Dua Paradigma Beragama: Antara Moderat dan Puritan

    446

    Di suatu seminar bedah buku yang diselenggarakan oleh sebuah universitas negeri di Jakarta, buku yang menjadi bahan diskusi adalah buku karya penulis Ali A. Rizvi, yang berjudul “Sang Muslim Ateis”. Ali A. Rizvi sendiri adalah seorang ex-Muslim, yang dalam bukunya ia menceritakan keluh kesah terhadap agamanya yang dinilai terlalu ekstrim dan keras.

    Salah seorang pemateri yang menjadi narasumber di acara tersebut berujar, “jJka kitab suci itu benar, harusnya kitab suci mampu membuat semua orang menjadi baik dan ramah. Lalu kenapa dalam agama ada orang seperti FPI, HTI, JAD, ISIS dll”. Ucapan pemateri tersebut cukup membuat para peserta, termasuk saya sendiri, tersentak.

    Cukup menggelitik juga pernyataan pemateri tersebut. Jika agama itu membawa kebenaran, lantas kenapa banyak orang jahat dan berbuat kejam seperti ormas radikal? Mengapa ada orang yang menjadikan agama sebagai alat politik bahkan mencari uang? Di sisi lain, banyak juga orang-orang yang baik dan taat beragama. Cukup membingungkan.

    Dari sini, penulis mengambil sebuah kesimpulan, bahwa agama sebagai sebuah ajaran dengan agama sebagai praktik pengamalan adalah dua hal yang berbeda. Jika dibaca dari kerangka dekonstruksi Derrida, peran pembaca dalam menafsirkan sebuah teks sangat besar sekali sehingga kerap satu teks mengalami kejamakan makna atau tafsiran. Hal tersebut juga terjadi dalam pembacaan kitab suci, di mana setiap orang memiliki interpretasi dan cara menyikapi yang berbeda-beda (Suryanto, 2013).

    *****

    Ajaran agama sebenarnya menekankan aspek cinta, patuh, setia, dan taat pada Tuhan. Sejak kecil, banyak dari kita telah diajarkan oleh orang tua atau guru kita bahwa rasa cinta dan taat kepada Tuhan adalah hal penting dalam kehidupan, sebab Tuhan adalah yang menciptakan dunia dan memberi kehidupan pada manusia. Karena itu, agama menekankan loyalitas yang tinggi dari pengikutnya.

    Dalam sejarah, ajaran tentang cinta dan ketaatan pada Tuhan disikapi secara berbeda oleh manusia. Di satu sisi, ada kelompok yang menginterpretasikan tentang ajaran cinta secara luwes, fleksibel, dan moderat. Mereka menekankan pada aspek keharmonisan, ketentraman dan cinta kasih Tuhan sebagai pegangan hidup yang baik dalam bersosial pada sesama. Tetapi di sisi lain, ada kelompok yang menafsirkan secara ketat makna ketaatan dan kepatuhan pada Tuhan.

    Mereka yang berpandangan agak fleksibel menganggap agama diturunkan Tuhan untuk ketentraman manusia. Tuhan ingin manusia hidup damai dengan sesama, seperti tidak berbuat jahat, tidak bertindak kriminal, menghargai semua orang, dan beribadah dengan tekun. Agama bukan rantai yang membelenggu manusia. Sebaliknya, agama diciptakan sebagai rambu-rambu agar kebebasan manusia bisa dikelola dengan baik dan tepat.

    Sedangkan kelompok yang lain, memandang bahwa ajaran agama harus diikuti secara ketat dan sesuai dengan kemauan Sang Pencipta. Agama diturunkan untuk membatasi kebebasan perilaku manusia dan perbuatan kita harus sesuai dengan kemauan ilahi, bukan kemauan manusia yang subjektif.

    Dari dua paradigma ini, maka lahir terminologi “kaum moderat” dan “kaum puritan”. Perlu dicatat bahwa setiap agama menawarkan sebuah mode hidup yang ideal. Tujuan dasar suatu agama yang dibawa para Nabi adalah memberi petunjuk beruma hukum dan norma agar manusia bisa hidup harmonis dan tentram.

