Membela Tuhan atau Membela Manusia?

    878

    Lagi dan lagi media online kembali diramaikan oleh kasus penistaan agama. Tak habis pikir saya, mengapa orang Indonesia tertarik betul mempersoalkan agama, menjadikan agama sebagai bahan omongan dan obrolan di media sosial (bahkan dengan komentar negatif).

    Belakangan yang menjadi viral adalah kasus  dugaan penistaan agama yang menimpa Sukmawati Sukarnoputri dan juga Gus Muwafiq. Sukmawati dituduh menistakan agama karena membandingkan Nabi Muhammad dengan Soekarno, sedangkan Gus Muwafiq dituduh menistakan agama karena tidak percaya mukjizat Nabi yang mengeluarkan cahaya saat masih bayi dan mengatakan bahwa Rasulullah pernah kena sakit mata (rembes) di waktu kecil.

    Kasus Sukmawati dan juga Gus Muwafiq direspon oleh ormas Front Pembela Islam (FPI) dan ormas Islam lainnya, seperti Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), dengan menyelenggarakan demo besar-besaran sembari mengutuk keduanya. Beberapa ormas-ormas Islam dengan lantang mengutuk keduanya dan menyebut mereka sebagai pembela Rasulullah, Muhammad.

    Aksi demonstrasi pun dilakukan, dan para “pembela Nabi Muhammad” tersebut  mulai melakukan berbagai propaganda dan juga orasi untuk menindak tegas Gus Muwafiq dan Sukmawati. Klarifikasi dari Sukmawati dan juga permohonan maaf yangdisampaikan oleh Gus Muwafiq, tak digubris sama sekali.  Dari sini publik mulai beropini bahwa keduanya dikriminalisasi karena adanya dendam politik dan perbedaan haluan antara Nahdlatul Ulama (NU), FPI, dan ormas Islam lainnya.

    ****

    Belakangan banyak ormas Islam yang melakukan berbagai aksi yang meresahkan publik, karena merasa bahawa kelompok mereka adalah kelompok yang membela ajaran Tuhan dan juga nabi Muhammad.  Dengan membawa nama Tuhan, mereka merasa aktivitas mereka selama telah terlegitimasi sebagai sebuah kebenaran, karena mereka merasa sebagai pembela ajaran Ilahi.

    Di media sosial pun banyak orang yang berkomentar kasar dan keras karena mereka merasa harus membela Tuhan dan ajaran Islam. Tak ayal debat kusir hingga kata-kata kasar dilontarkan dalam komentar medsos, hanya karena merasa dirinya telah melaksanakan kebenaran dan membala agama mereka. Sikap besar kepala dari sekelompok orang yang merasa diri mereka sebagai pembela Tuhan inilah yang dahulu pernah dikritik oleh almarhum Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

    Tuhan Tidak Perlu Dibela

    Banyak sekali Kata-kata almarhum Gus Dur yang kontroversial sekaligus penuh hikmah. Kadang  Kata-katanya tidak harus ditangkap secara harfiah, namun patut direnungkan.  “Tuhan tak perlu dibela” merupakan kata-kata yang simpel, namun memiliki makna yang dalam. Kalimat tersebut ditujukan untuk kelompok Muslim fundamentalis yang bersikap keras dan selalu berdalih membela Tuhan dalam setiap aksinya.

    Bagi Gus Dur, bukan kita yang membela Allah, tapi Allah lah yang kita harap pembelaannya di akhirat nanti, sehingga di bumi ini manusia harus hidup baik agar mendapat pertolongan dan ampunan Tuhan. Mengklaim sebagai ‘pengacara Allah’ adalah sia-sia. Bagaimanapun juga hakikatnya Allah Maha Kuasa, biar tak dibelapun, Allah sudah Maha Kuasa dan Maha Besar.

    Saya pernah membaca sebuah riwayat, bahwa Nabi Muhammad melarang mengucapkan “as-salamu ‘alallah” yang artinya adalah “semoga keselamatan untuk Allah”. Nabi Muhammad menegaskan bahwa Allah adalah As-Salam alias keselamatan itu sendiri, sehingga tak perlu manusia mendoakan keselamatan bagi Tuhan Allah.

    Walaupun tujuan para sahabat Nabi itu baik, namun hal itu mengurangi keagungan Allah, seolah-olah Allah membutuhkan keselamatan dan doa keselamatan dari para hamba-Nya. Padahal Tuhan Allah lah yang memiliki sifat Maha Pemberi Keselamatan.

