Kebebasan Ekonomi dan Kesejahteraan

    267

    Bayangkan Anda membuat mesin waktu, dan Anda pergi ke Dubai pada tahun 1960. Pemandangan seperti apa yang kira-kira akan Anda lihat? Gedung-gedung pencakar langit? Pusat-pusat perbelanjaan yang sangat luas? Mobil-mobil mewah yang berseliweran di jalan raya?

    Ternyata, jawabannya adalah, Anda tidak akan menemukan hal-hal tersebut. Bila Anda pergi ke Dubai pada tahun 1960, yang akan Anda lihat adalah kota kecil di tengah gurun, yang berisi beberapa gedung bertingkat, dan jalanan yang hampir kosong. Sebagian besar jalan tersebut juga tidak beraspal. Sebagian masyarakat yang tinggal di kota tersebut juga bekerja di berbagai profesi tradisional seperti pedagang kecil dan juga nelayan tradisional (dailymail.co.uk, 15/5/2012).

    Bila Anda mengatakan kepada mereka yang tinggal di negara-negara Barat yang sangat maju misalnya, bahwa dalam waktu kurang dari setengah abad, Dubai akan menjadi salah satu kota paling maju dan berkembang di dunia, sejajar dengan New York, London, dan Paris, kemungkinan Anda akan ditertawakan. Hampir mustahil, kota di tengah gurun yang tidak memiliki infrastruktur yang memadai, dapat mengimbangi kota-kota besar di Barat yang sangat maju dalam jangka waktu yang cepat.

    Tetapi kenyataannya, pada hari ini, Dubai kini menjadi salah satu kota paling maju dan berkembang di dunia. Uni Emirat Arab (UEA) sendiri, yang merupakan negara tempat kota Dubai berada, saat ini menjadi salah satu negara terkaya dan memiliki pendapatan per kapita tertinggi di dunia. Berdasarkan data dari Bank Dunia, pada tahun 2019 lalu misalnya, Uni Emirat Arab memiliki pendapatan per kapita nominal sebesar USD43.103 (data.worldbank.org, 2019).

    *****

    UEA bukanlah satu-satunya negara yang mengawali paruh kedua abad ke-20 sebagai negara yang terbelakang dan mengalami pertumbuhan yang pesat menjadi negara berpenghasilan tinggi. Korea Selatan misalnya, juga merupakan negara yang sangat berbeda pada dekade 1960-an dengan Korea Selatan hari ini.

    Korea Selatan pasca Perang Korea (1950-1953) merupakan negara yang sangat jauh berbeda dari Korea Selatahn hari ini. Pada dekade 1960-an, negara tersebut merupakan negara yang miskin, tidak memiliki infrastruktur yang memadai, dan berpenghasilan sangat rendah. Pada tahun 1960 misalnya, berdasarkan data dari Bank Dunia, pendapatan per kapita Korea Selatan hanya sebesar USD 158 (data.worldbank.org, 1960).

    Tetapi saat ini, keadaan Korea Selatan jauh berbeda dari Korea Selatan 6 dekade lalu. Saat ini, Korea Selatan menjadi salah satu negara paling makmur dan sejahtera tidak hanya di Asia, namun juga di dunia. Korea Selatan merupakan salah satu dari dua negara yang menjadi anggota organisasi negara-negara berpenghasilan tinggi, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) selain Jepang. Pada tahun 2020, GDP per capita Korea Selatan mencapai di atas USD30.000 (data.worldbank.org, 2020).

    Hal itu tentu merupakan suatu fenomena “keajaiban” yang luar biasa. Namun, hal tersebut tidak datang dengan sendirinya. Pembangunan dan kemajuan ekonomi yang dialami oleh Kota Dubai dan Korea Selatan dapat dimungkinkan karena adanya kebijakan yang mendukung kemajuan tersebut.

    Dubai misalnya, merupakan salah satu tempat yang terbaik untuk melakukan investasi. Real estate merupakan salah satu sektor yang paling penting dalam pembangunan ekonomi di kota tersebut. Kota tersebut juga merupakan salah satu kota pelabuhan dan perdagangan paling penting di dunia, dan sektor keuangan juga menjadi salah satu sektor yang paling penting dalam ekonomi di kota tersebut (brainly.in, 15/11/2020).

