Kapitalisme Sebagai Kendaraan Untuk Keluar Dari Perbudakan

    61

    Akhir-akhir ini, media sosial digemparkan oleh sebuah kasus korupsi pada salah satu perusahaan BUMN, yaitu PT. Asabri. Kasus korupsi tersebut mencapai Rp23,7 triliun, dan menurut Jaksa Agung, ST Baharudin, merupakan kasus skandal korupsi yang terbesar di Indonesia. Adapun beberapa nama yang telah penyidik kejaksaan agung tetapkan sebagai TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) yakni, Benny Tjoko Saputro dan Heru Hidayat, sementara ada 9 tersangka lainnya yang ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan korupsi PT. Asabri (Merdeka.com, 17/2/2021).

    Kasus tersebut menarik perhatian publik, terutama penulis yang sedang mendalami tesis perkembangan kapitalisme oleh Max Weber, karena tersangka-tersangka tersebut merupakan pengusaha-pengusaha kelas atas dan ternama di daerahnya masing-masing. Benny Tjoko Saputro misalnya, merupakan pemilik usaha Hotel Maestro dan Matahari Mall di Pontianak, sulit untuk tidak mengaitkan hal tersebut dengan praktik kapitalisme di negara kita.

    Alih-alih memaki praktik kapitalisme yang ada di negara kita, penulis malah terkagum-kagum dengan dengan praktik kapitalisme tersebut. Sebab dari kasus tersebut, terbangun sebuah asumsi bahwa kapitalisme berperan penting dalam penegakan hukum yang universal di negara kita. Semua orang dipandang dan diperlakukan sama oleh hukum, tidak terkait dengan kekayaan maupun status yang dimiliki oleh pelanggarnya.

    Fokus penulis terhadap hukum yang universal tersebut membawa pengharapan tersendiri pada praktik kapitalisme sebagai kendaraan untuk lolos dari perbudakan. Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Bukankah kapitalisme malah membuat jurang antar kelas yang memperbanyak perbudakan?

    Hal tersebut benar, jika kita meletakkan pikiran kita berdasarkan materialisme historis ala Marx. Namun, kita akan mendapatkan pandangan yang sama sekali berbeda ketika kita meletakkan pikiran kita berdasarkan tindakan sosial ala Max Weber. Dalam pandangan Weber mengenai praktik kapitalisme, penulis malah melihat kasus tersebut sebagai pengharapan untuk lolos dari perbudakan dengan menggunakan kapitalisme sebagai kendaraanya.

    *****

    Kapitalisme secara etimologi berasal dari kata Caput (Latin) yang berarti kepala. Awalnya, kata caput tersebut digunakan oleh masyarakat Romawi untuk menghitung kepala hewan ternak yang mereka miliki. Dengan jumlah kepala hewan yang dihitung tersebut, maka akan didapatkan sebuah informasi tentang kondisi materil yang dimiliki oleh pemiliknya (Butler, 2019).

    Kapitalisme menurut pandangan Marx adalah mode produksi yang didasarkan pada kepemilikan pribadi. Marx meletakkan dasar stratifikasi sosial pada situasi kepemilikan alat produksi, seperti budak, tanah, peralatan, mesin, bangunan, deposito, valuta asing dan emas (Damsar, 2015). Stratifikasi sosial atas dasar kepemilikan pribadi tersebut menimbulkan konflik yang membuat jurang antar kelas (yang miskin dan yang kaya).

    Sedangkan menurut pandangan Weber, kapitalisme merupakan sebuah keadaan di mana terjadinya perubahan sosial dari masyarakat agraris tradisional dengan mekanisme kerja sederhana menuju masyarakat kapitalis dengan mekanisme produksi yang memiliki tingkat efisiensi lebih tinggi daripada masyarakat agraris tradisional. Weber menjelaskan bahwa perubahan sosial dari masyarakat agraris tradisional menuju masyarakat kapitalis mempengaruhi mobilitas tenaga kerja dari masing-masing individu (Damsar, 2015).

    Berbeda halnya dengan masyarakat kapitalis yang mana sudah terjadi mobilitas tenaga kerja, sebab tenaga kerja bebas bergerak menanggapi permintaan dan penawaran dari berbagai perusahaan yang ada di berbagai wilayah yang berbeda. Setiap individu bebas ingin menjadi apa saja, karena tidak terikat oleh sistem perbudakan seperti yang terjadi pada masyarakat agraris tradisional.

