Jalan Buntu Materialisme Historis

    1496

    Di tengah ramainya pernyataan ngawur dari para petinggi lembaga negara, saya dikejutkan dengan satu artikel menarik yang terbit di Indoprogress pada 27 Februari 2020 lalu, yang berjudul “Menjawab Tantangan Libertarian.

    Artikel tersebut ditulis oleh ketua Perhimpunan Muda, Francesco Hugo. Ia adalah salah satu penulis yang tulisannya sering saya baca di Indoprogress, selain Martin Suryajaya. Ketika saya membaca ulasannya soal kritik libertarian atas Marxisme, sejenak memberi saya alasan untuk menulis kembali setelah sekian waktu.

    Dalam artikel tersebut, dijabarkan bahwa penulis ingin agar kritik terhadap Marxisme dimulai dari esensi Marxisme itu sendiri. Ia berangkat dari tulisan Djohan Rady di Suara Kebebasan. Djohan tidak memenuhi standar itu bagi dia, oleh karena itu, kurang absah.

    Saya dalam hal ini bersepakat dengan pernyataan Djohan dalam tulisannya bahwa, “Marxisme sebetulnya adalah narasi ideologis ketimbang kajian sosial ilmiah yang mempunyai basis material-empiris.” Dan ini setidaknya akan saya tunjukkan dengan memulainya dari tempat Marxisme berdiri tegak, yakni materialisme historis.

    Apa itu materialisme historis? Secara ontologis umumnya dipahami lewat tesis “basis mengkondisikan suprastruktur”. Antara basis dan suprastruktur pada dirinya saling mempengaruhi dengan cara berbeda. Basis mengkondisikan suprastruktur secara absolut, sedangkan suprastruktur mengkondisikan basis secara relatif. Contoh sederhananya adalah, realitas material mengkondisikan realitas mental, dan realitas mental secara relatif mengkondisikan realitas material.

    Artinya, manusia terstruktur pada alam (phusis). Namun, manusia dengan kapasitas intelektualnya, mampu mengubah alam pada batas-batasnya yang dimungkinkan.

    Jika melihat relasi tiap elemen realitas dalam konsep materialisme historis, basis epistemologis dari Marxisme tampak jelas mengemuka. Kita tak mungkin melibatkan semacam bentuk pengetahuan yang sifatnya antecedent. Sebab, prioritas metafisis yang digunakan oleh Marxisme adalah materialisme sebagai asas tertinggi.

    Konsekuensinya, pengetahuan kita harus selalu didasarkan pada hal-hal material. Dan seperti pembacaan para pendukung Marxisme, Marx tidak hanya mengikuti Feuerbach. Ia juga adalah seorang Aristotelian yang konsisten dalam tataran metodologis. Sehingga, karakter pengetahuan yang benar adalah empirisme yang rendah hati, atau suatu realisme yang selalu mengandaikan substansi. Ini kemudian menunjukkan alasan kenapa Marx, misalnya, mengkritik Hegel karena memprioritaskan ide ketimbang materi, dan predikat ketimbang subjek.

    Jadi, tesis basis sebagai prakondisi absolut bagi suprastruktur dan suprastruktur sebagai prakondisi relatif bagi basis. Sederhanya adalah, bagaimana manusia berhubungan dengan alam yang mengkondisikannya. Sehingga, manusia secara alamiah menggunakan kesadarannya untuk bertahan hidup dengan melakukan aktivitas produksi.

    Menggunakan kosakata Marxisme, pemenuhan kebutuhan hidup manusia sebagai makhluk biologis terjadi lewat proses produksi dalam konteks pembagian kerja di dalam masyarakat. Proses produksi inilah kemudian yang menjadi fondasi atau basis yang mengkondisikan suprastruktur, seperti politik, agama, ideologi, dan semacamnya. Di dasar inilah, bagi para Marxis, kapitalisme melakukan kemaksiatan secara terang-terangan. Tapi, apakah benar demikian?

    Maksud dalam analisis Marxisme mengenai materialisme historis sebagai “basis” untuk keseluruhan sistem tidak lain adalah realitas ekonomi kapitalisme, atau sebuah sistem dengan modus produksi yang eksploitatif. Pertanyaannya kemudian, apakah sesungguhnya locus dari modus produksi itu?

