemikian rupa mencoreng citra bangsa, sudah waktunya masyarakat sipil lewat activism-nya baik lewat kiprah individu dan bersama mendorong upaya-upaya untuk membenahi citra bangsa. Kegagalan pemerintah dan citra buruk yang dilahirkan dari kebijakan pemerintah yang tidak melulu bijak dan harus selalu patut dikritisi, tidak serta-merta menjadi generelasasi bagi karakter bangsa Indonesia seluruhnya. Hal ini pulalah yang menjadi misi dari penyelenggaraan Pameran Buku Frankfurt 2015, yang akan digelar pada 13-18 Oktober mendatang.

Dalam pameran buku terpenting di dunia yang  akan menampilkan buku-buku terbaik dari 100 negara tersebut, Indonesia menjadi tamu kehormatan. Di sini kita berbicara tentang kesempatan untuk ‘re-branding’ Indonesia di mata internasional, mempromosikan Indonesia lewat karya anak bangsa, baik berupa tulisan, ilustrasi, maupun kuliner kaya rasa Indonesia. Pameran Buku Frankfurt menjadi ajang strategis bagi Indonesia untuk berdialog dan menceritakan dengan kreatif dan kritis tentang Indonesia dan menjadi seorang Indonesia. Yang paling penting adalah pameran ini juga jelas merupakan ajang diplomasi publik yang tidak hanya bergengsi namun juga krusial untuk memulihkan citra bangsa yang tengah memburuk dan terpuruk.

Ada yang salah ketika kita tahu betapa kaya dan beragamnya Indonesia, baik dari peninggalan sejarah, kekayaan budaya dan alam, serta karya anak bangsa, namun kita tidak bisa berbuat banyak untuk itu lewat upaya bersama yang kreatif, proaktif, dan optimal, terutama dengan target masyarakat internasional. Ini wajah Indonesia yang seharusnya kita munculkan. Dan Pameran Buku Frankfurt 2015 akan menerjemahkan upaya bersama tersebut dengan tema ‘17.000 Islands of Imagination’. Tema unik dan menarik ini juga mencerminkan kebebebasan berekspresi bagi para peserta pameran untuk ‘menjual’ pesan dari negara asalnya kepada masyarakat Indonesia.

Indonesia lewat tema kekayaan Indonesia dan keragaman imajinasi Indonesia berupaya untuk mendorong kampanye membaca dan menulis, dan mendekatkannya secara personal dan tanpa batas lewat tujuh ‘pulau’ atau ruang di stan Indonesia, yang akan mencerminkan Indonesia dan menjadi seorang Indonesia. Sebut saja “Island of Words” yang akan memamerkan buku-buku unggulan Indonesia; “Island of Spices” yang akan memanjakan para pengunjung dengan kekayaan cita rasa Nusantara; “Island of Scene” yang akan mempertunjukkan seni music Indonesia; “Island of Parchment” untuk kekayaaan aksara kuno Indonesia dalam bentuk replica; “Island of Tales” yang akan memperkenalkan cerita anak Indonesia dengan ilustrasi berupa lampion-lampion yang mengelilingi pulau itu, yang juga menjadi “Island of Images”, serta “Island of Inquiry” yang dipersembahkan bagi mereka yang tertarik pada kekayaan produk digital Indonesia dalam bentuk program sains dan data tentang budaya nusantara. Hal ini pulalah yang dijelaskan dengan menarik dalam konferensi pers pada tanggal 30 April lalu, lewat  paparan Komite Desain, Paviliun dan Stan Indonesia.