    Lalu, bagaimana kapitalisme tersebut dapat berkembang sampai sekarang? Apa kaitannya dengan kasus skandal korupsi yang terjadi pada PT. Asabri?

     

    Tesis Perkembangan Kapitalisme Max Weber

    Dalam The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, Weber menulis bahwa kapitalisme lahir dari ketelitian yang khusus, perhitungan dan kerja keras dari Bisnis Barat, dan didorong oleh perkembangan etika Protestan yang muncul pada abad ke-16, serta digerakkan oleh doktrin Calvinisme, yaitu doktrin tentang takdir (Damsar, 2015). Pemahaman tentang takdir tersebut menuntut kepercayaan bahwa Tuhan telah memutuskan keselamatan dan kecelakaan. Selain itu, doktrin tersebut juga menegaskan bahwa tidak seorang pun yang dapat mengetahui apakah ia terpilih (selamat) atau tidak (celaka).

    Maka dari itu, menurut Weber, muncullah sebuah kepanikan tentang keselamatan. Cara menenangkan kepanikan tersebut adalah orang harus berfikir bahwa seseorang tidak akan berhasil tanpa diberkahi Tuhan, Oleh karena itu, keberhasilan adalah tanda keterpilihan. Untuk mencapai keberhasilan tersebut seseorang harus melakukan aktivitas kehidupan. Aspek dari aktivitas kehidupan tersebut termasuk aktivitas ekonomi dan politik, yang dilandasi oleh disiplin dan bersahaja, serta menjauhi kehidupan boros dan bersenang-senang, yang didorong oleh ajaran agama.

    Menurut Weber, etika kerja dari Calvinisme yang berkombinasi dengan kapitalisme membawa masyarakat pada perkembangan kapitalisme modern. Jadi, doktrin Calvinisme tentang takdir memberikan dorongan psikologis bagi rasionalisasi dan sebagai perangsang kuat dalam pertumbuhan ekonomi kapitalis dalam tahap-tahap pembentukannya.

    Hubungan antara semangat kapitalisme dan etika Protestan tersebut memiliki kaitan konsistensi yang logis dan memberikan pengaruh motivasional yang bersifat mendukung secara timbal balik. Oleh karena itu, menurut Weber, hubungan semacam itu dinamakan elective affinity, yang menghantarkan kapitalisme untuk mentransformasi diri dalam bentuk modern, yang bercirikan diantaranya adalah tata buku atau akutansi rasional, hukum rasional, teknik rasional (mekanisasi), dan massa buruh menerima upah di pasar bebas karena mereka perlu untuk memperoleh penghasilan.

    *****

    Berangkat dari tesis perkembangan kapitalisme Max Weber seperti yang telah dijelaskan di atas, maka ia mengemukakan sebuah teori tentang perubahan sosial dalam masyarakat yang mana didalamnya terdapat dikotomi dalam perkembangan masyarakat yang didasarkan pada 6 dimensi, yaitu Bentuk Kepemilikan, Mekanisme, Tenaga Kerja, Pasar, Hukum Yang Berlaku, dan Motivasi Utama.

    Dikotomi dalam perkembangan masyarakat yang dikemukakan oleh Weber tersebut dapat kita pergunakan untuk melihat hubungan logis antara kasus korupsi PT. Asabri dengan gagasan tentang kapitalisme sebagai kendaraan untuk lolos dari perbudakan.

    Pada masyarakat agraris tradisional, kepemilikan diwariskan secara turun-temurun, sedangkan pada masyarakat kapitalis, kepemilikan terhadap alat-alat produksi bersifat pribadi. Artinya, terdapat dua buah perbedaan, yaitu pada masyarakat agraris tradisional kepemilikan ditentukan dan dikontrol oleh tradisi turun-temurun, sedangkan pada masyarakat kapitalis kepemilikan ditentukan dan dikontrol oleh sebuah mekanisme pasar.

    Sistem produksi masyarakat agraris tradisional relatif lebih sederhana, karena dilandasi oleh peralatan manual. Sedangkan pada masyarakat kapitalis, mekanisme pekerjaan lebih efektif karena adanya penemuan alat-alat produksi dengan teknologi baru, yang membuat proses produksi jauh lebih efisien daripada sebelumnya.

    Terkait dengan sistem tenaga kerja, pada masyarakat agraris tradisional, tidak terjadi mobilitas tenaga kerja. Oleh sebab itu, sekali menjadi budak atau hamba, maka sampai mati bahkan sampai keturunan anak cucu seorang individu akan tetap menjadi budak atau hamba.