    Dalam pandangan moderat, aturan-aturan Tuhan disikapi dengan cara sederhana, yakni mempraktikkannya, berbuat baik pada sesama, menjalani hidup yang harmonis, dan rajin beribadah pada Tuhan. Mereka yang mempratikkan agama secara fleksibel dan simpel.

    Namun, tidak bagi mereka yang berpandangan puritan. Agama bukan hanya sebagai praktik individu, tetapi harus dipraktikkan secara kolektif. Agama tidak cukup hanya dipraktikkan sebagai pedoman pribadi. Lebih jauh lagi, agama harus memiliki visi politik sehingga setiap orang harus mematikan dirinya beragama secara benar. Dengan demikian, politik dan hukum bagi kaum puritan memiliki tugas untuk mengawasi dan mengajarkan praktik keagamaan masyarakat sesuai dengan ajaran yang benar.

    *****

    Dalam kehidupan religiusnya, dua kelompok tersebut memiliki cara pandang yang berbeda tentang modernitas. Kaum moderat melihat modernitas secara positif. Cak Nur misalnya, melihat dunia modern dengan kacamata positif. Modernitas, kemajuan teknologi dan kebebasan politik adalah hal yang tidak bisa dihindari lagi, sehingga agama harus mampu untuk memberi pedoman hidup, sistem moral, dan landasan bagi peradaban modern (Madjid, 1987).

    Namun, berbeda dengan kaum puritan, kelompok ini memandang bahwa kehidupan manusia harus menuju visi ideal dari agama. Kehidupan manusia sudah melenceng sangat jauh dengan kemauan Tuhan. Kebebasan manusia dianggap sebagai kedurhakaan, dan sistem politik yang dipraktikkan dianggap jauh dari kebenaran, sehingga mereka kerap memandang modernitas dari kacamata negatif.

    Hassan Yucel dalam buku Islam dan Kebebasan, menjelaskan bahwa pandangan negatif terhadap masyarakat modern akhirnya memotivasi beberapa kaum puritan untuk membentuk organisasi masyarakat, partai, bahkan milisi yang tujuannya untuk memperbaiki dunia. Menurut mereka, kaum puritan menginginkan kesatuan politik sehingga sebagian dari mereka memiliki semangat revolusioner dalam beragama demi mencapai visi “dunia baru” yang ideal menurut mereka (Besdemir, 2017).

    Lebih jauh lagi, impian kaum puritan untuk memiliki sebuah dunia ideal sesuai dengan perspektif agama yang mereka anut, justru telah menimbulkan gejolak dalam masyarakat. Contohnya adalah gerakan puritan Hindu yang berkonflik dengan komunitas minorutas di India, di mana kaum puritan Hindu kemudian menguasai masjid kaum Muslim dan mengibarkan bendera hanuman untuk mengukuhkan identitas agama mereka di India (Viva.co.id, 28/2/2020).

    Hal yang sama juga terjadi di negara lain, seperti Pakistan misalnya. Kelompok Puritan dari sekte tradisional Barelvi membentuk Partai Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP) untuk mengukuhkan dominasi mereka di masyarakat. Mengutip situs berita Deutsche Welle (DW), kelompok ini telah melakukan persekusi dan intimidasi terhadap kelompok moderat, liberal, dan juga pemeluk agama minoritas di Pakistan, bahkan membunuh gubernur Punjab yang mengkritik UU Anti Penistaan Agama (DW.com, 20/11/2020).

    *****

    Dalam Buku Biografi Gus Dur, Greg Barton menggambarkan saat terjadi Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tahun 1989, di Krapyak, Yogyakarta. Dalam muktamar tersebut, terdapat dua kontestan yang akan dipilih menjadi ketua tanfidziah  ketua umum), yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Abu Hasan. Dalam pidatonya, Abu Hasan dan pendukungnya menekankan agar NU kembali ke jalan yang benar, dalam artian selalu waspada terhadap kaum kafir yang senantiasa memusuhi Islam. Sementara itu, Gus Dur tetap konsisten pada pandangannya tentang pluralisme dan kerukunan. Beliau berkata, “Menjadi seorang Muslim itu harus pede, harus berani bergaul, termasuk kepada orang-orang beda agama.. NU ibarat mobil, kalau semua menginjak rem, ya ga maju-maju” (Barton, 2004; Prasetia, 2013).

