Kebebasan dalam Filosofi Tiongkok

    751

    Entah berapa banyak yang berpandangan bahwa liberalisme klasik atau libertarianisme adalah produk Eropa yang dibuat untuk merusak bangsa-bangsa Timur. Banyak orang berpandangan, bahwa demokrasi dan kebebasan tidak cocok bila diberlakukan di negara-negara bagian Timur dunia.

    Ya, pandangan itu mungkin betul, bahwa terminologi liberalisme dan libertarianisme adalah produk dari negara-negara Barat. Mungkin mereka juga benar, bahwa ide mengenai demokrasi, pembatasan kekuasaan, dan kebebasan individu adalah konsepsi yang diberlakukan secara konstitusional di dunia belahan Barat.

    Namun sekali lagi, amat salah jika kebebasan dan juga hak individu hanya dianggap sebagai buatan masyarakat Barat.  Pertama, kita diciptakan secara bebas. Kita bebas menghirup udara, kita bebas untuk bergerak, dan kita bebas untuk menentukan pilihan tanpa dipaksa. Lebih jauh, kita punya hak untuk makan kita punya kebebasan untuk mencari makan, kita punya hak untuk mencintai dan kita bebas untuk memilih pasangan hidup yang kita cintai, dan banyak lagi.

    Kesimpulannya, kebebasan individu itu sendiri adalah kodrat alamiah, bukan suatu hasil konstruksi ideologi atau doktrin politik. Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan kodrat bebas dan diberi kebebasan untuk memilih oleh Tuhan.  Sampai di sini, kita harus memahami bahwa kebebasan itu adalah suatu hal yang alamiah dan alamiah pula jika manusia merindukan atau menginginkan kebebasan.

    *****

    Saya tertarik dengan argumen Haikal Kurniawan (Managing Editor dan Kontributor Suara Kebebasan), dalam artikel Liberalisme Klasik dan Dikotomi Timur-Barat yang dimuat dalam buku Libertarianisme: Perspektif Kebebasan atas Kekuasaan dan Kesejahteraan, yang diterbitkan oleh Suara Kebebasan tahun 2019 lalu. Walaupun, tak dapat dipungkiri bahwa ide-ide kebebasan lahir dari negara-negara Barat, namun bukan berarti tidak bisa diadopsi oleh manusia di belahan Timur.

    Bukankah semua orang merindukan supremasi hukum, sistem peradilan yang adil, dan pemerintah di bawah kendali hukum? Bukankah setiap individu juga mendapat jaminan hak untuk hidup dan jaminan untuk mendapat perlindungan sehingga negara atau pemerintah tidak bisa seenak “jidat” menculik dan mencabut nyawa rakyatnya?

    Begitu juga dengan kebebasan berbicara dan hak untuk ikut berpartisipasi dalam negara. Apakah hanya orang Eropa dan Amerika yang berhak untuk mendapatkan kebebasan dan memiliki hak menentukan nasib negara mereka, sedangkan orang Asia tidak? Tentu saja setiap orang berhak untuk mendapatkan itu semua, sebab gagasan itu tidak hanya untuk manusia dalam ruang lingkup geografis tertentu.

     

    Gagasan Liberal dari Negara Tirai Bambu

    Negara Tiongkok dikenal sebagai negara yang sangat ketat mengontrol rakyatnya. Sistem sosialisme dan diktator Partai Komunis membuat seluruh kekuasaan tersentral pada pemerintah dan partai, sedangkan rakyat hanya ikut saja, bagai ekor yang selalu mengikuti kepala.

    Namun, jika kita membuka lembar sejarah dan juga mempelajari kearifan dari kaum filsuf dan kaum bijak Tiongkok, maka kita akan takjub bahwa di antara pemikiran filosofi masyarakat Tiongkok, ternyata terdapat sebuah gagasan yang agak “mirip” bahkan sejalan dengan gagasan libertarianisme.

