Joe Biden, Populisme, dan Globalisasi

135

Pada 9 November 2016 lalu, dunia terkejut dengan kemenangan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Kemenangan tersebut adalah sesuatu yang tidak terduga, bukan hanya kerena retorika yang digunakan oleh Trump, yang banyak mencela kelompok-kelompok tertentu hingga lawan politiknya, namun juga karena kemenangan tersebut berlawanan keras dengan berbagai survei yang dilakukan banyak oleh media dan lembaga penelitian.

Harian The New York Times misalnya, pada hari sebelum pemilihan presiden berlangsung, memberi prediksi 85% Hillary Clinton akan memenangkan pemilihan presiden, sebagai presiden perempuan pertama di negeri Paman Sam (NYTimes, 8/11/2016). Oleh karena itu, kemenangan Donald Trump adalah sesuatu yang sangat tidak diduga oleh banyak pihak.

Selama kampanye, Trump kerap mengeluarkan berbagai retorika yang menyerang kelompok-kelompok tertentu. Ia mengatakan bahwa kelompok etnis Meksiko di negaranya adalah pemerkosa dan kriminal, dan hanya beberapa yang orang baik. Ia juga berjanji, bila ia terpilih menjadi kepala negara Amerika Serikat, ia akan melarang umat Muslim untuk masuk ke negaranya (BBC, 8/12/2015).

Selain itu, kampanye Trump juga kerap diikuti oleh berbagai pernyataan populis, salah satunya adalah menentang perdagangan bebas. Ia bersikeras untuk menentang China melalui kebijakan ekonomi proteksionis, dan juga menarik Amerika Serikat dari kesepakatan perdagangan bebas seperti Trans-Pacific Partnership (TPP) (The Washington Post, 13/4/2018).

Ketika ia menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, Trump memberlakukan banyak janji-janji yang ia ucapkan selama kampanye.  Ia misalnya, memulai perang dagang (trade war) dengan China melalui berbagai kebijakan tarif impor. Berdasarkan data dari Brookings Institute, kebijakan perang dagang yang dilancarkan oleh Trump telah membuat Amerika Serikat mengalami kerugian hingga lebih dari 300 miliar Dollar (Brookings.edu, 07/8/2020).

Kebijakan Trump untuk semakin menarik Amerika Serikat dari globalisasi tentu sesuatu yang amat patut disayangkan. Hal ini juga merupakan kebijakan yang berbanding terbalik dari kebijakan negeri Paman Sam sejak pasca Perang Dunia II berakhir, di mana Amerika Serikat semakin mendorong dirinya untuk terlibat dan berintergrasi dengan dunia internasional.

Namun, kepemimpinan Trump di Amerika Serikat hanya dapat bertahan hingga 4 tahun. Pada pemilihan presiden Amerika Serikat bulan November lalu, Mantan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, berhasil memenangkan pemilu mengalahkan Donald Trump, dan Biden direncanakan akan dilantik secara resmi pada bulan Januari tahun 2021 nanti.

Kemenangan Biden atas Trump tentu merupakan sesuatu yang patut kita apresiasi. Kebijakan yang diambil oleh Donald Trump, dan juga retorika yang ia ucapkan selama 4 tahun kepemimpinannya, tidak hanya berdampak pada semakin terisolasinya Amerika Serikat dari dunia internasional, namun juga semakin merusak citra negeri Paman Sam tersebut sebagai negara pelopor kebebasan dan demokrasi.

Diharapkan, Biden akan mengembalikan Amerika Serikat untuk tidak semakin menarik diri dan kembali berintergrasi dengan dunia internasional. Hal ini tentu merupakan sesuatu yang sangat penting, mengingat pengaruh negara-negara otoritarian seperti China dan Rusia saat ini semakin besar. Belum lagi, gerakan-gerakan populis yang ingin menarik negaranya dari globalisasi saat ini juga semakin meningkat di berbagai negara di dunia (Policynetwork.org, 11/4/2019).

Indonesia tentu harus bisa mengambil kesempatan dari terjadinya fenomena tersebut. Kita harus mampu membangun hubungan yang lebih baik dengan Amerika Serikat, dan mengambil manfaat dari potensi kembalinya negeri Paman Sam tersebut ke dalam dunia internasional.

Dan yang tidak kalah pentingnya, melalui pemilihan presiden Amerika Serikat bulan November lalu, kita dapat mengambil pelajaran mengenai bahaya demagogi terhadap persatuan dan keberagaman kita. Amerika Serikat saat ini merupakan negara yang sangat terpolarisasi, di mana kebencian antar mereka yang berafiliasi dengan Partai Demokrat yang berhaluan kiri dan Partai Republikan yang berhaluan kanan semakin meningkat (Time.com, 4/11/2020).

Meningkatnya berbagai gerakan politik anti globalisasi di berbagai negara di dunia juga sesuatu yang sangat mengkhawatirkan. Kita harus selalu menjaga, jangan sampai Indonesia kelak bernasib sama seperti Amerika Serikat di tahun 2016 lalu, di mana negara kita jatuh ke bawah pemimpin populis, yang memanfaatkan sentimen masyarakat terhadap kelompok tertentu untuk mendapatkan kekuasaan, dan semakin menarik diri dari dunia internasional.

Indonesia harus tetap mampu dan semakin berani untuk membuka diri dan mengintegrasikan dirinya ke dunia internasional. Hanya dengan melalui cara itulah, negara kita akan dapat semakin maju dan berkembang, bukan dengan menutup dan mengisolasi diri dari masyarakat dunia.