Kreativitas dan Kompetisi adalah Inti dari Kapitalisme

142
Source: Peshkova / shutterstock

Kreativitas dan kompetisi merupakan hal yang sangat penting untuk mendorong kemajuan di dalam sistem kapitalisme. Melalui kreativitas dan kompetisi, setiap para pelaku usaha akan berlomba-lomba untuk membuat produk yang terbaik untuk memberi manfaat bagi para konsumennya.

Namun, bagi para pengkritik kapitalisme, kompetisi kerap disandingkan dengan kekejaman dan dehumanisasi manusia. Kompetisi dianggap sebagai sesuatu yang hanya akan mendorong sikap egois dan akan membuat seseorang melupakan kebaikan bersama karena setiap individu hanya akan memikirkan dirinya sendiri.

Topik inilah yang menjadi bahasan dari artikel yang ditulis oleh Richard M. Ebeling yang dipublikasikan oleh Foundation for Economic Education (FEE) yang berjudul “Creativity and Competition Are the Heart of Capitalism.” Ebeling sendiri adalah seorang penulis dan tokoh Mazhab Ekonomi Austria.

Ebeling mengawali artikelnya dengan menulis bahwa selama sumber daya dan posisi sosial tertentu bersifat terbatas dan langka, maka kompetisi akan selalu hadir di dalam masyarakat manusia. Pertanyaan besar yang harus dijawab tentunya adalah, “bagaimana kita dapat menentukan siapa memproduksi apa dan untuk siapa, dan bagaimana cara posisi sosial di dalam masyarakat dapat diisi dan ditentukan?”

Sepanjang sejarah manusia, jawaban atas pertanyaan adalah melalui pemaksaan dan penaklukan. Mereka yang memiliki kekuatan fisik dan kecerdasan dapat memanipulasi orang lain dan menggunakan kemampuan mereka yang superior untuk mendapatkan posisi sosial dan sumber daya secara paksa.

Hampir seluruh kompetisi yang terjadi di masa lalu adalah kompetisi untuk mendapatkan kekuatan dan posisi politik. Mereka yag memiliki kedekatan dengan raja dan penguasa, akan mendapatkan hak untuk mengkontrol penduduk dan sumber daya di area tertentu. Hampir seluruh pilihan, baik pilihan pekerjaan atau tempat tinggal, ditentukan oleh mereka yang mempunyai kuasa.

Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi tersebut menjadi berubah. Melalui perdagangan dan keterbukaan ekonomi, manusia menjadi semakin memiliki kebebasan untuk menentukan nasib mereka masing-masing, dan telah membawa kemakmuran dan mengangkat jutaan orang dari kemiskinan.

Individu tidak lagi dipaksa bekerja untuk kaum artistokrat tertentu seperti masa lalu. Ia memiliki kebebasan untuk memproduksi barang yang ia inginkan, dan memilih pekerjaan sesuai dengan yang dikehendakinya.

Melalui kompetisi, individu yang memiliki sumber daya dipaksa untuk mengambil resiko dan menggunakan sumber daya yang dimilikinya untuk memproduksi barang dan produk yang dapat membawa manfaat bagi masyarakat. Konsumen dalam hal ini menjadi penentu produsen mana yang dapat bertahan karena mereka membuat produk yang dapat membawa manfaat.

Produksi dalam hal ini tidak lagi menurut kepada para bangsawan dan orang-orang yang dekat dengan penguasa. Kegiatan produksi harus memenuhi kebutuhan dan keinginan publik, karena bila ada produsen yang tidak memenuhi apa yang publik inginkan, ia akan tersingkir oleh para produsen lain.

Kapitalisme, dalam hal ini, memberikan kerangka bagaimana kompetisi tersebut dilakukan. Kapitalisme, ditulis oleh Ebeling, adalah ide yang sangat revolusioner, karena berlandaskan pada gagasan bahwa setiap individu memiliki hak yang inheren dan mutlak pada dirinya sendiri. Mereka merupakan pemilik dari dari dirinya sendiri dan bukan properti milik orang lain, dan memiliki kebebasan untuk melakukan kegiatan ekonomi yang dianggap dapat membawa manfaat bagi dirinya.

Salah satu prinsip etis yang sangat penting dari kapitalisme adalah, kompetisi yang dilakukan para pelaku usaha harus berdasarkan kesukarelaan dan tidak bisa dalam bentuk pemaksaan. Seorang pelaku usaha, tidak bisa meminta otoritas untuk menutup paksa pesaingnya untuk menghindari kompetisi.

Selan itu, mengutip ekonom kelahiran Austria peraih Hadiah Nobel tahun 1974, F. A. Hayek, Ebeling menulis bahwa kompetisi juga merupakan salah satu cara dan prosedur untuk mengetahui siapa produsen yang terbaik yang dapat memuaskan publik dan apa yang publik inginkan di masa depan.

Apa barang-barang baru yang konsumen inginkan? Siapa yang bisa membuat dan mengirim barang-barang tersebut dengan cara yang paling efisien? Siapa kompetitor yang paling baik di antara produsen yang lainnya? Apa cara yang terbaik untuk memanfaatkan sumber daya tertentu agar dapat membawa manfaat yang paling besar bagi masyarakat?

Pertenyaan-pertanyaan tersebut tidak akan bisa dijawab tanpa adanya kompetisi yang bebas antar sesama produsen dan pelaku ekonomi. Hanya melalui kompetisi yang bebas lah, kita dapat mengetahui apa yang konsumen sebenarnya inginkan, produsen mana yang terbaik untuk membuat produk tertentu, serta cara untuk memanfaatkan sumber daya tertentu yang terbaik agar dapat membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat

Sebagai penutup, kompetisi di dalam kapitalisme, yang bertumpu pada kesukarelaan dan bukan pada pemaksaan, telah menggantkan bentuk kompetisi sebagaimana yang dilakukan oleh para bangsawan dan penakluk di masa lalu, yang mendapatkan harta dan keuntungan melalui pemaksaan dan perampasan dari orang lain. Melalui sistem kapitalisme, seseorang hanya bisa mendapatkan keuntungan dan kekayaan apabila ia bisa mengunakan kreativitasnya untuk berinovasi dan membuat produk yang dapat membawa manfaat bagi orang lain.

 

Artikel ini diambil dari link https://fee.org/articles/creativity-and-competition-are-the-heart-of-capitalism/ Diakses pada 5 September 2020, pukul 01.10 WIB.