Kapitalisme, Liberalisme, dan Logika Kiri

    1284

    Sebagaimana yang kita tahu, dunia kini tengah melawan musuh bersama yang telah merusak dan melumpuhkan ekonomi global. Musuh yang tengah kita hadapi bukan manusia, tetapi sebuah virus kecil yang berukuran 125 nanometer, yakni virus COVID-19 atau yang akrab dengan nama virus Corona.

    Hingga bulan Maret 2020, virus ini sudah menyebar lebih dari 79 negara dan telah menginfeksi lebih dari 300.000 orang dengan angka kematian lebih dari 16.000 jiwa (Kompas, 24/03/2020). Tentu saja, dengan angka kematian yang begitu besar, masyarakat di berbagai belahan dunia merasa ketakutan dan berusaha untuk mengisolasi diri di rumah. Beberapa negara seperti Italia, Malaysia, dan Filipina sudah menutup diri dan melakukan karantina massal atau lockdown.

    Indonesia pun sangat terpukul dengan merebaknya virus yang menyebar di hampir seluruh provinsi. Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika babak belur hingga mendekati angka Rp17.000. Tentu saja, jatuhnya mata uang rupiah akan berdampak pada dunia industri dan akan membuat daya beli masyarakat menurun. Bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga, sudah ekonomi lesu, jumlah korban virus Corona pun semakin bertambah banyak.

    Jumlah warga Indonesia yang terinfeksi Corona saat ini sudah tembus ke angka 500 orang. Semua orang panik dan ketakutan. Kebutuhan alat kesehatan seperti vitamin, masker, dan juga hand sanitizer ludes dan menghilang di pasaran. Jikapun ada, harganya sangat tinggi hingga berkali-kali lipat dari harga normal.

    Krisis alat-alat kesehatan, pelayanan kesehatan yang buruk dan juga ekonomi Indonesia yang diambang krisis, kemudian membuat banyak para aktivis berhaluan kiri menganggap bahwa krisis yang terjadi saat ini adalah bentuk kebobrokan dari sistem kapitalisme.

    Dalam kacamata kaum kiri, virus Corona adalah bukti dari kerakusan kapitalisme dalam mencari untung dan peluang bisnis. Mereka menganggap bahwa mewabahnya virus Corona merupakan tanda sistem kapitalisme yang rakus eksploitatif. Buktinya, ketika Corona merebak, mereka justru memanfaatkannya untuk mencari keuntungan sendiri.

    Lelucon Sosialisme dan Retorika Kaum Kiri

    Memang harus diakui, bahwa spirit kemanusiaan yang diimpikan oleh teman-teman sosialis sangat dan membakar semangat melawan penindasan. Akan tetapi, meskipun kita dapat bersepakat mengenai ide dasar bahwa penindasan harus lenyap, bukan berarti bahwa komunisme dan sosialisme merupakan solusinya.

    Jika kita mengatakan bahwa negara sosialis paling etis dan menjunjung kemanusiaan dan persaudaraan, mari kita telaah satu persatu. Penulis kelahiran Soviet, Aleksandr Solzhenitsyn misalnya, dalam bukunya, The Gulag Archipelago, menyebutkan bahwa korban dari rezim totalitarian Uni Soviet berjumlah sekitar 66,7 juta orang. Mereka semua adalah orang-orang yang dituduh melawan Partai Komunis, atau dianggap penghalang bagi cita-cita masyarakat sosialis, bukan penjahat atau perampok.

    Sementara di China, Revolusi Kebudayaan telah menelan korban 1,5 juta jiwa. Mereka yang menjadi korban adalah orang-orang yang dituduh komprador, borjuasi, intelektual yang anti rakyat dan lain sebagainya. Selain itu, akibat kebijakan kolektivisasi lahan pertanian, lebih dari 40 juta jiwa kehilangan nyawa karena kelaparan. Hal ini juga yang akhirnya mendorong banyak warga China mengkonsumsi hewan liar, yang nantinya akan menjadi sumber wabah penyakit

    Di Kamboja, rezim Komunis Khmer Merah yang dipimpin Pot Pot telah mengirim lebih dari seperempat penduduk negeri tersebut, atau sekitar 2 juta jiwa ke gerbang kematian. Pada akhirnya, semua negara sosialis adalah sama, yaitu represif dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial.

    Di setiap negara sosialis, rakyat terkekang kebebasannya. Kreativitas individu harus  mengalah dari keinginan penguasa. Kesenian harus sejalan dengan garis politik dengan negara sebagai pusatnya. Dari sini, saya hanya ingin mengatakan bahwa moralitas komunis dan sosialisme yang menekankan kolektivisme dan keseragaman, akan selalu berakhir pada despotisme. Tanpa menghargai kepemilikan pribadi dan hak kebebasan individu, maka perampasan dan kesewenang-wenangan pasti terjadi.