    Pertama-tama, dalam Capital Volume 1, semuanya dimulai dari analisis produksi komoditas. Dalam analisis Marx, suatu komoditas didefinisikan sebagai objek eksternal yang berguna dan diproduksi untuk dipertukaran di pasar. Dengan demikian, dua syarat yang diperlukan untuk produksi komoditas adalah keberadaan pasar, di mana pertukaran dapat terjadi.

    Dari sini, pembagian kerja sosial dimungkinkan, dimana orang yang berbeda menghasilkan produk yang berbeda. Tanpa ini, tidak akan ada motivasi untuk pertukaran. Marx disini juga menunjukkan bahwa, komoditas memiliki nilai guna (kegunaan), dan nilai tukar, yang pada awalnya harus dipahami sebagai harganya. Nilai guna dapat dengan mudah dipahami, demikian kata Marx. Tetapi nilai tukar adalah fenomena yang membingungkan. Bagaimana bisa komoditas yang satu dipertukarkan dengan komoditas yang lainnya?

    Bagi Marx, ini karena ada tenaga kerja yang terlibat di dalamnya. Tenaga kerja diperlukan untuk menghasilkan komoditas, atau lebih tepatnya, diperlukan secara sosial pada tingkat rata-rata intensitas dan produktivitas. Dalam kerangka ini, lahirlah teori nilai kerja, yang menyatakan nilai suatu komoditas ditentukan oleh jumlah waktu kerja untuk memproduksinya.

    Teori ini pada dirinya sudah terlihat rapuh. Sebab, ketika industri menjadi lebih mekanis dan efisien dalam penerapan teknologi (kapital-konstan), tidak berarti suatu komoditas menjadi tak bernilai atau kurang bernilai. Implikasi teoretisnya, kemudian menunjukkan kepada kita bahwa teori tersebut tidak hanya tidak masuk akal. Teori itu bahkan secara empiris tidak bisa dikonfirmasi.

    Setelah menunjukkan bagaimana teori nilai kerja bekerja, Marx kemudian mendiagnosa corpus kapitalisme. Bagi Marx, kapitalisme melakukan pertukaran, akan tetapi, dengan tujuan laba. Demi laba, seorang kapitalis bertindak dengan cara sedemikian rupa seperti membeli suatu komoditas kemudian mengubahnya menjadi komoditas lain, yang secara bersamaan menentukan harga dari setiap barang tersebut.

    Dalam siklus produksi itu seorang kapitalis membeli tenaga kerja untuk melakukan produksi. Marx kemudian menyebut hal ini sebagai “kapital-variabel”, yaitu harga tenaga kerja berupa upah yang dibayarkan. Dalam tataran ini, buruh selalu menghasilkan nilai lebih buat kapitalis melebihi apa yang ia terima. Di sinilah Marx menerima wahyunya, teori “nilai lebih”.

    Contoh paling umum yang kerap digunakan untuk menggambarkan teori nilai lebih adalah, buruh digaji 100.000 per hari selama delapan jam kerja. Akan tetapi, dalam delapan jam kerja, buruh mampu memproduksi lebih dari nilai upah yang ia hasilkan, yakni 200.000.

    Mengikuti analisis ini, pada dasarnya buruh hanya perlu kerja empat jam sesuai kebutuhannya. Tetapi, karena corak produksi kapitalisme adalah laba, maka jumlah upah itu tetap dimungkinkan. Nilai barang yang diproduksi selama waktu kerja tambahan diekstraksi oleh pengusaha kapitalis. Ini kemudian disebut “eksploitasi”, yang direkatkan pada cara produksi kapitalisme.

    Seperti Adam Smith dan David Ricardo, Marx kemudian mendorong gagasan tenaga kerja menjadi satu-satunya sumber nilai sampai pada kesimpulan akhirnya. Berikut pembedaan Marx yang terkenal, CMC-MCM.

    Urutan dalam pra-kapitalis misalnya, seorang pekerja menghasilkan komoditas C, menjualnya dengan uang M, dan kemudian membeli komoditas lain C. Pada kerangka ini, tidak ada eksploitasi, karena tidak ada keuntungan. Tidak ada “nilai lebih.” Semua penghasilan adalah upah. Nilai lebih atau laba menurut Marx muncul hanya dalam kapitalisme.

    Berbeda dengan CMC. Di bawah urutan MCM, kapitalis mengeluarkan sejumlah uang M untuk membeli bahan, seperti mesin dan membayar upah. Kemudian, suatu komoditas C diproduksi, yang dijual dengan jumlah uang yang lebih besar M, daripada yang dikeluarkan untuk memproduksinya. Mengikuti kerangka materialisme historis, maka M adalah semacam prakondisi absolut bagi eksploitasi.