    2.700 tahun yang lalu, sejarah mencatat tentang kearifan filsafat di kepulauan Yunani dan Asia Minor, tokoh seperti Protagoras, Socrates, Plato, dan Aristo merupakan tokoh-tokoh filsuf Yunani yang paling dihormati dalam sejarah. Namun, di waktu yang sama (tapi di belahan dunia lain) pada akhir era Dinasti Zhou, wilayah China tengah mengalami “musim semi pemikiran,” di mana muncul berbagaimacam aliran-aliran yang diajarkan oleh para filsuf atau kaum bijak dari tiongkok.

    Sebut saja, Mohis, Artisan, Logician, Taoisme, Legalisme, Yin Yang, Konfusionisme, dan lain sebagainya. Di antara banyaknya aliran-aliran tersebut, salah satu aliran yang berkembang cukup pesat dan banyak mempengaruhi masyarakat, bahkan hingga hari ini, yaitu Taoisme, Legalis, dan Konfusianisme.

    Berbeda dengan filsafat yang dikembangkan oleh Yunani yang membahas tentang alam dan hal-hal yang abstrak, filsafat Tiongkok lebih realistis, tidak terlalu bertele-tele dan membahas hal yang tidak penting. Dasar dari filsafat Tiongkok adalah: “bagamana cara agar hidup benar dan bahagia.”

    Dari berbagai aliran pemikiran atau filsafat, yang sangat mendekati pemikiran libertarianisme adalah Taoisme. Tokoh paling terkenal dalam aliran Taoisme adalah Guru Agung Lao Zi yang hidup pada Dinasti Zhaou.  Mengapa mendekati? Karena konsepsi Lao Zi mengenai manusia dan pemerintahan sejalan dengan prinsip libertarianisme.

    *****

    Bapak liberalisme, John Locke, menjelaskan tentang teori “tabula rasa”, yaitu setiap manusia secara alami adalah baik, pikiran setiap orang jernih dan selalu menghendaki yang baik. Tuhan telah menganugerahkan manusia dengan setara, memiliki kebebasan yang sama, tidak ada perbedaan kasta, dan hak untuk hidup yang setara. Berangkat dari pandangan kesetaraan alami inilah, John Locke meyakini bahwa manusia harus diberikan kebebasan, baik untuk hidup, hak untuk menentukan pilihan, dan juga hak untuk memiliki harta benda.

    Jauh sebelum John Locke, Lao Zi telah berpendapat demikian. Dalam buku The Saying of Lao Zi karya Tsai Chih Chung, Lao Zi meyakini bahwa setiap manusia pada awalnya (secara alami) bersikap baik, berpikiran jenih, dan puas dengan keadaannya. Manusia natural adalah manusia yang bebas dan harmonis tanpa memerlukan hukum, tata krama, dan norma. Bila manusia hidup selaras dengan hukum natural (Tao), maka masyarakat akan harmonis dan tertata.

    Jika aliran Legalis meyakini bahwa untuk menciptakan ketertiban dan keharmonisan harus melalui hukum yang ketat dan tangan besi seorang kaisar yang adil. Sementara itu, dalam pandangan Konfusius, ketertiban masyarakat akan muncul jika setiap orang tunduk pada tradisi dan norma. Tao tidak berpandangan demikian.

    Fung Yung Lan dalam Sejarah Filsafat China, mengutip perkataan Lao Zi dalam Tao te Ching: “Saya tidak melakukan tindakan apapun, maka rakyat dengan sendirinya akan berubah, saya suka ketenangan, maka rakyat dengan sendirinya akan menjalani hidup yang sopan.”  Dari sini,  Lao Zi berpandangan bahwa perubahan dan keharmonisan masyarakat lahir dari kesadaran individu. Individu adalah pelaku penting dalam perubahan sosial.