    Secara keseluruhan, Uni Emirat Arab merupakan salah satu negara dengan tingkat kebebasan ekonomi paling tinggi di dunia. Berdasarkan laporan Indeks Kebebasan Ekonomi (Index of Economic Freedom) yang dikeluarkan oleh lembaga The Heritage Foundation, pada tahun 2021, UAE menjadi negara dengan peringkat kebebasan ekonomi nomor 14 paling tinggi di dunia, dan di peringkat pertama di kawasan Timur Tengah, di atas Israel, Qatar, Bahrain, dan Arab Saudi. UAE mendapatkan skor yang tinggi untuk kebijakan pajak, kebebasan berdagang, dan perlindungan hak kepemilikan (heritage.org, 2021).

    Hal yang sama juga terjadi di Korea Selatan. Kisah kesuksesan yang dialami oleh Korea Selatan tidak bisa dipisahkan dari kebijakan negara tersebut untuk membuka diri dengan pasar luar negeri, yang sangat bertolak belakang dari kebijakan Korea Utara yang sangat tertutup. Dengan membuka diri pada pasar luar negeri, hal tersebut memungkinkan Korea Selatan untuk melakukan ekspor dalam jumlah tinggi, yang mendorong pembagunan ekonomi (stlouisfed.org, 20/3/2018).

    Berdasarkan laporan Indeks Kebebasan Ekonomi The Heritage Foundation tahun 2021, Korea Selatan masuk dalam kategori negara yang ekonominya bebas (free). Korea Selatan memiliki skor yang sangat tinggi di bidang kebijakan fiskal, kebebasan berdagang dan berusaha, dan perlindungan kepemilikan pribadi (heritage.org, 2021).

    Korea Selatan dan Uni Emirat Arab merupakan dua negara yang sangat berbeda, dengan demografi, geografis, dan sistem pemerintahan yang sangat tidak serupa. Korea Selatan merupakan negara Asia Timur yang menganut sistem demokrasi presidensial, sementara UAE merupakan negara federasi monarki absolut di Timur Tengah. Tetapi, ada benang merah yang membuat kedua negara tersebut bisa menjadi salah satu negara paling sejahtera di dunia saat ini, yakni kebebasan ekonomi.

    Sistem ekonomi yang bebas, yang melindungi hak kepemilikan dan bertumpu pada pasar yang terbuka, sudah terbukti merupakan sistem ekonomi yang paling berhasil dalam membangun ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan. Tidak peduli bagaimana sistem politik di negara tersebut, apa agama mayoritas yang dianut, bahasa apa yang digunakan, atau kondisi geografis tempat negara tersebut berada, bila negara tersebut menganut sistem ekonomi yang bebas, maka kesejahteraan dan pembangunan ekonomi akan mengikuti.

    Sebaliknya, sistem ekonomi yang tertutup dan tidak bebas sudah terbukti merupakan resep paling manjur untuk menarik mundur perekonomian sebuah negara. Apakah negara tersebut merupakan negara demokrasi elektoral di mana ada banyak partai politik yang berkompetisi di pemilihan umum, negara monarki absolut, atau negara dengan sistem satu partai, bila pemerintah di negara tersebut memutuskan untuk menutup ekonominya dan merampas kebebasan ekonomi warganya.

    Sebagai penutup, kebebasan ekonomi merupakan resep yang paling mutlak bila sebuah negara ingin membangun ekonominya dan meningkatkan kesejahteraan warganya. Resep ini merupakan hal yang universal, dan telah terbukti bekerja di berbagai negara dengan sistem politik apapun dan dengan latar belakang apapun. Tanpa adanya kebebasan ekonomi, maka pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan akan mustahil dapat dicapai dan dipertahankan.

     

    Referensi

    https://brainly.in/question/28583585?tbs_match=3 Diakses pada 17 Oktober 2021, pukul 21.45 WIB.

    https://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.PCAP.CD?locations=AE Diakses pada 17 Oktober 2021, pukul 20.10 WIB.

    https://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.PCAP.CD?locations=KR Diakses pada 17 Oktober 2021, pukul 20.50 WIB.

    https://www.dailymail.co.uk/news/article-2144613/Pictures-Dubai-1960s-1970s-city-fishing-settlement.html Diakses pada 17 Oktober 2021, pukul 19.05 WIB.

    https://www.heritage.org/index/country/unitedarabemirates Diakses pada 17 Oktober 2021, pukul 22.55 WIB.

    https://www.heritage.org/index/country/southkorea Diakses pada 17 Oktober 2021, pukul 23.50 WIB.

    https://www.stlouisfed.org/on-the-economy/2018/march/how-south-korea-economy-develop-quickly Diakses pada 17 Oktober 2021, pukul 23.25WIB.