Kasus Muhammad Kece dan Yahya Waloni: Nestapa Kerukunan Agama Kita

    474

    Kerukunan umat beragama di Indonesia kembali diuji. Dari kasus penolakan GKI Yasmin, lalu muncul penolakan pendirian Masjid di Jakarta. Terjadi pula aksi sewenang-wenang pemerintah daerah yang mendiskriminasikan Jemaat Ahmadiyah dengan menyegel rumah ibadahnya (Sejuk, 16/8/2021).

    Rentetan kejadian tersebut bagaikan gunung Krakatau. Alih-alih hancur, malah semakin membesar dan siap memuntahkan laharnya setiap saat. Belakangan ini, publik difokuskan pada dua sosok penceramah kontroversial, yaitu Muhammad Kece dan Yahya Waloni. Keduanya adalah agamawan, terpelajar, memiliki ilmu keagamaan yang baik dan berpengaruh di masyarakat.

    Sayangnya pengaruh dan keilmuannya dalam bidang agama yang mereka kuasai justru malah menyesatkan dan merusak kerukunan di masyarakat. Yahya Waloni terkenal dengan video-video kontroversial yang mencela teologi Kristen, bahkan secara gegabah menyebut Alkitab yang diyakini oleh pemeluk Kristiani sebagai kitab palsu (Pedoman Tangerang, 26/8/2021).

    Belum lagi dengan penghinaannya terhadap ulama senior seperti Profesor Quraish Shihab hanya karena beda pendapat dalam masalah politik. Di pihak lain, sosok kontroversial seperti Muhammad Kece yang videonya beredar luas di YouTube melalui channel-nya juga menjelek-jelekkan keyakinan agama Islam.

    Sebenarnya M. Kece lewat videonya berusaha untuk melakukan kontra narasi atas video-video para penghujat Kristen seperti Yahya Waloni yang beredar di media sosial. Sayangnya, kontra narasi yang disajikan oleh M. Kece tak lebih buruk dari Yahya Waloni. Kece secara serampangan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara sepotong dan menjelek-jelekkan sosok Muhammad yang menjadi panutan umat Islam.

    Terlepas dari agamanya, pola beragama M. Kece dan Yahya Waloni sebenarnya memiliki kesamaan meski menganut agama yang berbeda. Kesamaan tersebut terletak pada pola teologis yang sempit, eksklusif dan egoistik.

    *****

    Memang tidak dipungkiri bahwa, agama memiliki sisi eksklusif, baik pada ritual, identitas, dan kredo yang diyakini oleh masing-masing kelompok. Namun di sisi lain, agama juga memiliki nilai-nilai universal dan inklusif yang bisa ditarik benang merahnya.

    Sayangnya bagi para agamawan yang menekankan sisi eksklusif malah membuang jauh-jauh sisi keagamaan yang inklusif dan mengubur nilai-nilai universalitas agama. Pola keagamaan yang eksklusif ini malah ditonjolkan dan dikampanyekan oleh sebagian agamawan di media sosial dan di channel YouTube mereka. Lebih nahasnya lagi, para penonton yang awam menelan mentah-mentah apa yang disampaikan di internet tanpa membandingkan dan berkonsultasi dengan guru agama di lingkungan mereka

    .

    Memandang Agama dalam Kerangka Konflik

    Pada awal dekade 2000-an, saat penulis masih duduk di bangku sekolah, narasi mengenai “bahaya kristenisasi”, “kristenisasi mengancam Islam”, “dendam Poso membara”, dan narasi lainnya beredar di majalah dan VCD dengan maksud memanas-manasi komunitas Muslim Indonesia untuk membenci saudara mereka dari kelompok Kristiani

    Propaganda kebencian semacam ini cukup kentara dan ramai sehingga VCD serta acara-acara debat Islam-Kristen pada dekade tersebut cukup diminati dan ramai dikunjungi oleh orang-orang. Akibatnya, umat Kristiani bukan hanya mengalami kesulitan dalam upaya membangun rumah ibadah dan merenovasi gereja mereka. Beberapa teroris bahkan menjadikan gereja sebagai target bom bunuh diri.

    Semua berawal dari teologi kebencian yang “dikomersialisasi”. Saat itu, beberapa orang yang keluar dari agama Kristen dan memeluk Islam justru menjadi penceramah dan melakukan tur keliling daerah menyampaikan khutbah mengenai “kesesatan Kristen”. Tak aneh bila pada dekade 2000-an (bahkan hingga sekarang) forum-forum debat di Facebook tumbuh menjamur hingga terjadi debat kusir yang akhirnya lempar fitnah dan caci maki.

