Hellbound: Kegilaan Kolektif dalam Fanatisme

27

Judul: Hellbound 

Sutradara: Yeon Sang-Ho

Rumah Produksi: Climax Studio

Tanggal Tayang: 2021

Jumlah Episode: 6

 

Siapa yang tidak kenal Train to Busan? Sebuah film zombie asal korea yang sukses membuat tegang siapa saja yang menontonnya. November kemarin, Sutradara Train to Busan kembali dengan serial Hellbound yang langsung dibuka dengan memperkenalkan tiga ‘malaikat’ berbentuk monster pembunuh dengan alur cerita yang padat dan menegangkan hingga akhir.

Salah satu calon serial terbaik tahun 2021 yang dikembangkan oleh sutradara Train to Busan (2016), Yeon Sang-ho. Seluruh plot langsung dimulai dari awal episode pertama. Mereka yang mendapatkan ‘titah’ kematian (semacam siksa panggilan dari malaikat maut) akan dibunuh oleh tiga monster layaknya gorilla yang menemui mereka di mana saja tepat dalam waktu yang sudah ditentukan sebelumnya.

Di sanalah detektif Jin Kyung-hoon ditugaskan untuk menyelidiki “pembunuhan” dan sekte “The New Truth” yang saat itu memiliki dampak yang besar pada masyarakat luas. Menurut sekte ini, orang-orang yang mendapatkan titah merupakan pendosa yang akan dikirim ke neraka sebagai pembalasan dari Tuhan yang disebut dengan ‘demonstrasi’ (konsepnya sama seperti live siksa neraka). Cerita berlanjut ketika sekte tersebut menawarkan tiga miliar won bagi Park Jeong-ja untuk menyiarkan secara langsung ‘demonstrasi’ yang akan dialaminya. Kyung-hoon dan pengacara Min Hye-jin yang tak bisa mencegahnya mendapati bahwa siaran tersebut merupakan awal dari dunia baru yang mengubah kehidupan masyarakat Korea.

Serial ini menggambarkan bagaimana fenomena supranatural yang tak diketahui bisa ditafsirkan sesuka hati. Layaknya gempa bumi yang dianggap sebagai kemarahan Tuhan, Karakter Jin-soo yang mengetahui fenomena ini selama 20 tahun bisa memberi makna mengenai penghakiman dari Tuhan dan mampu mengubah dunia. Bila hukum yang ditegakkan manusia gagal menghukum orang-orang jahat, maka satu-satunya jalan untuk membalasnya adalah hukum Tuhan.

Sebagian besar orang mungkin akan mengamini pernyataan ini. Namun, apa yang terjadi bila kekuasaan Tuhan dimanfaatkan orang-orang sesuai agenda mereka sendiri? Inilah pertanyaan besar yang ditawarkan dalam Hellbound. Pusat kengerian pun terbelah dua. Para eksekutor dari neraka, serta persekusi oleh massa yang gelap mata dan mengusung “keadilan” versi mereka.

Menonton series Hellbound ini membuat saya berpikir dua kali mengenai pesan tersirat dalam alur ceritanya yang kompleks. Mulai dari pengaruh kediktatoran penguasa dalam masyarakat, konspirasi kultus dalam media, dan bagaimana bahaya nyata populisme di masyarakat.

 

Pemerintah dan Kehadiran Sekelompok Penguasa yang Diktator

Menurut Jules Archer (1985:9), diktator adalah seorang penguasa yang mencari dan mendapatkan kekuasaan mutlak tanpa memperhatikan keinginan-keinginan nyata rakyatnya. Dapat diambil kesimpulan bahwa seorang penguasa yang diktator dalam menjalankan wewenangnya akan menyimpang dan bertentangan dengan prinsip demokrasi serta tidak menghargai hak asasi manusia (HAM). Sebagai akibatnya, masyarakat ditahan dalam sistem represif yang tidak manusiawi (digilib.uns.ac.id).

Dalam usaha membawa para pengikutnya ke tujuan dan cita-cita bersama, pemimpin diktator memegang kekuasaan yang ada pada tangannya secara mutlak. Para pengikutnya harus tunduk, taat, melaksanakan tanpa aspirasi dari pihak lain atau masyarakat umum. Dalam gaya kepemimpinan ini, mereka yang dipimpin dibiasakan setia kepada perintah.

