Cerita Webinar Atlas Network: Membicarakan Kebebasan dengan Orang-orang yang “Berbeda dengan Kita”

153

Pada hari Senin, 18 April 2022, Galang Taufani, Editor Pelaksana Suara Kebebasan, mengikuti webinar Atlas Network yang mengambil topik tentang Membicarakan Kebebasan dengan Orang-orang yang “Berbeda dengan Kita”. Menjadi narasumber dalam acara ini adalah Richard Lorenc dari The Foundation for Economic and Education (FEE).*

Kita seringkali kesulitan dan mengalami banyak tantangan dalam mengkomunikasikan pendapat dan gagasan kita tentang kebebasan. Semua hal itu berkaitan dengan berbagai macam aspek-aspek, baik itu filsafat, budaya, politik, dan semua hal lainnya yang berkaitan dengan kebebasan. Padahal menyampaikan gagasan kita secara tepat dan benar adalah hal yang harus dilakukan.

Berbagai kesulitan itu tidak luput dari berbagai macam-macam aspek yang bisa dilihat dari berbagai macam perspektif, baik itu dari aspek komunikasi, materi, gambar, dan intonasi, jika itu berbentuk video. Selain itu, dari aspek sosiologi dan psikologi penting juga untuk melihat bagaimana teknik dan strategi yang tepat dalam menyampaikan ide-ide kebebasan.

FEE adalah salah satu lembaga yang menjadi pelopor dalam melakukan pendekatan ini. FEE memiliki satu proyek yang dilakukan khusus untuk mengkaji dan mendukung hal ini. Proyek tersebut adalah adalah YEAR, yaitu adalah merupakan kepanjangan dari Year, Education, Audience, Research (Tahun, Pendidikan, Pemirsa, Penelitian).

Dalam webinar ini, Richard Lorenc menjelaskan bahwa FEE melakukan pengujian penting bagaimana menanggapi dan sekaligus cara berkomunikasi yang tepat agar siapa yang ingin kita ajak berkomunikasi berkenan untuk menanggapi kita. Lantas, bagaimana proyek ini dilakukan dan bagaimana hasilnya dapat gunakan sebagai acuan dalam melakukan advokasi?

Proyek yang dilakukan oleh FEE merupakan hasil analisis data dari model konten yang sudah mereka buat selama beberapa waktu. Obyek yang dijadikan segmen oleh FEE adalah kelompok dengan perspektif politik liberal, konservatif, dan libertarian. Selain itu, mereka juga memastikan bahwa segmen yang mereka sasar adalah mereka yang berusia 14-34 tahun. Inti dari penelitian ini nantinya adalah untuk mengetahui bagaimana cara melakukan pendekatan yang perlu dilakukan terhadap masing-masing kelompok tadi.

Untuk menganalisis hal tersebut, maka bisa digunakan panduan berupa buku berjudul The Three Language of Politics: Talking Across Political Divide, yang ditulis oleh Arnold Klings. Dengan model yang ada dalam buku dan direlasikan dengan penelitian yang ada, maka menghasilkan beberapa pendekatan yang sangat menarik.

Beberapa pendekatan itu adalah bagaimana cara membuat sebuah narasi dan cerita yang akan dibuat.  Pertama, untuk kelompok liberal, maka digunakan pendekatan “oppressor vs oppressed”.  Kedua, untuk kelompok konservatif digunakan pendekatan “civilization vs barbarism”.  Ketiga, untuk kelompok libertarian menggunakan pendekatan “liberty vs coercion.” Pendekatan dan framework ini merupakan kunci bagaimana pesan dan gagasan akan disampaikan, selain aspek-aspek lain, seperti gambar dan intonasi.

Richard menjelaskan dalam temuan yang dilakukan oleh FEE, dengan menggunakan model di atas, maka advokasi yang dilakukan akan lebih efektif dan efisien. Ia menjelaskan, bahwa pada dasarnya, hal ini adalah hal yang sangat penting dan lumrah untuk dilakukan guna memberikan kualitas yang maksimal terhadap produk-produk yang lembaga sedang produksi. Misalnya, ia menjelaskan bahwa beberapa media yang melakukan hal serupa, misalnya produk Wall Street yang ditujukan ke konservatif dan New York Times yang ditujukan kepada liberal.

Pendekatan ini memang dilakukan di Amerika, meskipun demikian, Richard menjelaskan  bahwa hal ini bisa dilakukan dan bisa ditiru di seluruh penjuru dunia. Mungkin dari sisi model akan memiliki aspek yang berbeda dengan FEE, namun dari sisi ide sama. Misalnya, bagaimana isu terkait dengan pasar bebas nantinya akan terlihat bagaimana mengelolanya di berbagai kelompok di setiap negara.

Richard juga menjelaskan bagaimana berdiskusi dan menyampaikan gagasan kepada segmentasi yang tidak teredukasi secara politik. Ia menjelaskan bahwa dengan segmen anak muda, mayoritas masih banyak yang bersentuhan dengan isu mendasar dalam politik. Namun demikian, hal itu tidak menjadi masalah, pun termasuk dengan yang sudah memiliki pandangan politik apa saja.

Begitu juga jika ingin mengajak orang yang tidak tertarik dengan politik, maka, hal yang penting untuk disampaikan adalah apa nilai yang penting dari kepentingan mereka tentang sesuatu dibalik politik itu. Nilai memiliki makna lebih besar dari kebijakan publik, sehingga pendekatan secara nilai memiliki nilai dampak yang lebih jelas. Misalnya, apa hal yang penting dari naiknya pajak? Apa dampaknya pengaturan hak kepemilikan terhadap properti yang kita miliki? Dan banyak hal lainnya.

Dari webinar di atas, maka dapat disimpulkan bahwa setiap kelompok politik memiliki pandangan dan framework yang khas terhadap sebuah persoalan. Oleh karena itu, dalam membangun komunikasi yang advokatif memerlukan strategi yang proporsional. Apa yang disampaikan oleh Richard Lorenc dan temuan FEE terkait dengan pendekatan yang menggunakan model  komunikasi berbasis pandangan politik menunjukkan bahwa isu yang dinarasikan dengan tepat dan disampaikan lewat cara yang sesuai dengan karakter segmen sasaran dapat mendorong pada kualitas penerimaan dan tanggapan kelompok sasaran terhadap  produk-produk yang dikeluarkan lembaga tersebut.

*Sumber: https://ana.atlasnetwork.org/learn/course/28/webinar-talking-liberty-with-people-unlike-us