    Pola keagamaan yang menekankan pada kecurigaan dan juga konflik terhadap sesama inilah yang membuat umat beragama menjadi saling mencurigai dan juga melemparkan kebencian di media sosial. Riset Media and Religious Conservatism (MERIT) PPIM UIN Jakarta, menemukan fakta mengejutkan mengenai dominasi paham intoleran di media sosial. Hal itu disampaikan Koordinator Riset MERIT, Iim Halimatusa’diyah, dalam dalam Webinar Series #ModerasiBeragama bertema “Media Sosial untuk Moderasi Beragama” yang diselenggarakan oleh PPIM UIN Jakarta melalui program CONVEY Indonesia.

    Fakta yang ditemukan oleh MERIT mengenai pola keagamaan masyarakat di ruang daring dari tahun 2009 hingga 2019 mengemukakan bahwa, pemahaman konservatif paling banyak menguasai perbincangan di ranah maya dengan persentase 67.2%, disusul dengan moderat sebesar 22.2%, liberal (6.1%) dan Islamis (4.5%) (PPIM, 10/12/2020).

    Tentu saja fakta ini sangat menakutkan. Mengapa? Sederhananya, jika pola keagamaan masyarakat berorientasi pada konflik, maka proses dialog antar agama dan interaksi antar komunitas akan berkurang.

    Jika komunikasi dan proses dialog antar komunitas tidak terjadi di Indonesia, otomatis ini sangat berbahaya bagi Indonesia yang memiliki identitas sebagai negara majemuk. Keadaan seperti ini membuat komunikasi dan dialog antar agama menjadi lebih penting untuk diselenggarakan ketimbang mensponsori acara perdebatan antar agama, di mana agama-agama menjadi subjek yang dipertandingkan sehingga masing-masing kubu saling memojokkan.

    Yang paling disayangkan adalah, para oknum politisi dan pejabat di pusat dan daerah secara sengaja menciptakan budaya konflik agama dengan menghembuskan isu SARA hanya untuk keuntungan pribadi mereka. Munculnya tokoh agama yang keras seperti M. Kece dan Yahya Waloni hanya merupakan gambaran kecil dari sebuah masalah serius yang tengah dihadapi oleh bangsa ini, yaitu eksklusivitas agama yang disertai oleh konflik.

     

    Membuka Komunikasi antar Agama

    Tidak mudah untuk menjawab bagaimana pemecahan konflik agama yang terjadi saat ini. Tidak mudah untuk merubah pola pikir seseorang (bahkan hampir mustahil). Proyek deradikalisasi dan komunikasi antar agama memerlukan proses yang panjang bahkan bisa berlangsung beberapa generasi.

    Tidak mungkin seorang dengan pemikiran radikal bisa berubah menjadi toleran hanya melalui indoktrinasi dalam sebuah workshop. Tidak mungkin juga melakukan penangkapan paksa terhadap mereka yang terindikasi oleh paham fundamentalisme agama dan fanatik dalam agama.

    Salah satu cara adalah, membiarkan masyarakat sipil yang menanggulanginya. Selain itu, dengan membiarkan masyarakat toleran dan komunitas pejuang kebebasan menyebarkan gagasan perdamaian di tengah-tengah masyarakat.

    Dialog antar agama dan keyakinan juga sangat perlu untuk digalakkan di masa sekarang. Mengikuti jejak Gus Dur pada dekade 90-an yang mendirikan Forum Demokrasi (Fordem) dengan tujuan untuk menjaga pluralisme masyarakat dan membuat agar tiap komunitas bisa saling berdialog dan bertukar pikiran.

    Memang saat ini teknologi komunikasi sudah meningkat pesat. Internet dan telepon pintar bahkan sudah menjangkau ke wilayah pedalaman Indonesia. Namun sayangnya, kecanggihan teknologi informatika tersebut malah dimanfaatkan untuk mengobarkan kebencian antar etnis dan kelompok bukan malah merawat keberagamaan.

     

    Referensi

    https://pedomantangerang.pikiran-rakyat.com/tangerang-raya/pr-072473812/habis-muhammad-kece-giliran-yahya-waloni-ditangkap-polisi Diakses pada 30 Agustus 2021, pukul 17.57 WIB.

    https://ppim.uinjkt.ac.id/2020/10/12/riset-merit-paham-intoleran-dominan-di-medsos/ Diakses pada 30 Agustus 2021 pada 18.23 WIB.

    https://sejuk.org/2021/08/16/ironis-penyegelan-masjid-ahmadiyah-sintang-jelang-hut-kemerdekaan/ Diakses pada 30 Agustus 2021, pukul 17.45 WIB.