Cerita Webinar Forum Kebebasan: Pentingnya Inovasi dan Kewirausahaan di Masa Pandemi

85

Membahas potensi bisnis di masa pandemi memang menarik. Seluruh rencana pembangunan ekonomi pemerintah bisa dikatakan gagal akibat wabah virus yang menyebabkan resesi. Namun hingga saat ini, masyarakat Indonesia masih bisa bertahan dan roda perekonomian masih terus berputar meskipun perputarannya melambat akibat adanya wabah penyakit ini.

Karena itulah, pada hari Senin, 13 September 2021 lalu, Suara Kebebasan mengadakan diskusi webinar dengan topik “Pentingnya Inovasi dan Kewirausahaan di Masa Pandemi”. Menjadi pemateri dalam diskusi ini adalah Dr. Ariono Margiono, Ketua Center for Innovation, Design, and Entrepreneurship Research (Binus University).

*****

Pandemi memang tengah merubah segalanya kebiasaan, pola hidup, aktivitas di luar rumah, dan tentu saja ekonomi. Sejak awal pandemi, pemateri sudah memprediksi bahwa wabah virus yang berlangsung cukup panjang ini akan membawa dampak yang luar biasa.

Pemateri mengatakan bahwa pada masa awal pandemi (Maret-April 2020), banyak pelaku usaha bersiap diri untuk menanggung konsekuensi akibat penyebaran penyakit di masyarakat. Awalnya, pemateri sendiri memperkirakan bahwa pandemi akan berlangsung tidak terlalu lama sehingga para pengusaha tetap bisa bertahan dan mengambil resiko untuk mengembangkan usaha.

Namun faktanya, pandemi ini berlangsung lama bahkan tidak dapat dipastikan kapan wabah ini akan berakhir. Sehingga para pengusaha dan pelaku bisnis harus bersiap untuk segala resiko jika mereka tidak ingin usaha mereka ambruk oleh krisis yang dibawa oleh pandemi global.

Menurut Ariono, untuk mempertahankan eksistensinya dan juga mempertahankan bisnisnya bisa terus berkembang di tengah hantaman resesi dan wabah, maka mau tak mau para pebisnis bahkan juga individu harus memulai sebuah inovasi, sebuah usaha kreatif yang akan membuat dirinya bertahan selama masa pandemi. Ariono menekankan, para pebisnis harus bisa menyesuaikan diri dengan perilaku pasar dan bertransformasi secara total struktur organisasi dan pola bisnis mereka jika ingin tetap bertahan.

Kita tahu bahwa, apa yang diakibatkan oleh pandemi ini benar-benar telah mengubah segalanya cara belajar anak-anak kita dilangsungkan via daring melalui Zoom Meeting atau Google Meeting, perkumpulan dan aktivitas nongkrong harus diubah menjadi komunikasi via smartphone, dan begitu juga pola belanja yang biasanya membeli langsung ke toko, kini masyarakat lebih suka membeli barang di toko online.

Kecenderungan pasar ini harus dilihat oleh para pelaku bisnis. Mereka harus melakukan transformasi bisnis mereka dan menjajaki dunia digital, sebuah dunia baru yang kini diminati oleh seluruh warga dunia.

Tentu saja, tidak semua cabang bisnis diubah ke digital. Pariwisata misalnya, sektor yang paling terkena dampak dari wabah penyakit ini amat sulit diubah ke bisnis daring. Pernah ada usaha untuk membuat Virtual Tourism, namun usaha ini tidak begitu berhasil karena tur secara langsung dan tur secara daring memiliki sensasi dan kesan yang berbeda.

Begitu juga dengan UMKM yang sangat terdampak akibat pandemi, banyak pengusaha kecil belum bisa beradaptasi dengan bisnis digital sehingga banyak di antara para pebisnis UMKM yang sudah menyerah duluan.

Salah satu tantangan yang dihadapi oleh pengusaha dalam mentransformasikan usahanya adalah biaya yang sangat besar. Tidak mudah bagi suatu perusahaan melakukan transformasi radikal dalam waktu dekat tanpa biaya yang besar. Di masa pandemi ini, banyak pebisnis yang enggan mengambil resiko bertransformasi karena mereka takut ekspektasi yang diharapkan oleh mereka meleset.

Karena itulah, pemateri menawarkan strategi untuk pebisnis yang tidak memiliki biaya besar dan kesulitan bertransformasi. Mereka bisa menerapkan sebuah strategi penghematan, di mana mereka mau tak mau harus memotong pengeluaran mereka agar tetap mendapat keuntungan.

