Ketika Gus Dur Bicara Soal Ekonomi dan Pasar Bebas

    483

    Mungkin banyak orang mengetahui bahwa Gus Dur adalah seorang pegiat kebebasan dan demokrasi. Baginya, kebebasan sipil merupakan harga mati yang harus dibela dan dipertahankan. Ketika orang-orang mengutuk Salman Rusdhie dan bukunya Satanic Verses, dengan santai Gus Dur meminta pengkritik untuk membaca buku tersebut dengan tenang, atau mengabaikannya sama sekali.

    Ketika komunitas Muslim Ahmadiyah digugat, Gus Dur menegaskan bahwa dirinya sampai mati tetap membela Ahmadiyah dan kebebasan beragama. Begitu juga langkah politiknya ketika menjadi presiden, dengan menghapus Kementerian Penerangan sehingga pers menjadi bebas dan informasi secara objektif bisa diterima oleh masyarakat.

    Penulis sendiri mengenal Gus Dur lewat layar televisi sejak penulis masih kecil. Tentu saja, tokoh gaek bertubuh tambun dengan suara khas yang selalu mengundang keceriaan orang-orang dis ekelilingnya membuat penulis merasa penasaran mengenai sosok yang satu ini. “Apa sih hebatnya dia?” pikir penulis.

    Nampaknya, kita memang harus angkat topi untuk Gus Dur. Sebagaimana ditulis oleh Greg Barton dalam buku biografi Gus Dur, The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, Gus Dur sejak kecil sudah berkenalan dengan berbagai kelompok dan juga kebudayaan (Barton, 2004).

    Beliau adalah seorang pembaca buku yang baik sekaligus penikmat seni. Sejak melanjutkan studi di Yogyakarta, Gus Dur sudah membaca karya-karya Lenin dan Karl Marx seperti “Whats to be Done” dan tentu saja “Das Kapital.”

    *****

    Bagi penulis, sosok Gus Dur ini adalah sosok yang sulit ditebak dan dideskripsikan. Mungkin pandangan ini juga disepakati oleh beberapa tokoh yang sempat dekat dengan dirinya.

    Begitu juga dengan pertanyaan penting lainnya yang agak sulit dijawab, bagaimana arah pandangan Gus Dur? Apakah liberal? Aosialis? Atau murni Islami. Mengenai hal ini, penulis bisa pastikan tidak ada jawaban mutlak.

    Bagi seorang pejuang kebebasan, mungkin Gus Dur adalah liberal sejati. Sementara itu, bagi kelompok kiri, mungkin Gus Dur dipandang sebagai seorang sosialis murni, dan di kalangan para santri dan kelompok Islam, mereka tentu dengan bangga mengenalkan Gus Dur sebagai cendekiawan Muslim sejati.

    Penulis tidak menjawab iya atau tidak. Jawaban hitam atau putih dirasa terlalu sempit untuk mendeskripsikan Gus Dur yang begitu kompleks dan luas cakupan cakrawala pemikirannya. Di sini, penulis hanya berusaha untuk melihat pandangan Gus Dur mengenai ekonomi kerakyatan dan juga sistem pasar bebas.

    Mungkin beberapa tokoh, menganggap bahwa Gus Dur seorang pembenci kapitalisme jika melihat kebijakan ekonomi politiknya yang “bandel” terhadap saran-saran yang diberikan oleh Bank Dunia. Atau, mereka menganggapnya demikian karena mereka melihat Gus Dur tumbuh dengan melahap habis karya-karya Marx-Engles-Lenin.

    Namun, asumsi demikian terlalu meggeneralisir, Jika kita membaca secara menyeluruh karya-karya Gus Dur, maka dapat dilihat mana sisi kapitalisme yang disepakati oleh Gus Dur, dan apa pandangan Gus Dur terhadap sistem ‘ekonomi kerakyatan’.

    *****

    Jika kita menelaah esai Gus Dur yang berjudul “Ekonomi, Kejujuran, Keterbukaan” dan “ Dasar-Dasar Ekonomi Rakyat”, maka terang dalam benak kita mengapa Gus Dur skeptis terhadap saran Bank Dunia dan IMF. Mungkin, kita harus memutar arah kepada konsepsi kebijakan yang terjadi pada masa-masa akhir Orde Baru, di mana poros utama ekonomi adalah konglomerasi dan pengusaha-pengusaha besar nasional yang mendapat suntikan dan fasilitas dari pemerintah.

