Kebodohan Tak Boleh Dihukum

191
Sumber Ilustrasi: Instagram Zaskia Gotik

Malangnya nasib Zaskia Gotik. Karena candaannya tentang Pancasila di salah satu program TV swasta, kini penyanyi dangdut tersebut terancam hukuman penjara.

Zaskia yang di acara tersebut menjadi peserta acara kuis komedi, mengatakan bahwa lambang sila ke-5 Pancasila adalah – maaf – bebek nungging. Tidak hanya itu, Zaskia menyatakan bahwa hari kemerdekaan Indonesia adalah tanggal 32 Agustus.

Pernyataan tersebut berujung panjang, karena beberapa organisasi melaporkan Zaskia ke polisi atas penodaan dan pelecehan lambang negara. Zaskia terancam dipenjara.

Bagi kami, tidak ada hal yang tidak bebas untuk diekspresikan, pun sebagai bahan bercandaan. Hal-hal yang sakral seperti pimpinan negara, lambang negara, bahkan ketuhanan bebas diperbincangkan, dikritik, maupun dibercandakan. Sesuatu yang sakral, tidak akan berkurang kesakralannya hanya karena digunakan sebagai bahan lawakan.

Kebebasan berpendapat sebagai prinsip utama liberalisme klasik atau libertarianisme akan membuat masyarakat lebih dewasa dalam menyikapi apapun dan tidak bersikap reaktif terhadap kritikan dan pernyataan negatif. Selama tidak bernada ancaman kekerasan dan pembunuhan (hate speech), maka kebebasan berpendapat tidak bisa dibungkam.

Namun, kita hidup di negara yang menjunjung tinggi kesopanan dan batasan-batasan berekspresi. Kebebasan berpendapat harus selaras seiring dan tidak bisa lepas dari aturan hukum (rule of law) yang berlaku. Hukum di Indonesia menjamin kebebasan berpendapat, walaupun di saat yang sama membatasinya dengan norma-norma ke-Timur-an.

Pimpinan negara dan lambang negara dianggap sebagai suatu hal yang harus dihormati. Pancasila yang merupakan konsensus kebangsaan pasca kemerdekaan merupakan hal yang sakral dalam menyatukan bangsa Indonesia dalam ikatan Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi, dan Keadilan Sosial.

Sampai digantikan oleh nilai-nilai baru yang lebih baik melalui mekanisme kenegaraan dan representasi yang sah (yang nampaknya mustahil terjadi dalam lima puluh tahun ke depan), tentunya nilai-nilai Pancasila wajib kita hormati.

Tetapi pertanyaannya, bagaimana memastikan agar seluruh masyarakat Indonesia menghormati Pancasila?

Cara-cara represif dan paksaan yang terjadi di masa Orde Baru, dengan salah satunya mewajibkan warga negara mengikuti penataran P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila) dan memaksakan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi politik dan kemasyarakatan hanya menghasilkan kesan buruk otoritarianisme,  sehingga Pancasila dianggap tidak lagi relevan bagi masyarakat demokratis.

Pernyataan Zaskia Gotik yang menyatakan lambang sila ke-5 Pancasila adalah – maaf – bebek nungging merupakan bentuk dari ketidaktahuan atas nilai-nilai Pancasila dan ketidakpedulian masyarakat kecil (Zaskia Gotik hanya lulusan SD) atas urgensi menghapalkan sila-sila Pancasila. Di saat elit negara hanya mengamalkan Pancasila di saat seremonial dan upacara kenegaraan, maka Pancasila dianggap tidak lagi memiliki relevansi bagi masyarakat.

Apabila negara masih menganggap bahwa nilai-nilai Pancasila penting, maka orang-orang seperti Zaskia Gotik merupakan target edukasi yang perlu dididik – bukan dipolisikan layaknya penjahat kriminal. Orang bodoh tidak boleh dihukum, justru harus diberdayakan.

Di saat negara membiarkan kelompok-kelompok Islam radikal mengolok-olok secara sengaja Pancasila dan NKRI demi menegakkan obsesi syariah dan khilafah Islam, maka sangat lucu apabila negara meladeni laporan atas Zaskia Gotik yang jelas-jelas telah meminta maaf atas kekhilafannya.

Negara seakan-akan setuju dengan olok-olok kelompok radikal terhadap Pancasila, yang justru seringkali disisipi hate speech kepada kelompok minoritas. Negara yang seharusnya kuat dalam melindungi segenap warga negara dari ancaman kelompok lain, kini hanya mampu tegas kepada artis yang berpendidikan minim.

Tentu, Pancasila tidak boleh dijadikan benda mati layaknya ideologi abad 18. Pancasila perlu diperbaharui demi menopang payung kehidupan bersama 230 juta masyarakat Indonesia. Pancasila perlu terus didiskusikan, dikritik, sampai suatu saat – mungkin – diubah demi menyesuaikan konteks kehidupan yang lebih baru.

Pancasila perlu dikuatkan demi melindungi kebebasan seluruh individu masyarakat Indonesia. Jangan sampai Pancasila dijadikan alat menindas, merampok kebebasan orang lain seperti ideologi-ideologi fasis lainnya. Dalam hal ini, “Pancasila” perlu memaafkan Zaskia Gotik demi mengamalkan sila keduanya sendiri: Kemanusiaan yang adil dan beradab.