Misalnya, seorang pengusaha restoran bakso. Pemerintah saat ini sudah menganjurkan agar setiap rumah makan disediakan hand sanitizer. Kebijakan baru ini berarti menambah biaya keluar yang harus ditanggung oleh pengusaha bakso.  Agar kerugian tidak terjadi, maka pengusaha bakso bisa melakukan pengurangan, misalnya mengurangi kualitas sambal atau sausnya, bisa juga dengan mengganti daging sapi yang harganya lebih murah.

Di beberapa perusahaan, para pengusaha berusaha untuk menekan besarnya pembiayaan dengan mengurangi salah satu pendukung produksi. Misalnya, jika dalam satu gedung terdapat 15 AC, maka perusahaan bisa menguranginya menjadi 8 AC untuk menghemat pembiayaan listrik. Penghematan ini harus dilakukan jika pengusaha ingin tetap bertahan.

Ariono dalam pemaparannya sangat menekankan agar para pebisnis memperhatikan peluang pasar digital yang sekarang sudah tumbuh berkembang. Di masa pandemi ini, justru startup dan usaha yang merambah dunia digital mendapatkan angin segar karena pendapatan mereka meningkat drastis.

Salah satu contoh yang dibawakan oleh pemateri adalah Netflix. Siapapun pasti tahu bahwa Netflix adalah aplikasi film berbayar yang belakangan digemari oleh masyarakat karena tayangan yang berkualitas. Pada awalnya, Netflix adalah bisnis rental VCD dan DVD, setelah perkembangan teknologi internet, Netflix membaca peluang besar keuntungan yang akan diperoleh jika mereka mulai merambah dunia maya.

Dan akhirnya, dari toko rental, Netflix kini jadi aplikasi film ternama yang disukai oleh masyarakat dunia. Perusahaan Netflix merupakan contoh terbaik bahwa inovasi dan kreativitas pebisnis sangat dibutuhkan, pun dengan kepekaan dalam membaca perubahan pasar.

*****

Pada sesi tanya jawab, beberapa peserta bertanya kepada pemateri mengenai peluang bisnis UMKM di masa pandemi. Berbagai UMKM yang paling terdampak oleh pandemi ini akan sangat sulit jika mentransformasikan bisnis mereka ke ranah digital karena mereka menjalani bisnis secara tradisional.

Ariono menjawab bahwa, pandemi ini memang merupakan tantangan yang berat bagi masyarakat. Namun, jika hal ini sudah merupakan arus tren pasar, maka masyarakat mau tak mau harus berinovasi. Apakah itu dengan memanfaatkan toko digital atau membuat aplikasi baru untuk mendukung usahanya, di masa krisis seperti ini, sangat penting bagi masyarakat untuk bisa berinovasi dan mengkolaborasikan usahanya di dunia digital.

Peserta selanjutnya juga mengajukan sebuah pertanyaan menyangkut tantangan berwirausaha di masa pandemi saat ini, banyak orang yang di PHK dari kantor atau pabrik mereka sehingga mereka tak memiliki pekerjaan, yang jadi pertanyaan adalah apa kesulitan dan tantangan berwirausaha di masa sekarang.

Dalam menjawab pertanyaan ini, pemateri mengeluarkan pernyataan yang menyayangkan banyak insan-insan muda yang ingin menjadi seorang pengusaha atau wirausaha, tetapi iklim wirausaha di Indonesia tidak mendukung.

Maksudnya adalah, para wirausaha kesulitan untuk mendapatkan modal dan juga mengenai perizinan usaha yang sulit. Menurut pemateri, seharusnya pemerintah menjadi inkubator yang menjadi penghubung antara pengusaha dan penyalur modal (investor). Misalnya dalam satu kelurahan, jika seseorang ingin membuka suatu perusahaan, maka kelurahan bisa merekomendasikan kepada wirausaha tersebut pihak mana yang tepat untuk menjadi pemodal usahanya. Sayangnya, hal ini tidak terjadi di Indonesia.

Sebagai penutup, masih sangat banyak kendala di Indonesia terkait dengan iklim wirausaha. Di masa pandemi ini, para wirausaha Indonesia juga ditantang untuk berinovasi dan mendigitalisasi usahanya agar tetap bisa bertahan di masa krisis seperti sekarang ini.