    Kalau dilihat, Marx secara implisit mengukur mode kerja kapitalisme berdasarkan cara kerja pra-kapitalisme (kalaupun era itu pernah ada). Klaim ini diandaikan pada asumsi bahwa tenaga kerja adalah satu-satunya sumber nilai. Bagaimana ini dipahami?

    Untuk lebih jelas, mari kita ungkap keanehan ini lewat beberapa definisi yang ketat.

    Pertama, “keuntungan” adalah kelebihan yang diterima dari penjualan produk, melebihi biaya berupa uang saat memproduksinya — harus diulang, biaya uang saat memproduksinya.

    Kedua, seorang “kapitalis” adalah orang yang membeli kemudian menjual untuk mendapatkan keuntungan.

    Ketiga, “upah” adalah uang yang dibayarkan sebagai imbalan atas kinerja tenaga kerja. Upah bukanlah untuk produk tenaga kerja, tetapi untuk kinerja tenaga kerja itu sendiri.

    Berangkat dari beberapa definisi ini, dapat disimpulkan bahwa, jika hanya ada pekerja yang memproduksi dan menjual produk mereka, uang yang mereka terima dalam penjualan produk itu bukanlah upah. Di era pra-kapitalis misalnya, semua penerima pendapatan dalam proses produksi adalah pekerja. Tetapi penghasilan para pekerja itu bukanlah upah, melainkan keuntungan, kalau bukan “nilai lebih”.

    Sampai di sini, bisa dikatakan bahwa Marx keliru. Upah bukanlah penghasilan utama dalam produksi. Penghasilan utama adalah keuntungan (laba). Agar upah ada dalam produksi, pertama-tama perlu ada kapitalis. Munculnya kapitalis tidak membawa fenomena keuntungan. Keuntungan sudah ada sebelum kemunculannya. Munculnya kapitalis menghadirkan fenomena upah dan biaya (uang) produksi. Oleh karena itu, mengeneralisir bahwa semuanya adalah penerima upah atau penerima hasil atas kerjanya, adalah kekeliruan kategoris yang berat.

    Sampai di sini, apa implikasi teoritis bagi sistem Marxisme?

    Karena secara kausal tenaga kerja baru ada ketika kapitalisme muncul, maka menurut definisi “upah”, tenaga kerja batal sebagai ukuran nilai. Sebab, tenaga kerja hanyalah pelaku produksi demi produksi itu sendiri, bukan demi produk tenaga kerja. Perhatikan, konsumen tidak pernah membayar upah tenaga kerja ketika membeli produk. Kalau demikian, apa yang eksploitatif dari kapitalisme?

    Jika dilihat dalam kerangka ini, maka seluruh sistem kerja Marxisme runtuh dengan sendirinya. Bahkan, status ontologis materialisme historis ikut berubah, kalau bukan buntu. Karena, kontradiksi yang dibangun rapi oleh Marxisme gagal memetakan kategori antara upah dan laba. Maka tak ada lagi kontradiksi. Tak ada lagi harapan bahwa masyarakat sosialisme adalah sebuah keniscayaan.

    Tampak sudah bahwa kunci utama dalam kerangka konseptual Marxisme adalah kerja sebagai ukuran nilai. Konsep ini sengaja disusun untuk tetap konsisten menentang kapitalisme hingga ke akar-akarnya. Ini kemudian memunculkan semacam ambiguitas bahwa memahami kapitalisme sebagai fakta material, tapi sekaligus juga dengan kacamata moral, (ada hal yang buruk yang harus diperbaiki). Alasan inilah yang membuat saya sepakat dengan klaim Djohan Rady, bahwa Marxisme tidak lain adalah narasi etis kembang ajaran ilmiah.

    Apalagi banyak deskripsi Marx tentang kapitalisme menggunakan kata-kata penggelapan, perampokan, dan eksploitasi. Bahkan, seorang komentator Marxisme par excellence,  G. A. Cohen, mendeskripsikan dengan rumit bahwa, “Marx percaya kapitalisme tidak adil. Tetapi, ia tidak percaya bahwa ia sendiri percaya bahwa itu tidak adil.” Dengan kata lain, Marx, seperti banyak dari kita, tidak memiliki pengetahuan yang sempurna tentang pikirannya sendiri.