Kenyataan dan Dampak Positif Kapitalisme

    1593

    Kapitalisme kerap dianggap oleh sebagian orang sebagai sistem yang tidak bermoral dan anti sosial. Namun, perlu kita cermati kembali bahwa kapitalisme itu sendiri memiliki asas moral yang bernilai, sehingga selalu ada kualitas terkandung didalamnya.

    Pada dasarnya prinsip kapitalisme menuntut kebebasan individu, kepentingan pribadi, dan pasar bebas. Tiga prinsip dasar ini dikemukakan oleh Ayn Rand dalam bukunya berjudul Capitalism: The Unknown Ideal, yang dipublikasikan tahun 1970. Kebebasan individu, merupakan tiang pokok dari kapitalisme.

    Kebebasan individu ini adalah pengakuan hak bagi individu dalam berpikir bebas, berkarya, dan juga terlibat dalam kegiatan produksi. Prinsip ini akan berjalan dengan sendirinya apabila kebebasan individu dijalankan dengan baik dan benar. Pasar bebas juga menjadi prinsip dasar dari kapitalisme. Sebab, ia merupakan proses yang terus berkembang dan senantiasa menuntut yang paling rasional dan terbaik.

    Dengan begitu, kapitalisme telah membawa kemajuan secara luas terhadap kemakmuran dan standar hidup manusia bagi mereka yang selalu berusaha lebih dan mengembangkan kreativitas. Tanpa kita sadari kapitalisme mengajarkan untuk tidak mudah pasrah dan berusaha demi kemajuan sosial. Sebenarnya, hubungan antara motivasi individu dan kemajuan sosial tidaklah sejalan.

    Filsuf dan ekonom asal Skotlandia, Adam Smith (1723-1790), menjelaskan bagaimana kepentingan individu justru bisa menghasilkan kemajuan sosial yang saling menguntungkan (Smith, 1776). Ayn rand, penulis dan filsuf Amerika Serikat kelahiran Rusia (1905-1985), juga menyakini bahwa altruisme justru bisa menghasilkan kejahatan masyarakat (Rand, 1970).

    Inilah pentingan melihat motivasi yang benar-benar menginspirasi orang-orang dibawah kapitalisme atau sosialisme, dan melihat apa yang baik dan buruk dari keadaan sosial yang mereka hasilkan. Perlu diketahui, hubungan manusia di dalam kapitalisme bukan dibangun atas dasar paksaan tapi kesukarelaan.

    Tidak ada negara yang memerintahkan tindakan mereka. Kapitalisme memiliki kedewasaan dan kesadaran untuk meningkatkan kualitas diri dan bukan seperti bayi yang hanya berharap untuk dirawat dan menyusu. Mitos dan kesalahpahaman tentang kapitalisme terus berkembang seakan-akan menjadi dalang kemiskinan, tanpa mencari tahu dan menutup diri akan pengetahuan kapitalisme.

    Kapitalisme mampu menciptakan kebebasan dalam berbisnis dan dalam persaingan usaha. Dengan adanya persaingan usaha, kualitas dari produk dan jasa yang ditawarkan kepada pasar atau konsumen menjadi lebih baik.

    Dengan adanya sistem perdagangan bebas, setiap orang punya hak yang sama untuk mendapatkan keuntungan sesuai dengan kapabilitas masing-masing. Jika para pengusaha diberi kebebasan dalam berbisnis, kebebasan dalam mendapatkan keuntungan, serta kebebasan untuk bersaing, maka perputaran roda ekonomi juga semakin cepat. Hal itu akan membuat lapangan kerja menjadi luas, angka pengangguran ditekan, kesempatan untuk berkarya tidak dibatasi, serta banyak industri baru yang lahir dari kreativitas.

    Sistem kapitalisme dapat dianalogikan dalam sebuah kompetisi sepak bola. Masing-masing klub, tentunya berlomba-lomba menunjukkan keunggulan di setiap pertandingan agar mendapatkan gelar juara. Di dalam kompetisi, ada kesempatan yang sama untuk menjadi juara. Agar klub dapat menjadi juara, tentunya tak lepas dari usaha yang keras dalam kedisiplinan latihan, keterampilan mengolah bola (skill), dan kerja sama.

    Begitu pula dengan setiap para pelaku usaha. Bila mereka ingin menjadi pemenang dan mendapatkan pendapatan sebesar-besarnya di dalam kapitalisme, maka mereka harus mampu bekerja keras dan disiplin untuk membuat inovasi-inovasi baru yang bermanfaat bagi konsumen.

    Sebagai penutup, kapitalisme tidak semena-mena bersalah berdiri diatas keterpurukan sosial. Kapitalisme merupakan sistem yang menekankan pengelolaan modal secara individu untuk didistribusikan secara efektif dan efisien. Bila seseorang ingin berhasil di dalam kapitalisme, maka ia harus mampu untuk melihat peluang-peluang dan berkerja keras demi mencapai tujuannya tersebut.

     

    Referensi

    Smith, Adam. 1776. The Wealth Of Nations. London: W. Strahan and T. Cadell.

    Rand, Ayn. 1970. Capitalism: An Unknown Ideal. New York: New American Library.