Dangkalnya Wacana Keagamaan di Media Sosial

    542

    Memasuki abad ke-21, wacana mengenai agama tidak surut dan tenggelam. Rasionalisme dan juga modernisasi tidak menenggelamkan agama ke dasar jurang lautan. Justru sebaliknya, wacana keagamaan kembali ke permukaan. Ini menandakan bahwa agama akan selalu hadir dan berdialektika dengan peradaban manusia.

    Memang, perubahan budaya, kemajuan pola pikir, rasionalitas, membuat para agamawan harus semakin keras berjuang untuk tetap mempertahankan firman Tuhan di muka bumi. Banyak intelektual agama (kaum reformis) yang berusaha menyesuaikan doktrin keagamaan dengan paradigma masyarakat modern, seperti Harvey Cox, Mohammed Arkoun, Paul Tillich, Muhammad Syahrur, Swami Vivekananda, dan juga tokoh-tokoh agama lainnya.

    Para reformis mengkaji dan mengaktualisasi ajaran-ajaran agama dengan perkembangan zaman, dengan harapan agar spirit agama tetap bisa rasakan oleh masyarakat modern. Para intelektual, baik ulama dan teolog, berusaha agar masyarakat saat ini tidak kehilangan sisi spiritualitasnya.

    Banyak sekali wacana keagamaan yang segar seperti teologi liberal, gagasan pluralisme, perenialisme agama, pembaruan penafsiran teks kitab suci, pendamaian antar agama dan sekularisme, dan lain sebagainya. Wacana-wacana seperti ini muncul dan disajikan oleh para reformis agar “suara ilahi” tetap bisa didengar oleh setiap orang di era digital ini.

    Tentu saya berharap, seiring dengan kemajuan peradaban dan akal budi manusia, umat beragama bisa sepenuhnya menerima bahkan menjunjung tinggi semangat persaudaraan, kebebasan, nilai-nilai kemanusiaan, pluralisme, dan modernisasi (yang sebenarnya terdapat dalam setiap ajaran agama). Cak Nur sendiri memimpikan lahirnya “santri yang canggih”, yaitu seorang santri yang alim (pandai ilmu agama), namun bersikap luwes dan terbuka dengan kemajuan zaman. Agama akan memberi spirit zaman dan memberi sentuhan spiritualitas pada peradaban (Gaus, 2010).

    Namun tampaknya, Cak Nur harus kecewa (sekali lagi), bahwa wacana keagamaan yang berkembang di Indonesia, khususnya yang tersebar di media sosial, justru malah jatuh pada sektarian, pembahasan yang remeh temeh, membenci rasionalitas dan sinis terhadap peradaban modern.

    Kebencian dan Pendangkalan Berpikir

    Perkembangan teknologi komunikasi seperti media sosial berhasil membuat komunikasi kita menjadi lancar tanpa terganggu oleh jauhnya wilayah geografis. Media sosial juga memperluas jaringan pertemanan kita di dunia maya.

    Namun, media sosial juga memiliki sisi negatif. Selain digunakan sebagai wadah mencari persahabatan, media sosial juga bisa menjadi wadah untuk perdebatan dan percekcokan panas yang berujung caci maki.

    Perdebatan dan caci maki bukan hanya karena masalah perbedaan politik. Tak jarang, warganet (netizen) melakukan perdebatan dan juga caci maki hanya karena perbedaan pendapat masalah agama dan soal-soal keagamaan. Misalnya, seperti masalah “klepon tidak islami” “konde haram”, “menonton wayang haram”, “hari ibu dan hari valentine haram”, “hari natal bukan tanggal 25 Desember tapi tanggal 6 atau 7 Januari”, dan hal-hal remeh temeh lainnya yang sangat tidak relevan bahkan tidak bermanfaat.

    Belakangan ini, muncul kelompok-kelompok yang mengaku ingin kembali ke ajaran leluhur Nusantara, dan memaki-maki kaum Muslim fundamentalis sebagai pengikut “agama impor.” Kelompok pecinta budaya Nusantara ini adalah kelompok tradisional yang berusaha melawan pola pikir dan juga budaya Arab yang mulai disebarkan oleh penganut Wahabi. Budaya Arab yang mereka maksud adalah pakaian gamis dan cadar.

    Perdebatan-perdebatan agama di media sosial bagi saya pribadi sangat norak bahkan tidak rasional. Misalnya, peluncuran Roket Al-Amal oleh Uni Emirat Arab (UAE) dengan misi eksplorasi planet Mars, ada warganet para menganggap eksplorasi ruang angkasa itu sebagai perbuatan yang sia-sia. Mereka berargumen bahwa eksplorasi Mars tersebut menentang kodrat Tuhan yang menakdirkan manusia untuk hidup di Bumi.