    *****

    Saya akui, adalah benar bahwa liberalisme menjunjung semangat individual. Namun, bukan berarti liberalisme adalah egoisme. Kebebasan tidak sama dengan keliaran. Kebebasan individu adalah filosofi dasar bahwa Anda dan saya diakui sebagai individu yang otonom dan memiliki hak-hak dasar yang harus dilindungi. Hak-hak dasar itu diantaranya adalah hak untuk hidup, hak memiliki properti, hak untuk bebas berkeyakinan, hak untuk bebas menyuarakan pendapat dan hak atas jaminan hukum yang adil tanpa pandang bulu.

    Hak dasar tersebut adalah fondasi awal untuk menentang feodalisme. Seruan kaum liberal Prancis di abad ke 18, yakni liberte (kebebasan), egalite (kesetaraan), dan fraternite (persaudaraan) telah membebaskan perbudakan dan menjatuhkan tirani kaum aristokrat yang hobi menarik pajak sangat tinggi.

    Salah total jika memandang liberalisme menjunjung egoisme. Liberalisme menghargai hasrat altruis (kebaikan) dan melawan siapapun yang melakukan agresi atau kekerasan yang melanggar hak orang lain. Jika Anda dan saya saling menghargai dan menjaga kebebasan masing-masing, maka tentu akan lahir keteraturan dan keharmonisan sosial.

    Sedangkan, kapitalisme adalah kegiatan ekonomi manusia yang mengakui hak setiap orang untuk mencari kebahagiaan. Kapitalisme adalah suatu sistem ekonomi yang bertumpu pada kebebasan setiap manusia untuk bertransaksi dan melakukan kegiatan ekonomi.

    Kapitalisme menolak segala bentuk oligarki, monopoli, dan pasar yang dikekang oleh para birokrat pemerintah. Jadi, tuduhan bahwa kapitalisme mendorong perselingkuhan antara negara dan pelaku usaha, sebagaimana yang kerap dilontarkan oleh para aktivis kiri adalah bentuk kekacauan berpikir. Bila hal itu terjadi, maka pasar tidak akan lagi menjadi bebas, dan hal tersebut merupakan antitesis dari kapitalisme

    Lantas, kembali ke persoalan awal, apakah habisnya masker dan hand sanitizer adalah akibat kebuasan kapitalisme?

    Manusia memiliki hasrat untuk menjaga diri pribadi ketika bahaya menimpa. Ludesnya masker karena masyarakat panik hingga menyikat habis seluruh produk masker yang mereka temui, maka mengikuti hukum pasar, harga masker niscaya meningkat.

    Keadaan ini memberi sinyal bagi pelaku usaha untuk memproduksi masker dan hand sanitizer. Tidak bisa dibantah bahwa profit mungkin merupakan salah satu tujuan mereka. Tetapi dampaknya, bila semakin banyak produk masker dan hand sanitizer di pasar, maka harga akan kembali stabil.

    Sekarang bayangkan, bila masalah ini berada di dalam negara komunis dan sosialis. Negara memonopoli produksi masker dan membatasinya sesuai jatah, sehingga ketika ada wabah, otomatis kebutuhan masker meningkat sedangkan produksi dibatasi, maka hal tersebut akan mendorong terjadinya krisis. Inilah yang terjadi di Soviet dulu, ketika negara komunis tersebut mengalami krisis bahan-bahan pangan seperti daging, tisu toilet, dan permen, sehingga orang mengantri berjam-jam hanya untuk mendapatkan barang tersebut (Russia Beyond, 2015).

    Sebaliknya, negara kapitalis memang mengenal krisis, tapi krisis itu akan dapat dilewati, karena “invisible hand” dalam pasar bebas akan membantu menstabilkan harga. Sebaliknya, sosialisme cenderung kolot dalam kebijakan ekonomi, sehingga mereka ditimpa krisis berkali-kali karena tidak bisa mengelola sumber daya secara efisien.

     

    Referensi

    https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/24/072421265/update-virus-corona-di-dunia-378287-orang-terinfeksi-100958-sembuh-16497  Diakses pada 26 Maret 2020, pukul 01.22 WIB.

    https://id.rbth.com/discover_russia/2015/08/12/kelangkaan_zaman_soviet_berburu_barang_harus_antre_berjam-jam_29103 Diakses pada 26 Maret 2020, pukul 03.41 WIB.