    Orde Baru yang menjalankan konsep Kapitalisme Kroni telah menciptakan struktur “ekonomi semu”, di mana perputaran uang, proyek negara, dan juga dana berputar pada kaum elit yang dekat dengan penguasa. Sedangkan, bantuan-bantuan yang dikucurkan deras  untuk pembangunan dari lembaga ekonomi internasional tidak dapat dinikmati secara merata oleh pengusaha kecil.

    Gus Dur tidak ingin memulihkan ekonomi pasca krisis dengan mengulangi “perilaku yang sama”. Bantuan ekonomi yang ada harus digunakan untuk pemulihan ekonomi rakyat kecil, orang bawah dan UMKM yang terdiskriminasi oleh kapitalisme kroni. “Kalau selama ini politik ekonomi kita senantiasa menguntungkan usaha-usaha besar dengan segala fasilitas, jelas kita harus berani mengubah itu,” kata Gus Dur (Wahid, 2002).

    Jika kita renungkan secara seksama, sebenarnya konsepsi ini tidak bertentangan dengan kapitalisme pasar bebas. Pilar utama pasar bebas adalah terbukanya pintu dan peluang bagi setiap orang.

    Fasilitas-fasilitas ekonomi yang dikucurkan untuk kroni atau pengusaha yang punya ikatan politik justru bertentangan dengan kapitalisme dan pasar bebas. Diskriminasi ekonomi semacam itu akan membuat persaingan tidak sehat dan yang terjadi adalah monopoli dan  oligarki yang justru mendikte pasar.

    Peluang usaha dan penumbuhan usaha nasional harus dirasakan bagi setiap orang. Gus Dur seolah berkata bahwa jika fasilitas pemerintah hanya diberikan kepada segelintir orang, maka fondasi ekonomi tak ubahnya dengan jembatan bambu yang dibangun oleh Orde Baru. Karena itu menurut Gus Dur kalau toh ada bantuan dari pemerintah, maka bantuan itu juga harus diberikan kepada pengusaha nasional baik menengah atau kecil

    “UKM diberi rangsangan untuk maju melalui kredit berbunga rendah, perubahan-perubahan teknologi dalam produksi, perbaikan cara-cara pemasaran (termasuk kemasan) dan penciptaan jaringan pemasarannya sendiri.” Gus Dur menginginkan agar UKM diberikan kesempatan yang sama sehingga tercipta pasar yang stabil dan bersaing secara sehat.

    Dalam esainya, “Islam: Antara Birokrasi dan Pasar Bebas”, kita akan melihat bahw Gus Dur bukan anti terhadap pasar bebas. Proteksi pada UKM bukan berarti sifat pilih kasih negara yang memanjakan pelaku usaha, tetapi proteksi diberikan untuk menjaga agar para pegiat usaha kecil pasca krisis 98 dapat tetap berdiri dan mengembangkan usahanya menjadi lebih maju.

    Dalam esainya ini Gus Dur jelas menolak birokratisme dalam ekonomi, yang menurut Gus Dur menghambat perkembangan pasar bebas. Birokrasi ekonomi seperti yang dicontohkan oleh Soekarno dalam ekonomi terpimpin dan Orde Baru yang mengikat konglomerasi dalam lingkar istana jelas telah membuat sistem ekonomi menjadi lebih rumit. “Pasar bebas yang merupakan inti dari sistem ekonomi hanya akan terwujud tanpa terlalu besarnya birokrasi pemerintahan,” tandasnya (Wahid, 2002).

    Dengan melihat keterangan yang ditulis Gus Dur dalam esainya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Gus Dur tidak anti pada sistem kapitalisme (ekonomi pasar). Justru dengan merobohkan birokratisme dan oligarki pasar, Gus Dur menginginkan suatu sistem ekonomi yang adil bagi segenap pelaku usaha dan masyarakat. Bukan hanya kaum konglomerat yang diberi akses, tetapi pengusaha nasional mengah dan kecil juga harus diberdayakan agar iklim wirausaha berjalan dengan sehat.

    Gus Dur juga mengkritik campur tangan negara melalui birokrasi yang rumit dan berbelit. Hal ini dikarenakan praktik tersebut akan menyusahkan pertumbuhan iklim usaha dan campur tangan para birokrat dalam sektor ekonomi justru akan menghambat pasar bebas yang menjadi inti dari kemajuan ekonomi itu sendiri.

     

    Referensi

    Barton, Greg. 2004. The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid. Yogyakarta: LKIS.

    Wahid, Abdurrahman. 2002. Kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahman Wahid Selama Era Lengser. Yogyakarta: LKIS.