Difa Kusumadewi: Rasionalisme Sains Mendorong Kebebasan dan Anti-Diskriminasi

204

Sains moderen masih sangat jarang dibincangkan oleh masyarakat Indonesia. Terutama ketika terkait dengan fakta-fakta ilmiah yang nyatanya bertentangan dengan keyakinan beberapa budaya dan agama di Indonesia. Di kalangan anak muda, walaupun sebagian besar universitas di Indonesia banyak memiliki jurusan sains, tidak berarti mereka bisa menerima sains dalam cara berpikir mereka. Sains masih dianggap hanya sebagai metode hitung-hitungan pemecahan masalah, belum sampai menjadi cara berpikir. Maka tidak mengherankan bila terdapat fakta-fakta ironis, bahwa di jurusan dan fakultas sains lah, radikalisme dan fundamentalisme agama muncul.

Di tengah “kegersangan” tersebut, masih terdapat beberapa anak muda yang peduli dan berupaya mendorong rasionalisme berpikir dan sains moderen. Difa Kusumadewi sejak menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung bersama teman-temannya mendirikan Minerva Indonesia, sebuah komunitas diskusi yang ingin mendorong rasionalisme sains moderen. Difa terpanggil untuk melawan wacana klenik, ketertutupan pikiran, dan pseudo-sains yang akan menghambat bangsa Indonesia menuju kebebasan dan kemajuan. Berikut petikan wawancara Difa bersama Managing Editor SuaraKebebasan.org, Rofi Uddarojat.

Difa, bisa dijelaskan kegiatan dan aktivitas organisasi Difa?

Minerva Indonesia adalah kelompok diskusi yang ingin mendorong sains moderen di Indonesia. Beberapa waktu lalu kami beraktivitas di Jakarta, bekerja sama dengan Freedom Institute. Aktvitas kami tidak hanya diskusi, tetapi juga terdapat podcast agar didengar oleh masyarakat. Topik-topik yang kita diskusikan di Minerva tentang neurosains, LGBT, Gender dan seksualitas, dan psikologi. Kita juga mempunyai website, dan di website tersebut kita terbitkan buku yang berjudul “debunking mistisisme” yang kita terjemahkan untuk membantah praktek klenik. Motivasi utama kita menerjemahkan buku tersebut karena kita melihat masyarakat Indonesia masih percaya terhadap klenik atau pengobatan-pengobatan alternatif yang bisa saja membahayakan. Kita ingin masyarakat Indonesia aware terhadap sains, terutama dalam urusan medis karena itu langsung berhubungan dengan masyarakat.

Apakah hanya klenik yang menjadi musuh utama sains? Apakah, misalnya orang beragama sudah cukup menerima nalar sains?

Ada yang bernalar, ada yang tidak. Ketika kita berbicara tentang teori evolusi pasti langsung ditentang. Atau ketika kita membahas tentang LGBT sudah langsung ditentang. Padahal kalau kita merujuk lagi kepada penelitian saintifik yang lebih objektif, LGBT bukanlah kesalahan. Banyak orang yang bilang bahwa LGBT adalah kelainan kejiwaan, abnormal, dll. Padahal sains menyatakan bahwa LGBT hanyalah spektrum perbedaan kesukaan seksual seseorang. Atau misalnya tentang transgender, orang banyak bilang bahwa bencong adalah penyakit. Padahal bukan, transgender adalah spektrum seksual saja. Kasus-kasus tersebut menjelaskan bahwa terdapat fenomena bahwa manusia nggak murni hetero ataupun homo, in between sebenarnya.

Seberapa besar wacana sains diperlukan di Indonesia? Belum cukup saintifik kah masyarakat kita?

Kalau kita berbicara tentang rasionalisme medis di Indonesia, ada banyak kasus dimana masyarakat Indonesia belum saintifik dalam menyikapi penyakit. Ada orang tua teman saya diketahui mengidap kanker payudara, dan bukannya diobati secara medis tetapi malah menggunakan obat-obatan herbal dan dibiarkan sehingga kankernya sampai stadium 3, sehingga harus diangkat payudaranya. Rasionalisme sangat penting karena bisa menyelamatkan nyawa.

Urgensi sains di Indonesia juga untuk menghapus diskriminasi. Tadi kita berbicara LGBT dan gender, kalau kita menggunakan nalar yang rasional maka kita tidak melihat jenis kelaminnya apa, tetapi dari kapabilitas dan kemampuan manusia dalam suatu hal. Mereka misalnya terlahir sebagai laki-laki, kemudian beralih menjadi transgender, kita tidak melihat mereka sebagai transgender tetapi melihat kapabilitas mereka. Kita tidak mendiskriminasi kaum homoseksual, karena dalam pikiran yang rasional mereka tidak salah.

Rasionalisme dan sains mendorong masyarakat lebih tidak diskriminatif. Di negara-negara yang maju yang lebih rasional, mereka tidak melakukan diskiriminasi. Contohnya Belanda, Finlandia, dan Swedia sangat tidak diskriminasi gender dan LGBT.

Adakah hambatan dalam mempromosikan sains di Indonesia?