    Oleh sebab itu, ucapan “as-salamu alallah” adalah ucapan terlarang karena mengurangi kewibawaan Allah. Namun lucunya, 1000 tahun kemudian muncul kelompok yang mengatakan bahwa mereka adalah pembela dan penyelamat Allah.

    Memang dalam surah Muhammad ayat 7 ada kata “tanshurullaahu”, yang makna literalnya adalah ‘menolong Allah’. Namun, apakah benar Allah butuh ditolong? Jika kita pakai ilmu logika, maka menolong Allah sama dengan Allah membutuhkan pertolongan dari sosok yang lain. Hal ini berarti menunjukkan Allah bersifat butuh pada makhluknya dan ia bersifat lemah. Naudzubillah.

    Ayat tersebut tidak boleh dipahami secara harfiah, karena jika kita fahami secara literal, maka kita akan kufur terhadap Tuhan. Makna “tanshurullaahu” di sini lebih tepatnya menolong jalan yang telah Allah berikan melalui risalah yang disampaikan-Nya kepada Nabi Muhammad. Secara tidak langsung, seorang Muslim dituntut untuk menolong nabi Muhammad bukan Allah. Bagaimanakah cara menolongnya? Yaitu menolong jalan Islam. Islam berarti: keselamatan, perdamaian, kepatuhan pada Tuhan, kesucian/kebersihan. Jadi, Allah menyuruh manusia untuk membumikan ajaran luhur dari agama Islam.

    Membela Manusia Lemah Sama Dengan “Membela Tuhan”

    Dalam sebuah riwayat hadits, Allah pernah berfirman: “Hai Anak Cucu Adam, Aku sakit tetapi kamu tidak menjenguk-Ku”. Lalu berkata (Anak Cucu Adam): “Ya Tuhan, bagaimana aku menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?”

    Allah menjawab: “Apakah engkau tidak mengetahui, sesungguhnya ada hamba-Ku si fulan sedang sakit, tetapi engkau tidak menjenguknya. Tidakkah engkau tahu sesungguhnya ketika engkau menjenguknya Aku pun berada di sisinya”?

    Allah kembali berfirman: “Hai anak cucu Adam, Aku kelaparan tetapi engkau tidak memberi-Ku makan”. Menjawab (Anak cucu Adam): “Ya Tuhan kami, bagaimana aku memberi-Mu makan sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?”

    Allah menjawab: “Apakah engkau tidak mengetahui sesungguhnya  hamba-Ku si Fulan sedang ditimpa kelaparan tetapi engkau tidak memberinya makan. Tidakkah engkau tahu sesungguhnya ketika engkau memberinya makan di sana juga ada Aku?”.

    Keudian Allah berfirman: “Hai anak cucu Adam, Aku haus tetapi engkau tidak memberi-Ku minum”. Menjawab (Anak Cucu Adam): “Ya Tuhan kami, bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah menjawab: “Engkau menegtahui hamba-Ku meminta minum kepadamu tetapi tidak engkau berikan kepadanya, tidakkah engkau tahu ketika engkau memberinya minum di sana pun ada Aku?”

    ****

    Dari kisah di atas bisa dipahami secara jelas, bahwa dengan membela manusia yang lemah dan membutuhkan, maka itu sama dengan “membela Allah”. Tuhan tak perlu dibela dengan demonstrasi anarkis, caci maki, atau dengan parang (kekerasan). Tuhan menghendaki agar manusia menjaga bumi dengan rukun dan tentram tanpa berbuat kerusakan.

    Orang yang menyebarkan dan mempertahankan kedamaian, cinta kasih, keselamatan, toleransi demi keharmonisan antara sesama manusia berarti telah menolong agama yang dibawa Nabi Muhammad.

    Dakwah Islam yang sejati adalah mengangkat panji kemanusiaan dan menebar kasih bagi manusia tanpa terkecuali.  Cara-cara kekerasan sama sekali tidak dibenarkan dalam agama Islam, apalagi dengan intimidasi. “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

    Intinya, membela dan menolong Islam pada hakikatnya adalah bukan menolong Tuhan, Tuhan Allah tak perlu bantuan, mengutip kata Gus Dur: “Tuhan tak perlu dibela, Dia sudah Maha Segalanya , belalah mereka yang tertindas “.