Doktrin Itu Bernama Kitab Suci

    377

    Ada suatu keengganan ketika akan menuliskan hal ini. Bagaimana tidak? Ketika membahas tentang Kitab Suci dengan landasan mempertanyakannya dan mengkritisi, maka hal yang pertama timbul dalam benak orang yang mengaku relijius adalah kata kafir, munafik, idiot,dan masih banyak kata yang senada. Dengan inti bahwa individu yang mempertanyakan dan mengkritisi hal tersebut adalah mereka-mereka yang memiliki “sesuatu yang salah” dalam otak mereka.

    Padahal, bila kita lihat dalil-dalil dalam Kitab Suci, maka akan kita dapati bahwa Ibrahim sendiri mulai mempercayai Tuhan dengan sebuah pertanyaan tentang penciptaan. Yah, tapi kisah tersebut pun sebuah asumsi andai Kitab Suci benar adanya. Kita hanya dituntut untuk mempercayai. Karena sampai sekarang belum ada bukti yang mengatakannya, kan?

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, doktrin didefinisikan sebagai pendirian segolongan ahli ilmu pengetahuan, keagamaan, ketatanegaraan, secara bersistem, khususnya dalam penyusunan kebijakan negara. Yang menurut bahasa saya, ini diartikan sebagai cara agar pemahaman masyarakat sesuai dengan keinginan kelompok atau golongan tertentu. Dalam hal ini, Kitab Suci disusun sedemikian rupa agar sesuai dengan kehendak golongan tadi.

    Darimana banyaknya larangan tentang hal-hal yang kini dianggap benar dan salah oleh masyarakat? Kitab Suci. Individu yang mempertanyakan suatu hal karena mempunyai penafsiran tersendiri, akan dicap sebagai pembangkang. Masyarakat akan menganggap bahwa apabila suatu hal dikaitkan dengan Kitab Suci, maka hal tersebut menjadi seolah-olah suatu hal yang absolut. Sehingga, ketika muncul pertanyaan-pertanyaan seperti, “Mengapa harus beribadah?”, “Mengapa harus menutup aurat?”, “Mengapa minuman keras dilarang”, “Mengapa pernikahan sejenis dilarang”, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang menyangkut perintah dan larangan seperti hal-hal tersebut, jawabannya selalu sama “Karena Kitab Suci mengaturnya demikian”.

    Efeknya, banyak individu sudah tidak mau lagi membahas esensi Kitab Suci, karena sumpah serapah pengagung Kitab Suci pasti keluar. Mereka mengambil jalan aman, yaitu dengan meragukan atau dalam kasus ekstrem bahkan sampai tidak mempercayai apa-apa yang tercantum dalam Kitab Suci. Karena toh, dalam doktrin Kitab Suci pun, keyakinan tidak bisa dipaksakan. Siapa yang patut disalahkan ketika individu muak dengan dalil-dalil yang dilontarkan, yang diambil dari Kitab Suci?

    Contoh lain, dalam ajaran Kitab Suci, pernikahan sejenis sangat dilarang, sehingga rasa suka antar sesama jenis tidak boleh dipersatukan dalam perkawinan. Ketika ditanya mengapa, kembali dijawab tercantum dalam Kitab Suci. Tuhan menciptakan Adam dan Eve, bukan Adam dan Steve. Ini jawaban yang sangat absurd. Tidak ada penjelasan yang ilmiah di dalamnya. Di satu sisi, doktrin Kitab Suci adalah tidak boleh memaksakan keyakinan, di sisi lain mereka berusaha menghilangkan keyakinan individu lain. Bukankah rasa suka itu abstrak? Rasa suka itu anugerah, mengapa lantas dihalangi?

    Kasus lain, misalkan tentang cara berbusana bagi perempuan. Mayoritas Kitab Suci memperlihatkan bahwa cara berbusana terbaik adalah seperti para Ustadzah atau Biarawati atau sebutan untuk pemuka-pemuka agama lainnya. Yang secara garis besar harus tertutup rapat, tidak boleh terbuka. Perempuan hanya bertugas di dalam rumah demi menjaga kehormatan keluarga. Ini adalah doktrin lainnya. Perempuan seolah dijegal untuk tidak boleh membuat dirinya dikagumi individu lain. Dibuat agar perempuan tidak ikut andil besar dalam pembangunan dan perkembangan. Bahwa aktif dalam kehidupan masyarakat hanyalah tugas laki-laki. Dalilnya kembali, Kitab Suci mengatakan demikian. Kitab Suci umat yang mana?  Ini menimbulkan kontradiksi antar Kitab Suci umat beragama.

    Campur Aduk Kitab Suci dengan Kurikulum Pendidikan

    Doktrin-doktrin tersebut kini akan dimasukan dalam kurikulum 2013. Keterkaitan Tuhan (yang tidak boleh diperdebatkan) dengan ilmu pengetahuan membuat ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang “Memang begitu adanya”.

    Dalam kurikulum Kimia kelas X, misalnya. Di sana tertulis “Menyadari keteraturan dan kompleksitas konfigurasi elektron dalam atom sebagai wujud kebesaran Tuhan YME”. Hal ini jelas-jelas sangat aneh, seolah-olah konfigurasi elektron dalam atom memang begitu adanya. Tidak terbantahkan. Padahal, seperti kita ketahui bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang? Lantas apakah bila didapati bahwa ada elektron yang tidak teratur tetapi sederhana, dinyatakan sebagai sesuatu yang bukan bentuk kebesaran Tuhan? Ataukah, memang sudah dirancang agar muncul doktrin seperti itu, yang men-tabu-kan pertanyaan-pertanyaan.

    “Bila dicampuradukkan dengan Tuhan, naskah kurikulum seolah tidak bisa didebat karena nilainya menjadi Suci” kata Iwan Pranoto, Guru Besar Matematika ITB, Rabu 13/3/2013 di Balai Pertemuan Ilmiah, ITB. Pernyataan lain muncul, “Tidak ada yang menyebut tentang pentingnya kemampuan untuk menemukan atau inovasi, kemampuan mencipta, berpikir sinergis, maupun kemampuan melihat peluang” ujar Imam Buchori Zainuddin, Guru Besar ITB.

    Doktrin Kitab Suci sudah benar-benar merusak kekritisan berpikir manusia. Merusak hal-hal kreatif yang bisa dilakukan manusia. Hanya dengan pernyataan, menurut Kitab Suci hal tersebut salah. Kitab suci, seharusnya bukanlah dijadikan sebuah doktrin. Tetapi menjadi suatu inspirasi moral-etik yang mendorong kemanusiaan dan universalitas hak asasi manusia. Dengan ini kita bisa mendorong kemajuan dan dunia yang lebih baik.