Irasional Katastropik (Part I)

    664

    Dunia semakin lama semakin buruk, manusia adalah biang kerok masalah, kita berada di ambang akhir peradaban. Kehidupan semakin lama semakin amburadul.

    Demikianlah kurang lebih kata-kata dari kalangan pesimis peradaban. Mereka memiliki pandangan yang deklinis tentang kemajuan. Memandang bahwa hidup di bumi, semakin lama semakin memburuk, dan semuanya adalah biang kerok manusia. Saat diminta solusi, solusi yang di berikan pun tidak rasional dan terkesan utopis. Entah menolak industrialisasi, kembali ke masa lampau yang anggun dan harmonis, melemahkan insentif pribadi berdasarkan kepemilikan, bahkan juga pandangan-pandangan anti-natalisme yang memandang bahwa keberadaan manusia adalah hama yang harus dihentikan karena merusak alam.

    Saya sendiri memiliki pandangan yang optimis terkait hidup di bumi dan juga manusia. Dan ada beberapa alasan kenapa saya beranggapan demikian.

    Pertama, bumi bukanlah surga, bukan pula tempat di mana semua keinginan dan angan-angan kita terwujud. Bumi sejak awal adalah tempat yang memang penuh dengan masalah. Dan serangkaian masalah itu sudah ada bahkan jauh sebelum manusia dengan peradaban modern muncul.

    Jadi, sangat salah jika kemudian diasumsikan bahwa semua masalah di bumi ini adalah karena ulah tangan manusia. Ini adalah pandangan yang terlalu oversimplifikasi, Hanya karena manusia melakukan A dan terjadilah B, lantas segera diasumsikan bahwa tindakan manusia A tadi pastinya memiliki hubungan sehingga terjadilah peristiwa B. Jenis fallacy of causation ini sangat umum dan sering terjadi. Padahal, belum tentu semacam itu. Hanya karena B terjadi sesaat setelah A, bukan berarti B disebabkan oleh A.

    Kedua, manusia adalah agen yang kreatif. Dia selalu mencari ide bagaimana menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Sejak awal keberadaan manusia, ia selalu ditimpa dengan “empat penunggang kuda kematian,” yaitu: wabah, kelaparan, perang, dan bencana alam. Namun, berkat kecerdasan dan kreatifitasnya, manusia berhasil menghadapi itu semua, dan sekarang kita hidup di era di mana kematian karena peperangan, wabah, kelaparan, dan bencana alam semakin kecil. Ini menunjukkan bahwa manusia berhasil memitigasi dampak katastropik dari bencana yang ia hadapi.

    Tentu saja, manusia bukan malaikat yang selalu benar. Namun akan salah juga, bila kita menganggap manusia adalah setan yang selalu memiliki kecenderungan destruktif. Posisi saya tentang manusia sama seperti para pemikir Pencerahan melihat manusia.

    Manusia di satu sisi, punya kecenderungan destruktif yang merusak. Ia penuh dengan sifat tamak, haus kekuasaan, rakus, iri dengki, dendam dan kecenderungan untuk menguasai. Namun, manusia juga memiliki potensi baik yang dengannya bias melawan kecenderungan-kecenderungan destruktif dan irasional tersebut. Yaitu nalar dan juga empati. Dua sifat tersebut lah yang menjadi dasar dari seluruh kemajuan manusia. Sederhananya, manusia memang memiliki keterbatasan, dan dari situlah kita berkembang.

    Dua alasan tersebut membuat saya justru optimis pada manusia dan peradaban modern. Kita sudah punya senjata di tangan kita, yang kita susun dan buat sendiri, yang senjata tersebut membuat kita menyelesaikan semua masalah yang kita hadapi, yaitu sains. Produk nalar manusia terbesar yang pernah ada.

    Thomas Malthus dan Taruhan Paul Ehrlich vs Julian Simon

    Sebelum membahas lebih lanjut soal bencana katastropik yang diramalkan oleh para pesimis peradaban, terlebih dahulu coba kita membahas dua kasus besar yang pernah ada dalam sejarah. Yang pertama, adalah pemikiran Thomas Malthus dan taruhan Paul Ehrlich vs Julian Simon.

