Kenapa Memilih Menjadi Libertarian?

    1854

    Beberapa bulan yang lalu, seorang teman bertanya kepada saya, “Mengapa kamu memilih menjadi libertarian? Bukannya kalau jadi libertarian itu egois?”

    Pertanyaan seperti itu kerap saya dengar jika saya menyebut libertarianisme sebagai ideologi yang sangat cocok diterapkan Indonesia. Namun, ada orang yang pro dan kontra. Mereka berpendapat bahwa libertarianisme tidak sejalan dengan Pancasila.

    Mari memulai semua ini dari akar libertarianisme yang paling umum, yang hampir semua orang ketahui. Bahwa libertarianisme mempunyai tujuan untuk kebebasan individu, baik dari sisi politik dan ekonomi. Pengusung libertarian percaya pentingnya membangun budaya yang menghormati individu dan mengakui keunikan yang masing-masing dimiliki individu.

    Dari definisi di atas, nampak tidak ada hal spesifik yang menjadikan alasan ide libertarianisme sebagai ide yang buruk. Libertarianisme meyakini individu sebagai entitas yang bebas. Lalu, apa yang membuat ide ini kerap dicap sebagai ideologi yang irasional dan “hanya mau menang sendiri”?

    Pertama, libertarianisme yang diasosiasikan dengan kapitalisme. Sudah merupakan rahasia umum bahwa kapitalisme kerap menjadi stigma penyebab terjadinya perbudakan dan kolonialisme di hampir belahan dunia pada abad ke-18 dan 19. Sampai sekarang pun kapitalisme kerap menjadi kambing hitam bila ada kesenjangan antar kelas.

    Sikap materialisme yang dianggap timbul akibat kapitalisme juga kerap menjadi hal yang dikritik. Kapitalisme dituduh menanamkan bibit-bibit materialis berlebih dan konsumerisme. Akan tetapi, hal ini merupakan sesuatu yang sangat salah.

    Kapitalisme memang merupakan sistem ekonomi yang sangat efisien dalam mengelola sumber daya, dan telah berhasil memberikan banyak pilihan barang konsumsi kepada masyarakat. Akan tetapi, yang penting dicatat adalah, yang diberikan kapitalisme adalah kebebasan untuk memilih. Kapitalisme tidak pernah memaksa seseorang untuk membeli atau mengkonsumsi produk tentunya.

    Efisiensi dari kapitalisme ini tidak bisa dilepaskan dari perlindungan atas hak kepemilikan. Mengenai hak kepemilikan, yang merupakan salah satu konsep hal yang dijunjung tinggi dalam libertarianisme, hal tersebut terbukti melahirkan efisiensi pengelolaan sumber daya dan efektifitas dalam kegiatan produksi, dibanding kepemilikan kolektif yang hampir selalu menjadi alat politik para pejabat negara.

    Selain itu, libertarianisme juga kerap dikritik karena memiliki pandangan bahwa institusi agama harus dipisahkan dari negara. Negara tidak boleh mengatur urusan keagamaan, sehingga libertarianisme dianggap sebagai paham yang anti terhadap agama.

    Akan tetapi, hal ini merupakan kesalahan yang sangat fatal. Ide libertarianisme percaya bahwa agama merupakan ranah privat individu yang tidak boleh dicampuri oleh negara. Hal ini sangat berbeda dengan sikap anti-agama.

    Saya sendiri percaya dengan kebebasan individu, karena otoritas tertinggi pada tubuh dan pikiran seseorang adalah orang itu sendiri. Hidup yang ideal adalah ketika setiap individu bisa menentukan jalan hidup mereka masing-masing.

    Setiap individu memiliki hak dasar untuk yang menentukan bagi dirinya sendiri ke mana jalan selanjutnya yang diambil, apa yang mau diprioritaskan terlebih dahulu, dan sebagainya. Setiap individu memiliki hak mutlak untuk menentukan apa yang terbaik untuk diri sendiri dan menolak hal-hal yang menurut mereka tidak dibutuhkan dalam hidupnya.

    Libertarianisme memberi ruang bagi setiap individu untuk sebebas-bebasnya. Lalu, apa batasan dalam berbuat sesuatu sesuai esensi ide libertarian ini? Batasannya sendiri adalah ruang dan kekebasan orang lain. Setiap orang, siapapun dia, tidak memiliki hak untuk melakukan agresi atau memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu diluar kehendak orang tersebut.