    Muktamar NU 1989 ini menggambarkan seolah mencerminkan pandangan antara dua kelompok, yaitu antara yang moderat dan puritan dalam masalah agama. Kelompok puritan selalu menunjukan sifat defensif dan protektif, sedangkan kelompok moderat senantiasa terbuka dan fleksibel dalam menghadapi perubahan zaman.

    Ya, barangkali penulis terlalu mensimplifikasi dalam pengelompokan ini, berbeda dengan Clifford Geertz misalnya yang mengelompokkan masyarakat Islam (agama) di Jawa menjadi 3 kelompok. Kelompok-kelompok tersebut adalah abangan, santri dan priyayi, di mana kelompok priyayi menjadi salah satu perilaku beragama karena wataknya tidak terlalu moderat seperti kaum abangan, tapi juga tidak bisa juga dibilang puritan seperti kaum santri.

    Dalam tulisan ini, penulis tidak berusaha menjelaskan kelas-kelas masyarakat beragama, tetapi cara pandang kaum beragama itu sendiri. Dalam memandang masalah agama, mungkin saja ada orang yang tidak terlalu ‘salih’, jarang belajar agama, ibadah pun malas, tetapi sangat fanatik dan puritan dalam membela agamanya. Sebaliknya, ada pula orang yang taat beragama, rajin ibadah, memahami ilmu agama cukup baik, tetapi memiliki pandangan moderat bahkan liberal.

    Agama tidak bisa disalahkan seluruhnya atas aksi-aksi kekerasan dari pemeluknya. Agama adalah kumpulan konsep teologi, hukum, dan norma, yang tujuannya menciptakan masyarakat yang tentram dan harmonis. Namun, dalam perkembangannya, para pemeluk agama memiliki penafsiran dan menyikapi ajaran beragama secara berbeda-beda. Ini tidak hanya berlaku dalam agama, bahkan dalam ideologi politik pun pengikutnya kerap kali memiliki sikap yang berbeda-beda.

    Ketika kita hidup di era yang sangat membutuhkan demokrasi dan kebebasan, maka cara pandang moderat dan liberal inilah yang paling sesuai. Selain selaras dengan kebudayaan modern, kaum moderat selalu bisa menempatkan dirinya di tengah-tengah perubahan zaman dan budaya. Hal ini jauh berbeda dengan kaum puritan, yang selalu pesimis dalam melihat perkembangan dunia, bahkan kerap membuat orang bertindak militan dan fanatik.

     

    Referensi

    Buku

    Barton, Greg.  2004. Biografi Gus Dur: The Autorized Biography of Abdurrahman Wahid, Jakarta: Mizan.

    Besdemir, Hasan Yucel (Nouh El Harmouzi. Ed). 2017. Islam dan Kebebasan: Argumen Islam untuk Masyarakat Bebas. Jakarta: Suarakebebasan.id

    Madjid, Nurcholish. 1987. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan. Jakarta: Mizan.

    Prasetia, Heru. 2013. Gus Dur Van Jombang. Jakarta: Bunyan.

    Suryanto, Bagong (Ed.). 2013. Filsafat Sosial. Yogyakarta: Aditya Media Publishing.

     

    Internet

    https://www.viva.co.id/berita/dunia/1202272-bendera-hanoman-di-menara-masjid-sosok-sakral-umat-hindu Diakses pada 15 Januari 2021, pukul 21.33 WIB.

    https://www.dw.com/id/radikalisasi-kelompok-sufistik-barelvi-di-pakistan/a-55678642 Diakses pada 15 Januari 2021, pukul 20.35 WIB.