    Sedangkan pada masyarakat kapitalis, mobilitas tenaga kerja sangat mengalir, karena bentuk kepemilikan yang ditentukan dan dikontrol oleh pasar menyebabkan timbulnya banyak perusahaan, sehingga setiap individu dapat bebas bergerak menggunakan tenaga kerjanya menanggapi permintaan dan penawaran dari perusahaan yang berbeda. Oleh karenanya, setiap individu dalam masyarakat kapitalis dapat bebas memilih jalan hidupnya serta tidak terikat seperti pada masyarakat agraris tradisional (sekali menjadi budak, maka sampai anak cucu tetap menjadi budak).

    Pada masyarakat agraris tradisional, pasar juga belum berkembang. Keberadaannya hanya dilihat sebagai bagian dari tradisi. Misalnya, keberadaan pasar hanya dibutuhkan karena keperluan adanya suatu ritual keagamaan dan politik. Pasar dihambat perkembangannya, karena adanya keterbatasan kepemilikan yang mengakibatkan terjadinya monopoli kelas, Sedangkan pada masyarakat kapitalis, pasar mengatur dirinya sendiri melalui hukum permintaan dan penawaran. Dengan demikian, apa dan bagaimana tentang produksi dan konsumsi diatur oleh pasar. Produksi bukan diatur oleh tradisi, melainkan untuk massa dan mendapat keuntungan melaluinya.

    Selain itu, penerapan hukum yang berlaku pada masyarakat agraris tradisional bersifat khusus, artinya hukum diterapkan berbeda untuk kelompok sosial yang berbeda. Sedangkan pada masyarakat kapitalis, hukum bersifat universal, artinya semua orang sama dimata hukum.

    Yang terakhir, motivasi utama dari masyarakat tradisional adalah suatu pemuasan terhadap kebutuhan sehari-hari. Sebaliknya pada masyarakat kapitalis, orang dimotivasi oleh kehausan untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.

    *****

    Hubungan logis antara kasus korupsi PT. Asabri dengan gagasan kapitalisme sebagai kendaraan untuk lolos dari perbudakan dapat kita lihat pada dimensi hukum yang berlaku di masyarakat kapitalis. Hukum yang tidak pandang bulu dan universal tersebut dapat menyebabkan siapa saja yang bersalah di mata hukum (tidak pandang harta, kelas, dan sebagainya) dapat diproses secara hukum. Oleh sebab itu, semua orang mendapatkan kesempatan yang sama dalam hukum yang berlaku di masyarakat kapitalis, dalam arti tidak ada kata kebal hukum karena alasan kelas sosial sehingga perbudakan dapat dihapuskan dari prinsip hukum yang berlaku pada masyarakat kapitalis.

    Praktik masyarakat kapitalis membuka peluang berupa kesempatan yang sama bagi setiap individu. Oleh sebab itu, tidak ada lagi tradisi jika terlahir sebagai budak, maka sampai meninggal atau sampai keturunan anak cucu tetap menjadi budak. Sebaliknya, setiap individu dengan bebas dapat menentukan nasibnya dan cara untuk mewujudkan cita-cita mereka.

    Sebagai penutup, melalui pandangan dan pemikiran Max Weber tentang kapitalisme, maka kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa tidak selamanya praktik kapitalisme dapat dipandang sebagai penghambat dan pemicu konflik-konflik sosial seperti yang dikatakan oleh Marx.

    Sebaliknya, kapitalisme dapat dijadikan sebagai sebuah kendaraan untuk mengubah nasib setiap individu menuju kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Oleh karena itu, kasus korupsi PT. Asabri menjadi sebuah pelajaran bagi kita semua, bahwa tidak ada lagi yang mana budak dan yang mana majikan, setiap orang diperlakukan sama dalam praktik hukum kapitalisme.

     

    Referensi

    Buku

    Butler, Eamonn. 2019. Kapitalisme: Modal, Kepemiliikan, dan Pasar yang Menciptakan Kesejahteraan Dunia. Jakarta : Suara Kebebasan.

    Damsar. 2015. Pengantar Teori Sosiologi. Jakarta: Kencana.

     

    Internet

    https://m.merdeka.com/uang/kronologi-terkuaknya-kasus-korupsi-asabri-terbesar-sepanjang-sejarah-indonesia.html Diakses pada 30 Maret 2021, pukul 09.32 WIB.