Banyak. Misalnya di media sosial saja, didebatnya macam-macam ketika kita mempromosikan teori evolusi. Ini kita dituduh “sekuler, liberal, sosialis!” padahal liberal dan sosialis saja berbeda. Tapi kita diberi label-label yang ingin menyesatkan publik. Faktor utama orang-orang menolak sains biasanya memang karena bertentangan dengan kepercayaan mereka. Walaupun begitu, menurut saya secara literatur yang benar belum tentu agama melarang itu.

Kalo dari aktivitas kami, dari awal kita berdiskusi di Freedom Institute Jakarta, yang datang hanya orang itu-itu saja. Yang tertarik dengan sains sangat terbatas. Anak muda sebagian besar tertarik kepada ilmu sosial dan ilmu-ilmu lainnya, tidak dengan perdebatan sains.
Selain itu, saya menduga bahwa sains cenderung dianggap boring oleh anak muda. Karena pada saat SMA, sains tidak diajarkan dengan menarik. Belajar Fisika yang ditekankan hitung-hitungan, Kimia menghitung nomor massa, sedangkan Biologi diajarkan hafalan taksonomi. Padahal sains lebih luas dari itu.

Saya memang lebih beruntung. Saya dilahirkan di keluarga yang memahami sains. Sejak kecil saya dibelikan bacaan dan ensiklopedia sains oleh orang tau saya demi memenuhi semua pertanyaan-pertanyaan dasar “bagaimana manusia lahir”, “manusia datang dari mana”, dan sebagainya. Orang tua saya membimbing saya untuk menemukan ketertarikan kepada sains, sehingga proses pemahaman saya dengan sains menjadi akumulatif sampai sekarang ini.

Tidak adanya akses dalam menemukan sumber-sumber sains juga menjadi hambatan besar dalam mempromosikan sains populer. Penerjemahan buku sains populer saja masih sangat sulit ditemukan. Buku sains populer untuk anak-anak dan remaja itu sangat sedikit. Makanya saya mendirikan Minerva juga untuk menerjemahkan beberapa buku agar semakin banyak akses terhadap buku sains moderen.

Bisakah sains dijadikan sumber kebenaran?

Kita bisa berdebat secara filosofis apa yang disebut kebenaran. Tetapi saya sendiri tidak percaya dengan kebenaran absolut, tetapi saya percaya dengan fakta. Sains adalah metode terbaik untuk menemukan fakta tersebut. Di abad pertengahan, dulu mempercayai bahwa bumi itu datar, tetapi kemudian ditemukan fakta ilmiah bahwasanya bumi itu bulat. Juga tentang manusia kulit hitam yang dulu dianggap bukan manusia. Itu semua dilakukan karena kepercayaan mereka masa itu. Tapi kalo kita gali kembali dalam bible, tidak benar-benar dikatakan bahwa bumi itu datar. Tapi interpretasi mereka membuat agama seolah-olah bertentangan dengan sains.

Menyambung masalah ini, bagaimana posisi agama dan sains? Apakah memang selalu saling bertentangan atau bisa saling melengkapi?

Sains tidak melihat agama sebagai musuh, walaupun banyak kaum agamawan yang menjadikan sains sebagai musuh. Saya rasa sains tidak punya sikap apapun terhadap agama, kita menganggap agama sebagai fenomena masyarakat biasa saja. Tidak menentang sama sekali. Tapi saya ingin membuat mereka, kaum agamawan mempertanyakan kembali interpretasi keyakinan agama mereka.

Agama mungkin tidak bisa mengikuti sains, tetapi orang-orang dalam agama bisa mengerti lagi. Agama kan tujuannya kan agar kondisi masyarakat tidak chaos dan perdamaian, bukan untuk menutup pikiran kita. Ayat pertama yang turun dalam Al-Quran kan “Iqra” yang artinya membaca bukan untuk menutup pikiran kita.

Salah juga kalau beranggapan sains selalu mendorong atheisme. Kawan saya seorang agamawan yang taat, tetapi percaya dengan teori evolusi. Walaupun sebagian besar orang beragama menolak teori evolusi. Karena dia percaya bahwa agamanya tidak melarang untuk memahami teori evolusi. Interpretasi agama tidak digunakan untuk memusuhi teori evolusi jadi tergantung dengan interpretasi seorang terhadap agama dan sains.

Oke, terakhir. Apa yang bisa kita lakukan untuk mempromosikan nalar sains dalam masyarakat Indonesia?

Kembali lagi ke pendidikan.  Dulu waktu saya sekolah saya bertanya atau berdiskusi dengan guru di kelas itu salah. Seharusnya guru-guru bisa memberikan posisi berdebat tentang tema-tema saintifik dengan lebih equal. Jangan jauh-jauh deh, di universitas saja susah untuk bisa berdiskusi dengan equal. Beberapa mahasiswa dan dosen di ITB memang mengikuti perkembangan sains moderen. Tetapi beberapanya lagi, tidak. Suatu ketika saya pernah  sit in di kelas biologi dan menjelaskan teori evolusi, tetapi malah membahas Harun Yahya dan bertolak jauh dari sains. Seharusnya kalau ingin mendebat sains, debatlah dengan sains bukan dengan dogma. Saya kira Harun Yahya bukan sains ya.