Tema ’17.000 Islands of Imagination’ juga bisa dimaknai secara luas sebagai ‘Islands of Ideas, Opportunity, Creativity, Achievement, and Hopes’, yang kesemuanya berangkat dan lahir dari gagasan-gagasan yang kreatif, berani dan lintas batas. Di sinilah kebebasan bersuara dan diwujudkan. Gagasan-gagasan yang didukung oleh banyak pihak, tidak hanya dari pemerintah dan kelompok elit intelektual atau seniman, tapi juga mereka yang memiliki hasrat dan kemampuan untuk ikut berperan dalam pameran tersebut dengan ide-ide yang cemerlang. Pameran ini adalah kerja bersama dan kolaborasi yang memukau dari berbagai pihak. Lewat pameran ini, Indonesia akan mempersembahkan kekayaannya yang beragam, dari buku, seni, ilustrasi, sejarah, pengetahuan, dan juga kuliner. Tema yang diangkat juga dijamin akan memberikan nuansa yang berbeda dari pameran buku pada umumnya, karena ke-Indonesiaan yang kaya dan beragam ‘dipamerkan’ sedemikian rupa, sehingga akan menarik perhatian para pengunjung pameran bergengsi di Frankfurt tersebut.

Layaknya upaya diplomasi publik yang dipahami sebagai upaya untuk mempengaruhi persepsi dan opini audiens di negara lain yang juga melibatkan aktor non-negara, serta wujud dari ‘soft power’ dalam hubungan internasional seperti yang diperkenalkan oleh Joseph Nye, Profesor dari Kennedy School of Government, Harvard University, pameran seperti ini harus dilihat sebagai investasi strategis jangka panjang dan kontribusi pelbagai pihak yang berkepentingan, yang perlu ditanam secara berkelanjutan. Misalnya, dalam hal penerjemahan buku, pemutaran film, pengadaan pameran, festival, seminar, dan lain sebagainya untuk mengoptimalkan pelaksanaan diplomasi publik.

Seperti yang dipaparkan oleh Ayu Utami salah satu penulis yang akan hadir dalam pameran tersebut dengan karyanya, perlu ada upaya yang konsisten untuk menunjukkan kekayaan hasil karya para penulis Indonesia yang bermutu kepada masyarakat internasional. Ayu juga menekankan bahwa pameran seperti ini juga menjadi ajang strategis untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki pemikiran yang ingin disampaikan kepada dunia. Ini pula yang mengingatkan kita pada pernyataan yang sangat penting dan mendasar dari Benjamin Franklin (1722), “Without freedom of thought there can be no such thing as wisdom and no such thing as public liberty without freedom of speech.” Di sini pulalah pameran buku dengan tema ‘17.000 Islands of Imagination’ ini diharapkan dapat menjalankan diplomasi publik yang tidak hanya menarik namun juga komprehensif dengan ragam pameran dan kegiatannya, sehingga mendorong terciptanya persepsi dan opini yang bijak mengenai Indonesia

Untuk itu, kebebasan berekspresi menjadi hal yang mutlak dalam upaya mendukung diplomasi publik. Pameran Buku Frankfurt merupakan kesempatan strategis dan pengakuan yang penting bagi Indonesia, tidak hanya mengingat keterkenalan Indonesia sebagai negara kepulauan yang besar dengan penduduk yang padat di dunia, serta ‘big brother’ di kawasan Asia Tenggara, namun juga pengakuan terhadap karya anak bangsa di tingkat internasional.

Di sinilah, acara seperti Pameran Buku Frankfurt menjadi sangat penting, karena pameran seperti ini merupakan kesempatan yang bergengsi untuk memperkenalkan karya para penulis Indonesia dan karya anak bangsa di bidang lainnya kepada masyarakat internasional. Lebih jauh, secara strategis pameran ini juga membidik para penerbit internasional untuk ikut mempromosikan karya unggulan anak bangsa. Diplomasi publik memerlukan banyak kegiatan seperti ini untuk memperkenalkan dan mempromosikan Indonesia secara berkelanjutan. Satu hal yang penting, kegiatan seperti ini juga memberikan kesempatan, kehormatan, dan kebebasan bagi Indonesia untuk memulihkan citra bangsa, khususnya lewat kata, rasa, dan rupa, dengan karya dan pesan yang lebih positif, bersahabat, berwarna, dan memukau tentang Indonesia.