Kepemimpinan diktator ini tercermin dalam series Hellbound di mana organisasi The New Truth memegang andil di samping Pemerintah Negara dan mengikutsertakan prinsip-prinsip organisasinya dalam setiap kebijakan yang diambil. Setiap orang yang mendapat ‘titah’ kematian harus melapor dan bersedia untuk disiarkan secara live, tanpa pengecualian. Jika tidak melapor atau tidak bersedia untuk ditontonkan ‘demonstrasinya’ kepada masyarakat, orang itu akan menjadi buronan negara yang diteror dan dihina di media sosial. Ironis, bukan?

 

Preferensi Mayoritas yang Bertindak Sebagai Polisi Moral

Bagian pertama series Hellbound menceritakan tentang bagaimana Jin-soo, pemimpin sekte The New Truth, mendoktrin masyarakat tentang apa yang dia coba sebar, bahwasannya Tuhan sedang menunjukkan kekuasaannya dan menghukum manusia-manusia yang berdosa. Hal ini perlahan membangun fanatisme yang bertolak ukur pada titah kematian tersebut. Narasi yang dipercaya adalah “siapapun yang mendapat titah, berarti ia hina dan harus diadili”.  Dalam kata lain, sentimen yang dibangun dalam masyarakat di series ini berbasis agama.

Komunikasi politik bernada populis lebih cepat dipahami masyarakat. Dalam series Hellbound misalnya, masyarakat tidak diceritakan bersusah payah untuk mencari tahu asal usul monster pencabut nyawa ini, terlepas dari keberadaannya yang supranatural atau tidak. Mereka langsung percaya dengan keyakinan yang dibawa organisasi The New Truth begitu melihat langsung kejadian demonstrasi ‘siksa neraka’ tanpa mempertanyakan latar belakang atau landasan argumen itu kredibel.

Saat teori dan fakta tidak dapat membuka pikiran seseorang, permainan perasaan adalah jawabannya. Tidak heran sering kali terdengar kata-kata overused nan-puitis dari pidato petinggi negara seperti, “Rakyat akan bergabung memajukan negara ini”, “Hari ini juga hari kemenangan untuk rakyat!”, “Kita akan membangun negara ini dengan tangan kita semua, tangan rakyat”, “Demi rakyat Indonesia!”. Lagi-lagi, hal ini juga ditunjukkan dalam series Hellbound melalui tokoh Lee Dong-Wook sebagai anggota Arrowhead sekaligus influencer. Karakter paling nyentrik dalam series itu mampu mempengaruhi orang-orang, terutama anak-anak muda untuk bergerak ‘membantu’ New Truth dalam memastikan ‘pendosa’ mendapatkan balasan yang setimpal.

Di Indonesia sendiri misalnya, tanpa menyebut secara gamblang, salah satu dari kedua pasangan calon presiden 2019 bergabung di partai dengan ideologi ‘populisme sayap-kanan’ sehingga untuk pemilihannya kali ini, ia menggunakan strategi berbasis agama.

Strateginya menjual dan terlihat adanya perkembangan signifikan terhadap pendukungnya dibandingkan pemilu 5 tahun yang lalu. Sedangkan lawannya yang juga memakai strategi populisme untuk komunikasi politiknya, tetapi tidak begitu menggaris-bawahi perbedaan rakyat dan musuh, mulai mengikuti permainan lawan politiknya. Hal ini yang menyebabkan narasi yang kita dengar di Pilpres 2019 terdengar mirip (stp-mataram.e-journal.id)

Yang perlu digarisbawahi dalam series Hellbound, pengemasan ide fanatisme dan pengaruh New Truth yang berdampak luas pada masyarakat juga sering dijumpai dalam masyarakat modern saat ini. Gambaran orang-orang yang menjadi brutal karena fanatisme adalah sebuah visual yang sudah sering kita lihat sehari-hari di dunia nyata, pemerintah yang mengintervensi ranah privasi dalam setiap kebijakannya, dan representasi media yang bias terhadap populisme hanya untuk mendapat rating tinggi. Hal-hal di atas ini akan memperkeruh diskursus publik, kondisi sosial, dan angka toleransi atas hak asasi manusia suatu negara.

 

Referensi:

Jurnal

https://digilib.uns.ac.id/dokumen/download/4656/MTI1OTk=/Peristiwa-holocaust-1933-1945-masa-pemerintahan-adolf-hitler%202.pdf Diakses pada tanggal 8 Desember 2021, pukul 21.10 WIB.

https://stp-mataram.e-journal.id/JIP/article/view/634/648 Diakses pada tanggal 9 Desember 2021, pukul 14.46 WIB.