    Sebagian warganet lain malah membawa teori konspirasi dan menganggap bahwa peluncuran roket untuk ke Mars oleh Uni Emirat, China, dan Amerika adalah konspirasi yang tujuannya adalah untuk membodohi manusia. Dan yang paling memuakkan adalah tanggapan mereka yang menyepelekan pandemi virus Corona dengan membawa-bawa Tuhan dan juga teori konspirasi.

    Tentu lucu sekali, orang-orang yang kemarin menertawai wabah virus Corona sebagai tentara Tuhan untuk menghukum China, justru kini menjadi orang yang paling lantang mengatakan bahwa Corona itu adalah konspirasi pemerintah komunis China untuk menjatuhkan iman orang Indonesia.

    *****

    Menurut saya, warganet yang setiap berkomentar selalu membawa Tuhan dan agama sebenarnya tidak betul-betul memahami ilmu agama. Mereka tidak mempelajari lebih dalam ilmu teologi, dogmatika, tafsir kitab suci, dan hukum agama. Ketika ada persoalan mengenai politik, filsafat atau sains yang dianggap rumit, mereka cukup membawa nama Tuhan untuk menjawabnya.

    Contohnya adalah, bagaimana Corona bisa menjadi sebuah pandemi global? Mereka umumnya akan menjawab, “Tuhan sudah menghendaki”, “Tuhan yang tahu masalah ini”, dan “Sebagai hamba Tuhan, kita cukup mengikuti kemauan Tuhan tanpa bertanya”. Jawaban-jawaban seperti ini terhitung simple ketimbang memutar otak untuk menjawab sebuah masalah dengan rasionalitas.

    Orang-orang seperti ini, sebenarnya telah mendangkalkan agama dan juga ilmu pengetahuan, sebab mereka membawa nama Tuhan karena dangkalnya cakrawala pengetahuan mereka. Ketika pandemi mewabah, mereka tetap bersikeras beraktivitas seperti biasa, dengan dalih “segala sesuatu sudah diatur oleh Tuhan.” Padahal para agamawan dan ulama sudah menghimbau agar mereka mengikuti protokol kesehatan, karena agama mewajibkan kita untuk melindungi diri.

    Belakangan ini, wacana beragama masyarakat Indonesia lebih mengarah kepada hal-hal sepele yang sama sekali tidak konstruktif untuk membangun masyarakat maju. Seperti  gerakan politik agama, penyesatan terhadap aliran yang dianggap bidah, menolak tradisi orang-orang terdahulu dan berbagai masalah sepele lainnya yang akhirnya mengarah pada debat kusir.

    Alih-alih menjadikan agama sebagai landasan moral dan spiritual untuk memperkuat pembangunan, mereka justru tenggelam dalam kebencian dan perdebatan sepele. Di media sosial, kita bisa melihatnya dengan jelas. Mereka lebih asyik mencaci maki dan menjustifikasi orang lain sebagai sesat, kafir, penista agama hanya karena berbeda dalam urusan politik dan aliran agama.

    Lebih elok jika perbedaan pandangan diselesaikan lewat tukar pikiran yang berbasis data dan fakta, yang disampaikan secara bersahabat dan dapat ditanggapi dengan bijak. Dan tentu saja, debat-debat kusir itu tidak memiliki landasan argumen berdasarkan ilmu agama, tapi mereka berbicara sesuai dengan keinginan mereka sendiri.

    Di zaman yang semakin bergerak ke depan, teknologi dan komunikasi sudah merenggangkan perbedaan suku, ras dan agama. Dengan demikian, yang dibutuhkan oleh masyarakat modern saat ini adalah “Agama Cinta” dan “Agama Ramah”, yaitu agama yang mengembangkan nilai-nilai rasionalitas, multikulturalisme, demokrasi, toleransi, dan sikap inklusif.

    Masyarakat Indonesia harus bisa bersikap bijak bahkan menahan diri ketika melihat perbedaan bahkan postingan-postingan yang terlihat berbeda pandangan dengan prinsip dan keyakinan pribadi. Kedewasaan bermedia sosial sangat diperlukan, sebab ujaran kebencian dan juga debat kusir tentang agama dan perbedaan aliran agama tidak akan menghasilkan apapun, kecuali membuang-buang waktu.

     

    Referensi

    Gaus, Ahmad. 2010. Api Islam Nurcholish Madjid. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.