Kisah Seru dari MBCI IV

392

Mises Bootcamp kembali hadir di Indonesia. Mises Boot Camp Indonesia (MBCI) adalah acara yang diselenggarakan oleh SuaraKebebasan.org, sebuah workshop  yang berlangsung selama 2 hari (Sabtu-Minggu). MBCI merupakan acara yang didedikasikan kepada Ludwig Von Mises, tokoh besar ekonomi mazhab Austria. Dan tentu saja salah satu inti dari MBCI adalah memperkenalkan dan mendiskusikan gagasan ekonomi mazhab Austria, khususnya mengenai peran pasar bebas yang kerap isalahpahami. Tahun ini (2019), Suara Kebebasan telah menyelenggarakan MBCI yang ke-4.

MBCI IV diadakan di Jakarta pada 24-25 Agustus 2019, di Fave Hotel Cideng, Jakarta Pusat. Untuk MBCI tahun ini disambut dengan antusiasme yang tinggi dari berbagai kalangan, baik akademisi, mahasiswa, karyawan, pegawai negeri sipil, pengusaha muda,  bahkan ibu rumah tangga. Tahun ini peserta yang hadir sebanyak 22 orang, lebih banyak dari tahun lalu (sekitar 15 orang peserta) dari berbagai daerah. Para peserta sangat antusias untuk mengenal lebih dalam ide-ide kebebasan yang sedang berkembang di Indonesia.

Hari pertama, para peserta sudah mulai mengisi ruang acara dari pagi hari, ini menunjukkan antusias para peserta acara cukup tinggi. tidak hanya dari Jakarta dan sekitarnya, tak tanggung-tanggung para peserta MBCI 4 juga hadir dari kota Bandung, Surabaya, bahkan dari Provinsi Lampung. Mereka mengaku telah membaca info tentang acara MBCI 4 dan ingin ikut nimbrung bareng membahas ide-ide kebebasan dan berdiskusi tentang ekonomi pasar bebas.

Acara pembukaan dipandu oleh Muhammad Iksan dan Adinda Tenriangke Muchtar mengenai apa itu ide kebebasan, ekonomi pasar bebas, dan sudut pandang mazhab Austria mengenai isu-siu yang berkembang di Indonesia. Materi pertama  adalah mengenai dasar-dasar falsafah ekonomi mazhab Austria, yang dibawakan oleh “kepala sekolah” MBCI, yaitu Djohan Rady. Djohan dengan terampil dan lugas menjelaskan mengenai sejarah dan ide utama pemikiran mazhab ekonomi Austria.  Sebelum muncul nama-nama seperti Carl Menger, Ludwig Von Mises, dan  Friedrich Hayek, pemikiran skolastik yang berkembang di Universitas Salamanca, Spanyol, pada abad ke-15 menjadi cetak biru bagi kelahiran mazhab ekonomi Austria.

Para pemikir Salamanca berusaha mengobservasi mengenai hukum-hukum ekonomi, seperti hukum permintaan dan penawaran, inflasi, nilai tukar mata uang asing, dan lain sebagainya. Joseph Scumpeter menyebut para ekonom di Salamanca sebagai kelompok ekonom pertama di dunia. Tradisi pemikiran tersebut kemudian berkembang sampai ke Perancis. Liberalisme Prancis yang menjunjung asas individualitas  kemudian mengembangkan sebuah gagasan kebebasan ekonomi (demokrasi ekonomi). Individu pada dasarnya memiliki hak untuk kebebasan dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas tindakan-tindakan yang dipilih oleh dirinya sendiri.

Berbeda dengan mazhab ekonomi lainnya, bahkan berbeda dengan ciri ekonomi sosialis, mazhab Austria menganut paham prakseologi, yaitu melihat subjektivitas tindakan manusia (human action) sebagai objek kajian yang paling utama dari studi ekonomi. Nilai adalah valuasi subjektif yang diberikan seseorang terhadap means (barang/jasa) secara relatif terhadap kegunaan means tersebut dalam memenuhi tujuan-tujuan yang ingin dicapai orang itu.

Setelah Djohan mempresentasikan materinya, Djohan juga memutarkan sebuah film pendek tentang efektivitas pembangunan oleh negara dan pembangunan oleh swasta. Ini dalam video tersebut, pembangunan oleh negara sangat tidak efisien, sebab negara mempertimbangkan sebanyak-banyaknya jumlah pekerja dan mempertimbangkan kegunaan pembangunan tersebut pada masyarakat. Misalnya, pembangunan rel kereta api, pemerintah membutuhkan kajian mendalam dan bertele-tele dalam membangun rel tersebut.

Sedangkan pembangunan yang diurus oleh swasta berpijak pada untung-rugi, tidak harus mempertimbangkan secara bertele-tele. Pengusaha akan membangun suatu proyek yang efisien, menguntungkan, dan dibutuhkan banyak orang  sehingga akan menguntungkan juga baginya. Setelah menonton film pendek, para peserta kemudian berdiskusi singkat tentang bagaimana ekonomi Austrian memandang pemerataan, kemiskinan, serta peran negara.