    Sekilas tentang Malthus, ia adalah orang pertama yang menjadi pakar demografi dunia pertama asal inggris. Dia lahir  pada 13 Februari 1776 di Surrey, Inggris, dan meninggal pada 29 Desember 1834 di Haileybury, Hertford. Salah satu pandangan Malthus yang terkenal adalah tentang populasi dan sumber daya alam. Malthus memiliki pandangan yang pesimis tentang masa depan umat manusia.

    Dalam pandangan Malthus, sumber daya alam bersifat tetap, sedangkan populasi manusia semakin bertambah. Dari sini, pertumbuhan populasi berdampak terbalik dengan keberadaan sumber daya alam. Semakin manusia bertambah, maka sumber daya semakin sedikit. Populasi, ketika tidak terkontrol, meningkat dalam rasio geometris. Subsitens atau swasembada hanya meningkat dalam rasio aritmatika. Sedikit pengetahuan dengan angka-angka akan menunjukkan besarnya kekuatan pertama dibandingkan dengan kedua. Gagasan Malthus inilah yang kemudian mendorong kontrol populasi besar-besaran dengan ancaman katastropik yang memburu.

    Gagasan Malthus ini, meski sudah terbantahkan (saya akan mencoba membantah dalam tulisan-tulisan saya berikutnya) tetap diulang di era modern. Salah satu yang mengulangnya adalah Paul Ehrlich. Paul Ehrlich pada tahun 1968, jelas menyatakan bahwa pada tahun 1980 nanti, enam puluh lima juta orang Amerika dan empat miliar orang lainya akan mati kelaparan. Yang menarik, pada tahun 1980, Julian Simon menantang Ehrlich bertaruh.

    Menurut Simon, manusia tidak akan mudah dikalahkan. Sumber daya alam akan senantiasa bisa diperbarui. Bahkan, dengan kecerdasan manusia, bisa ditemukan sumber daya baru dari sumber daya yang sudah ada sebelumnya dan melipatgandakan jumlah sumber daya yang ada dengan efisien dan tidak membutuhkan banyak sumber daya. Karenanya, bagi Simon, tidak mungkin manusia akan dikalahkan semudah itu dengan gagasan bahwa sunber daya alam akan habis dan kelaparan akan memusnahkan umat manusia.

    Mereka berdua memasang taruhan. Dan benar saja, bukanya terjadi wabah kelaparan sebagaimana yang diramalkan, tapi justru manusia berhasil selamat dari bencana katastropik yang diramalkan. Ekonomi dunia yang ambruk akibat Perang Dunia II semakin lama semakin membaik. Ehrlich harus membayar taruhanya.

    Kenapa baik Malthus maupun Ehrlich bisa gagal? Ada beberapa alasan untuk itu. Baik Malthus maupun Ehrlich sama-sama terjebak dalam zero sum game fallacy saat memandang dunia. Zero sum game fallacy adalah kesalahan berpikir dengan mengasumsikan dunia sebagai suatu sistem tertutup, di mana sumber daya alam bersifat tetap dan tak bisa diperbarui. Sementara, kuantitas manusia dan kebutuhannya selalu bertambah. Dengan demikian, akan ada tahap di mana sumber daya alam tinggal sediki, sedangkan populasi dunia semakin besar. Hal ini akan berujung pada kelaparan massal, peperangan merebutkan sumber daya alam, dan kematian massal.

    Sayangnya, dunia bukan sistem tertutup. Karenanya, tidak bergerak dalam sistem zero sum game. Sumber daya alam bisa diperbarui dan manusia berhasil membuktikan hal itu dengan kecerdasannya. Tak heran kalau kemudian Simon mengatakan bahwa sumber daya paling penting yang ada justru adalah kecerdasan manusia itu sendiri. Bukan kuantitas manusia dan sumber daya yang dimasalahkan, tapi kualitas sumber daya manusianya. Dan dalam hal ini adalah kecerdasannya.

     

    (Lanjut ke bagian II)