Kebebasan Menuju Regenerasi Moral

    829

    Moral decline, moral deterioration, moral reduction, moral degradation, moral decay, dan sebagainya merupakan kata yang tak jarang terdengar di telinga kita. Pada intinya, banyak orang menganggap moral sudah rusak di zaman ini. Mereka umumnya adalah generasi tua. Tapi, apakah moral kita benar-benar memburuk?

    Kita bisa mengambil contoh kata-kata orang tua yang kerap membanding-bandingkan masa mereka dengan masa sekarang. Mereka menganggap hal-hal yang dilakukan oleh banyak generasi mudah sekarang merupakan sesuatu yang tidak baik bagi masa depan mereka.

    “Anak sekarang taunya dugem, main handphone, dan dandan saja!!”

    Kita tilik jauh ke belakang, di era 1990-an sampai 1980-an.

    “Anak zaman sekarang, taunya cuma main gameboy!”

    “Musik anak sekarang ndak jelas. Madonna, Prince, David Bowie, pusing.”

    Sedikit lagi, kita lihat yang agak jauh. Tahun 1960-an.

    “Anak zaman sekarang pacarannya amoral sudah. Naik mobil, ke tempat milkshake, dengar jukebox itu atau apalah. Zaman kita mah cuma di taman!”

    “Jogetnya aja sudah gak jelas, Hand Jive itu budaya Barat! Dulu mah kita lenso.”

    Dari contoh-contoh di atas, kita dapat melihat bahwa, era kapanpun itu, selalu ada alasan untuk reaksi penolakan orang tua pada kultur anaknya tumbuh. Apa karena nilai moral yang menurun? Tentu saja tidak. Orang tua, pada masa apapun, pada belahan dunia manapun, umumnya hanya mengalami transisi budaya. Itu adalah hal yang lumrah.

    Sebagian orang tua mengalami cultural shock ketika melihat perbedaan kehidupan masa mudanya dan dengan perbandingan masa muda anak-anak mereka yang hidup pada zaman setelahnya. Tidak dapat ditolak bahwa sebagian orang tua memang ada yang cenderung konservatif. Akan tetapi, yang perlu diingat adalah nilai moral hanya berubah, bukan mereduksi.

    Sebagian dari kita mungkin menyanggah, “kalau mau bukti konkretnya, lihat saja perempuan zaman dulu banyak yang bisa masak, mencuci, dan melakukan pekerjaan rumah lainnya. Perempuan zaman sekarang mana bisa, semuanya mau serba instan.”

    Ini sebetulnya masalah preferensi saja. Kita tidak bisa menilai baik-buruknya moral pada masa lalu dari satu sudut pandang saja. Kalau zaman dulu perempuan cenderung pandai mengerjakan pekerjaan rumah, tentu berbeda dari zaman sekarang. Pada masa ini, sudah banyak perempuan yang melek huruf, berpendidikan tinggi, memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki, terjun ke dunia politik, bahkan menjadi pemimpin.

    Di era globalisasi, memang sepertinya semua orang tua menyetujui pandangan bahwa dampak yang ditimbulkan dari teknologi menjadi penyebab utama degradasi moral. Teknologi dianggap menjadi biang kemalasan, tindakan amoral, dan hilangnya budaya bangsa di kalangan anak muda. Padahal, menurut saya, semua tergantung relevansi, situasi, dan kondisi.

    Mari ambil contoh mengenai relevansi gaya hidup zaman dulu dan sekarang. Dulu, orang yang terbukti bersalah akan digantung di tengah kota, menjadi tontonan khalayak umum. Seperti rezim-rezim pemerintah zaman dulu, hal tersebut pernah disebut lumrah, dan mirisnya, tidak ada yang protes mengenai peraturan tersebut.

    Namun, apakah hukuman tersebut sekarang masih berlaku? Mungkin di beberapa negara masih ada yang mengimplementasikan hukuman tersebut, tapi dapat dikatakan tidak semarak pada masa terdahulu. Banyak orang tidak menyetujui hukuman mati, apalagi hukuman gantung, karena menurut aturan moral saat ini, seseorang ataupun instansi negara tidak berhak untuk merenggut nyawa individu begitu saja.

    Selanjutnya, kita bisa melihat pada era Romawi Kuno. Seseorang yang terbunuh akibat sambaran petir tidak pantas mendapatkan pemakaman yang layak karena dianggap sumber kemarahan Jupiter. Jika itu diaplikasikan di zaman sekarang, apakah masih relevan? Tidak.

    Di samping semua paradigma konservatif orang tua mengenai moral anak muda zaman sekarang, dan stereotip mereka mengenai teknologi yang kian global, tak bisa dipungkiri lagi kalau teknologi mengambil andil banyak dalam perkembangan IPTEK. Hal tersebut tentunya sangat dibutuhkan dan sangat membantu kehidupan sehari-hari.

    Seperti saat ini, beberapa anak muda yang memanfaatkan media sosial yang mereka miliki untuk berjualan dengan cara yang kreatif dan unik. Mereka secara tak langsung berkenalan dengan dunia wirausaha.

    Jadi, apakah moral zaman sekarang memang lebih buruk dibandingkan di masa lalu? Tentu tidak, karena nilai-nilai moral merupakan sesuatu yang dinamis dan terus berubah. Semua tergantung pada kacamata apa yang kita pakai. Apa yang sudah tidak relevan tentu dengan sendirinya akan terdepak.

    Bagi generasi tua, mungkin nilai-nilai moral yang dipratikkan oleh anak-anak muda zaman sekarang sangat berbeda dari yang mereka dapatkan di masa lalu. Akan tetapi, apa salahnya kita coba untuk membuka diri dan toleran kepada perubahan? Karena nilai-nilai moral merupakan sesuatu yang terus berubah dari waktu ke waktu.