Djohan sekali lagi menekankan peran swasta dan mekanisme pasar sebagai salah satu alokasi kemakmuran yang efisien ketimbang subsidi dan juga bantuan-bantuan dari pemerintah. Justru intervensi dari pemerintah terbukti membawa acaman dalam ekonomi, seperti di Venezuela atau krisis 1998, dimana pasar dikekang oleh kroni-kroni Soeharto.

Acara selanjutnya kemudian dipandu oleh Muhammad Iksan, disini para peserta yang telah mendapat uraian dan materi mengenai prinsip pasar bebas dan ekonomi Austria, diajak untuk memikirkan isu-isu populer dan membandingkannya dari sudut pandang Austrian Economic. Para peserta kemudian menjabarkan isu seperti intervensi pemerintah terhadap tarif dasar bawah pesawat terbang, yang berimbas pada tingginya harga tiket untuk penerbangan dalam negeri. Selain itu, peserta juga mengkritisi intervensi pemerintah terhadap tarif ojek online yang dikeluhkan oleh konsumen karena harga yang naik dan ketiadaan promo yang berimbas pada naiknya tarif jasa antar (paket).

Diskusi dilanjutkan oleh Denni Puspa Purbasari mengenai siklus bisnis (fluktuasi) dalam berbagai mazhab ekonomi. Denni membahas tentang isu-isu ekonomi di Indonesia khususnya tentang pertumbuhan GDP, Inflasi dan kebijakan pemerintah. Ia juga memaparkan materi dengan sangat menarik dan menjelaskan suatu masalah yang problematik, seperti mengenai kegagalan pasar dan intervensi negara, pendapat Keynesian, meyakini jika pasar bebas dapat mengalami kegagalan tanpa intervensi negara. Sebaliknya, mazhab Austria meyakini bahwa kegagalan pasar justru dipicu oleh intervensi pemerintah dalam sektor ekonomi.

Pada sore harinya, para peserta beristirahat sembari menikmati oleh makanan ringan dan juga buku-buku gratis yang didapat dari acara MBCI. Sepanjang acara istirahat mereka saling berdiskusi tentang materi yang telah dibahas di forum dan dengan semangat menghampiri para pemateri dan panitia untuk saling mengobrol santai. Di malam harinya, acara diisi oleh Nanang Sunandar dari Indeks.

Nanang membahas kapitalisme dan menjelaskan secara reflektif mengenai keunggulan kapitalisme sebagai sistem yang demokratis dan dinamis, serta membantah tuduhan bahwa kapitalisme tidak bermoral. Kapitalisme, menurut Nanang, sangat bermoral sebab landasan utamanya adalah setiap individu diakui hak kepemilikannya dan juga dihargai hasil kerjanya. Banyak tuduhan miring terhadap kapitalisme tidak lebih dari sekedar isapan jempol belaka.

Hari kedua, pemateri diisi oleh Imantaka Nugraha, Taka (panggilan akrabnya). Taka menjelaskan soal uang dan juga uang virtual (cryptocurrency) yang sedang populer belakangan. Ia menyayangkan uang yang hadir di masyarakat secara sukarela akibat mekanisme pasar, justru kini dimonopoli oleh negara dan masyarakat “dipaksa” untuk menerima selembar kertas atau logam yang dicap dan didistribusikan oleh otoritas tertentu yang diberikan hak monopoli oleh negara.

Menurut Hayek, dalam suatu sistem dimana penyediaan uang dimonopoli oleh hanya satu pihak, sang penyedia uang akan memiliki kecenderungan memaksimalisasi seigniorage-nya pada tingkat inflasi yang tidak sedikit maupun stabil. Sebaliknya, adanya denasionalisasi/privatisasi yang akan memunculkan persaingan mata uang akan mengurangi tingkat maksimalisasi seigniorage oleh sang penyedia uang. Bahkan, dalam kondisi dimana ada persaingan sempurna, seigniorage akan hilang sama sekali. Oleh karena itu, persaingan uang akan menghasilkan kuantitas uang yang optimal dan harga yang stabil.

Materi terakhir di hari kedua diisi oleh Vincent Ricardo. Vincent adalah tokoh YouTuber populer di Indonesia yang cukuo digemari oleh masyarakat. Vincent kemudian mengajak para peserta untuk mempopulerkan ide-ide kebebasan melalui media sosial. Media sosial yang berkembang saat ini, seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube telah memberi pengaruh yang besar bagi masyarakat dan sangat baik jika media tersebut dijadikan “senjata” untuk memperjuangkan gagasan kebebasan dan demokrasi.

Di akhir kegiatan MBCI IV 2019, panitia meminta para peserta memberikan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan selama dua  hari tersebut. Misalnya, tentang apa yang disukai, apa masukan untuk perbaikan ke depan, saran untuk kegiatan serupa ke depan, serta ide para peserta untuk ikut menyebarkan gagasan kebebasan bersama Suara Kebebasan. Selain itu, para peserta juga bersedia untuk ikut bergabung dalam grup Whatsapp Suara Kebebasan agar bisa saling berkomunikasi dan bersinergi, serta berkenalan dengan para pendukung kebebasan di Indonesia. Salam Kebebasan!