Ketika Perempuan Teralienasi oleh Kaumnya Sendiri

    408

    Sebut saja namanya Dewi, seorang perempuan cantik yang memiliki pandangan luas. Berbeda dengan teman sejawatnya, Dewi adalah perempuan mandiri dan fokus untuk meniti karier tanpa bergantung pada laki-laki.

    Ia sudah bertekad untuk fokus menata masa depannya. Kariernya di perusahaan ternama cukup cemerlang. Pendapatannya tinggi bahkan di atas upah minium pekerja laki-laki di kota tempat ia tinggal. Dari pekerjaannya tersebut, Dewi mampu membeli segala yang ia butuhkan dengan keringatnya sendiri.

    Ketika hari raya Lebaran tiba, sama seperti orang lain, dirinya pergi ke peraduan di kampung halamannya, dengan rasa kangen suasana kampung dan bakti pada orang tua. Dewi ingin membelikan hadiah untuk membahagiakan ayah dan ibundanya. Berbagai macam pakaian, perhiasan, dan perabotan serba baru di berikan Dewi pada orang tuanya. Namun, Dewi heran melihat wajah ibunya tampak tak terlalu terkesan dengan apa yang ia berikan.

    “Terima kasih kamu sudah berikan Ibu segala macam barang ini. Tapi Ibu akan lebih bahagia jika kamu lekas menikah, nak” ucap sang ibu. “Tetangga lainnya sudah membicarakan kamu yang bukan-bukan. Ibu takut jika kamu jadi bahan gosip orang-orang di sini karena belum memiliki suami,” kata sang ibu yang berharap agar si anak segera menikah.

    Tentu saja, ucapan sang ibu membuat Dewi terkejut sekaligus sedih. Bagaimana tidak, dirinya yang sudah berusaha sedemikian rupa menjadi sukses dan berhasil di kota seberang justru tak dianggap oleh orang tua yang dicintainya. Lebih terkejut lagi ketika orang tuanya mendesak agar dirinya menikah dengan pria di desanya, seorang duda dengan dua anak.

    Dewi mungkin berkecil hati, tapi ia maklum bagaimanapun orang tua pasti menginginkan dirinya memiliki keturunan yang menghibur mereka. Yang membuat Dewi tak habis pikir adalah, para tetangga kampung yang mencibir dan menggosipi dirinya. Seolah perempuan yang tidak menikah adalah aib, seolah perempuan yang belum meniti karier dianggap sebagai bukan perempuan baik-baik.

    *****

    Cerita di atas adalah sebuah ilustrasi tentang perempuan masa kini. Meskipun di zaman modern telah berhasil mendapatkan haknya untuk bekerja, meniti karier, dan juga masuk ke dalam dunia politik, namun citra perempuan yang erat dengan dapur, sumur, dan kasur nampaknya masih tak berubah.

    Belakangan, lembaga Riset Danareksa telah melakukan riset mengenai partisipasi perempuan dalam ranah sosial. Lembaga riset tersebut menyebut bahwa partisipasi perempuan dalam sektor ekonomi dewasa ini cukup meningkat. Dengan kata lain, peran perempuan dalam pertumbuhan ekonomi di tengah-tengah krisis pandemi sudah sangat baik.

    Pada bulan Agustus 2020, partisipasi perempuan dalam dunia kerja meningkat hingga 53,13 persen dan bisa dikatakan baik. Karena pada tahun 2019, partisipasi perempuan hanya berkisar 50 sekian persen. Dalam pertumbuhan UMKM pun, peran perempuan juga tak bisa diremehkan (SeputarTangsel.com, 16/4/2021).

    Meskipun terjadi peningkatan peran perempuan dalam sektor ekonomi, namun stereotipe perempuan sebagai manusia nomor dua tak bisa lenyap begitu saja. Meskipun belakangan banyak aktivis perempuan berusaha untuk melindungi kaum hawa dalam ranah hukum (dengan didesaknya RUU Perlindungan Kekerasan Seksual), namun RUU PKS sendiri tidak berjalan mulus begitu saja.

