Kebebasan yang Diidamkan Manusia

    418

    Ada satu kutipan yang unik saya temukan sudah lama di Pinterest, “Don’t study me, you won’t graduate”. Tidak jelas siapa yang menulis quote ini pertama sekali. Tetapi pikiran saya iseng mengganti kata ‘me’ menjadi ‘human’ dan bunyinya akan “Don’t study human, you won’t graduate”. Salah satu yang terus menerus dipelajari dari manusia adalah sifatnya yang berkeinginan untuk bebas.

    Kebebasan sifatnya sangat personal, karena itu semua orang sepertinya bisa dan bebas untuk mendefenisikan kebebasan. Saya teringat lagu Panbers yang berjudul “Hidup Terkekang”. Dalam liriknya tertulis Hidup bagaikan seekor burung. Dalam sangkar yang terkekang. Biar sangkarku terbuat dari emas. Lebih baik ku hidup di hutan luas. Oh, ku mau bebas. Bebas di alam ini. Bebas mencintai kasihku.”

    Ketidakbebasan seseorang mencintai saja bisa dianalogikan seperti burung yang terpenjara dalam sangkar. Meskipun si penulis lagu barangkali tak pernah masuk ke penjara yang dalam arti sesungguhnya.

    Pertama sekali kata ‘kebebasan’ menarik perhatian saya adalah membaca konsep kehendak bebas dari Agustinus, seorang Bapa Gereja yang sangat dihormati juga filsuf. Sebagai seorang Kristen, tentu saja saya merujuk pada Alkitab, salah satu buku tua yang masih banyak digunakan pada masa ini.

    Tentu saya yakin, orang-orang Libertarian takkan keberatan, atau lebih tepatnya tidak peduli, jika saya membawa-bawa hal yang bersifat teologis, dalam memaknai kebebasan ini. Tentu, hal ini berbeda jika hasil dari perenungan saya akhirnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai Libertarianisme itu sendiri.

    Buku Matius ke-7 ayat ke-12, ditulis demikian: Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Tentu dengan jujur saya mengaku bahwa saya tidak punya kapasitas teolog untuk membahas ayat ini, apalagi diminta menjelaskannya secara mendalam terkait konteks (mengingat kata ‘konteks’ ini sedang primadona dalam perdebatan publik).

    Saya memaknai kalimat dalam Buku Matius itu bahwa, jika saya tidak ingin barang saya dicuri, maka saya tidak melakukan pencurian. Jika saya tidak ingin diperbudak, maka saya tidak akan memperbudak orang lain. Jika saya ingin bebas menyembah Tuhan yang mana yang saya mau, maka terlebih dahulu saya harus membebaskan orang lain memeluk agamanya seperti apa yang dia kehendaki. Begitu juga terhadap penyiksaan, berpendapat, dan keikutsertaan dalam pemerintahan. Intinya, jika saya ingin hidup tenang maka hal yang harus saya lakukan adalah tidak mengganggu orang lain.

    Maka dari Buku Matius, saya melihat kebebasan harus diberikan terlebih dahulu sebelum kita dapat menuntut untuk mendapatkannya. Kebebasan adalah sesuatu yang diberi oleh individu pada individu lainnya. Hal ini tentunya saya kira tidak bertentangan pada ide Libertarianisme yang memiliki dua target utama, yaitu melindungi dan mempromosikan hak-hak invididu (Suara Kebebasan, 2019).

    Tetapi, dari yang saya amati di Indonesia, barangkali hal inilah yang sulit. Memberikan kebebasan adalah sulit, karena ada harga-harga yang harus dibayar ketika kebebasan itu kita berikan pada orang lain.

    Misalnya, membebaskan sepasang manusia yang tidak sah menikah hidup bersama, atau dalam bahasa sehari-harinya, kumpul kebo. Sebagian orang akan mengira bahwa ada harga yang harus dibayar oleh para tetangga membebaskan dua orang kumpul kebo, yaitu dosa dan ancaman pada api neraka. Orang yang mempercayai hal ini tentu akan meminta negara membuat peraturan yang melarang orang kumpul kebo.

    Dari hal ini lahirlah perenungan terkait kebebasan, dalam konteks masyarakat Indonesia yakni, apakah kebebasan yang kita idam-idamkan ini sungguh bisa terwujud? Jika keinginan kita, yang dibarengi oleh semua alasan logisnya berseberangan dengan apa yang dipercaya oleh orang-orang di sekitar kita?

    Apakah mungkin inilah tugas kita yang takkan selesai, mempelajari manusia dan setiap hari belajar mewujudkan apa yang kita inginkan. Meski sadar kita takkan lulus seperti kutipan di paragraf pertama tulisan ini, tetapi kita akan terus belajar.

     

    Referensi

    Suara Kebebasan. 2019. Libertarianisme: Perspektif Kebebasan atas Kekuasaan dan Kesejahteraan. Jakarta: Suara Kebebasan.