    Taoisme lebih menekankan pada self control atau pengendalian diri ketimbang menjadi robot dikendalikan orang lain atau mengendalikan orang lain. Lao Zi lebih percaya bahwa jika tiap individu (secara bebas) mengikuti hati nurani dan jalan hidup yang baik sesuai kodrat alami , maka akan terciptalah suatu keteraturan spontan.

    Dari sini sangat terlihat secara kontras keserupaan pandangan Lao Zi (Taoisme) dengan libertarianisme. Libertarianisme bukan ajaran revolusioner yang mengajak semua orang untuk melakukan perubahan secara serentak. Libertarianisme percaya bahwa perubahan dan keharmonisan bisa lahir jika tiap individu saling menghormati kebebasan kodrati dan mengontrol diri sendiri agar tidak berbuat buruk pada orang lain.

    Filsuf Tiongkok, Lao Zi juga menegaskan mengenai konsep politik. Menurut Lao Zi, konsep mengenai pemimpin ideal terbagi menjadi empat macam. Pertama, pemimpin yang membiarkan rakyat melakukan hal yang mereka sukai, dan hidup sesuai keinginannya. Mengeluarkan instruksi dan kebijakan diam-diam, sehingga rakyat tidak merasa memiliki raja, walau rakyat mengetahui bahwa mereka mempunyai seorang raja.

    Kedua, pemimpin  yang menggunakan prinsip moral untuk mempengaruhi rakyatnya. Dalam hal ini, raja memberi bantuan, penghargaan, dan subsidi untuk rakyatnya, sehingga rakyat menyenanginya. Ketiga, pemimpin yang terlalu mengontrol rakyatnya dengan berbagai macam hukum sehingga rakyatnya ketakutan. Keempat, pemimpin yang selalu memamerkan kekuasaan dan menipu rakyatnya dengan propaganda kebohongan.

    Dari keempat pemimpin ini, yang terbaik menurut Lao Zi adalah model pemimpin yang pertama, dimana seorang raja memimpin tanpa paksaan, membiarkan penduduk mengerjakan apa yang disukai dan hidup sesuai keinginannya. Sembari (diam-diam) membangun berbagai fasilitas untuk menunjang kebahagiaan rakyatnya, sembari (sang raja) berkata bahwa kemakmuran negara mereka datang secara spontan.

    Pemimpin yang buruk adalah pemimpin yang terlalu menekan rakyat dengan berbagai macam peraturan dan secara rakus menarik berbagai macam pajak. Banyaknya pajak dan tuntutan terhadap rakyat, membuat sebagian orang memikirkan cara licik untuk menghindari hukuman, dan sebagian orang melakukan berbagaimacam tindakan untuk melawan hukum.

    Dapat dilihat dari sini bahwa spirit libertarianisme sangat sesuai dengan ajaran Guru Agung Lao Zi, Libertarianisme meyakini bahwa pemerintah ideal adalah pemerintah yang memberikan keluasaan dan kebebasan bagi rakyatnya. Ia tidak memperketat hukum dan pajak yang dapat mengikat dan menyengsarakan rakyat.

    Tetapi bukan berarti libertarianisme dan Taoisme menolak keberadaan negara. Negara dalam hal ini hanya menjadi simbol atau menjadi “anjing penjaga” untuk menjamin supaya tiap individu bisa mendapat kebahagiaan sesuai dengan keinginannya masing-masing.

    Beberapa kesamaan yang menonjol dalam filsafat libertarianisme dan Taoisme, menunjukkan bahwa ide kebebasan adalah ide universal yang tidak terbatas oleh geografi dan terdikotomi oleh Timur atau Barat. Libertarianisme juga bukan filsafat yang menawarkan agar manusia hidup liar sebagaimana yang dianggap beberapa orang.

    Namun sebaliknya, libertarianisme percaya bahwa sejatinya setiap orang secara natural memiliki hasrat kepada kebaikan. Maka dari itu, biarkanlah manusia untuk bebas agar ia bisa mengatur dirinya secara alami, sebagaimana pandangan Lao Zi.