    Penulis sendiri, sebagai seorang laki-laki, melihat masalah kesenjangan gender yang masih mengakar di masyarakat kita bukan hanya karena persoalannya ada pada kaum pria yang masih berpikiran ‘feodal’, tetapi hambatan dari gerakan emansipasi dan kesetaraan gender juga disebabkan oleh pihak perempuan. Sebagian perempuan juga turut memiliki andil dalam melanggengkan budaya patriarki dan terjebak dalam alienasi “kodrat” bahwa dirinya lebih rendah dari laki-laki.

     

    Alienasi Perempuan dan Tantangan ke Depan

    Beberapa waktu yang lalu dalam akun Facebook pribadinya, akademisi dan Dosen Universitas Paramadina, Luthfi Assyaukanie, menulis, “Musuh kebebasan perempuan adalah kaum perempuan sendiri. Saya perhatikan banyak sekali yang mencaci-maki Yuni Shara justru para perempuan. Berat sekali perjuangan kaum perempuan” (Assyaukanie, 2021).

    Komentar ini dilontarkan sebagai tanggapan atas nyiyiran para netizen perempuan yang mengkomentari cara berpakaian seorang artis perempuan yang dianggap tidak senonoh. Padahal, pakaian yang dikenakan oleh artis tersebut adalah kain ulos, yaitu pakaian adat masyarakat Batak.

    Apa yang disinggung oleh Luthfi adalah dilema yang dihadapi dalam memperjuangkan kebebasan perempuan dari sistem yang pincang. Di satu sisi, kaum perempuan menginginkan kesetaraan dan hak sosial yang sama dengan laki-laki. Namun di sisi lain, perempuan juga yang menjadi menghalangi kebebasan tersebut.

    Ini yang menjadi salah satu persoalan kenapa diskursus kesetaraan gender di Indonesia masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat, termasuk oleh perempuan. Jika kita menilik cerita di awal, sosok Dewi adalah korban dari sistem patriarki yang sebenarnya juga dilanggengkan oleh sebagian kaum perempuan itu sendiri.

    Di masyarakat kita, walaupun seorang perempuan sudah memiliki karier yang tinggi namun jika ia belum menikah, tetap saja di cap buruk. Ada pula kejadian seorang istri bekerja sebagai TKW ke negeri seberang, lalu suaminya berselingkuh dengan perempuan lain, maka masyarakat kebanyakan menyalahkan si istri yang dianggap tak mampu mengurus suami dan keluarga.

    Dalam film pendek “Tilik”, misalnya, sekelompok ibu-ibu yang “didalangi” Bu Tejo menggosipi Dian, yang dianggap perempuan bermoral buruk karena ia tak berjilbab, belum menikah, bekerja di kota, dan sebagainya. Di sisi lain, Bu Tejo justru membanggakan suaminya yang banyak uang dan menyayangi dirinya sebagai istri.

    Dari film Tilik bisa kita ambil pelajaran bahwa masih banyak perempuan-perempuan di luar sana yang terjebak dan teralienasi oleh budaya patriarki yang justru melemahkan perjuangan perempuan dalam membela keadilan gender. Cita-cita kemerdekaan perempuan rasanya masih jauh untuk terwujud jika perempuan itu sendiri masih banyak yang teralienasi dalam kungkungan budaya tradisional yang bias gender.

    Ini menjadi catatan bagi para pegiat kebebasan dan kesetaraan gender, bahwa modal awal untuk menciptakan perubahan di mulai dari edukasi terhadap laki-laki maupun perempuan. Revolusi feminis akan sia-sia jika masih banyak laki-laki maupun perempuan yang tidak familiar dengan gagasan emansipasi dan kesetaraan.

     

    Referensi

    Facebook Luthfi Assyaukanie. Diakses dari https://www.facebook.com/1050487418/posts/10221880004843189/?d=n pada 18 April 2021, pukul 11.57 WIB.

    https://seputartangsel.pikiran-rakyat.com/bisnis/pr-141782143/riset-danareksa-peran-perempuan-dalam-sektor-perekonomian-semakin-meningkat Diakses pada 19 April 2021, pukul 00.43 WIB.