Cerita Philofest ID Hari Ke-4: Dialog Tentang Filsafat Sejak Remaja

79

Banyak orang memiliki persepsi miring ketika pertama kali mendengar kata “filsafat”. Beberapa orang di luar sana, khususnya yang masih awam dengan filsafat, mungkin menganggap kalau substansi dalam filsafat itu sendiri terlalu “ngawang”, ilmunya tidak jelas, cuma sekedar hafalan teori-teori filsuf klasik, dan bahkan berpikir bahwa filsafat merupakan ajaran yang sesat.

Namun, selama pandemi yang membuat anak muda terpaksa di rumah saja ini, minat masyarakat yang semakin antusias terhadap filsafat tiba-tiba berubah. Dengan atau tanpa latar belakang pendidikan filsafat, kita semua mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang segala hal dan sebab segalanya yang semakin tidak pasti hari-hari ini. Pandemi, dengan demikian, memaksa kita untuk berfilsafat.

Berangkat dari pembacaan situasi inilah kemudian muncul jaringan kerja filsafat lintas-komunitas dan lintas-kampus untuk menyelenggarakan perhelatan terpenting dalam filsafat Indonesia tahun ini bernama Philofest ID. Kegiatan ini adalah sebuah festival filsafat yang dimobilisasi di satu isu bersama: memikirkan anatomi filosofis dunia pasca-pandemi. Apa yang kita cari bukanlah solusi final untuk segala masalah pandemi, melainkan melangkah lebih jauh dengan membayangkan wujud filsafat yang akan datang dan ekosistem filsafat di Indonesia.

Festival filsafat ini digelar dalam bentuk online yang diadakan pada tanggal 7-13 Desember 2020 lalu. Saya sendiri diberikan kesempatan menjadi salah satu pembicara pada sesi Dialog Filsafat: Berfilsafat Sejak Remaja bersa,a Azarel Christopher pada 10 Desember 2020.

*****

Ketertarikan saya sendiri terhadap filsafat diawali dengan membaca buku “Dunia Sophie”. Melalui buku tersebut, saya mulai bertanya mengenai fenomena-fenomena yang terjadi di dunia ini. Mulai dari human behavior, etos masyarakat, sampai cara kerja politik dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena didorong rasa penasaran yang sangat besar, saya pun menanyakan hal tersebut ke orang sekitar saya, keluarga besar, sampai orang tua. Namun, mayoritas jawaban yang saya dapat sama seperti yang saya sebutkan di atas. “Ngapain belajar filsafat kecil-kecil itu berat banget”, “Ah, filsafat itu loh yang ilmunya luas banget”, kira-kira begitulah jawaban-jawaban orang dewasa yang saya simpulkan pada saat itu kalau filsafat gak cocok sama anak seusia saya.

Beranjak dewasa, saya perlahan mulai paham mengapa banyak orang berpikir filsafat seburuk itu. Dari kecil, memang kita belum dikenalkan pada filsafat. Di Indonesia sendiri, filsafat baru dijumpai saat masuk bangku kuliah. Banyak penyebab mengapa filsafat tidak dimasukkan ke dalam mata pelajaran wajib kurikulum, dua yang paling populer adalah filsafat dianggap membutuhkan pemikiran kognitif yang memadai dan hal ini belum nampak pada remaja. Salain itu, sekolah juga mengkhawatirkan filsafat akan membuat siswa menjadi pembelajar pembangkang yang skeptis alih-alih menuruti kata gurunya.

Padahal, filsafat tidak selalu soal teoritis atau bahasanya yang berat harus kita bedah satu-satu agar bisa mengerti apa sebenarnya yang filsafat ajarkan pada kita. Berfilsafat sebenarnya dapat dimulai dengan sebuah pertanyaan sederhana, misalnya seperti “Kenapa ketika berada di pesawat terbang, di sekitarnya kelihatan lebih kecil?”. Setelahnya jika mau mulai mencari tahu, kita sebenarnya sudah berfilsafat secara tidak langsung.

*****

Azarel sendiri mulai menyelam ke dalam dunia filsafat ketika ia berusia delapan tahun, usia yang mungkin bagi sebagian besar masyarakat mustahil untuk mempelajar ilmu yang “sangat berat” ini. Namun, Azarel membuktikan bahwa filsafat dapat dijangkau oleh semua kalangan umur.

Azarel mempelajari ajaran stoikisme, Kierkegaard, sampai ke Descartes dan Seneca. Sama seperti anak-anak sepantarannya, Azarel memiliki segudang pertanyaan mengenai kehidupan manusia, misalnya “Bagaimana kalau semua manusia meninggal, bumi akan jadi seperti apa?” atau “Apa sebenarnya kehidupan manusia selama ini cuma mimpi, dengan kata lain eksistensi kita tidak real?”

Selanjutnya, hadir juga ibu dari Azarel yang merupakan pegiat dari komunitas filsafat. Beliau menceritakan bagaimana Azarel waktu kecil yang sering dianggap terlampau dewasa pada usianya, sering menanyakan hal-hal unik yang belum tentu dipikirkan anak lain. Ibu Azarel sadar akan minat Azarel yang menjerumus pada filsafat dan menyediakan tempat diskusi untuk Azarel dan teman-temannya yang memiliki minat sama. Beliau juga menyarankan bagaimana seharusnya orang tua memfasilitasi minat dan bakat anaknya, serta bersikap mendukung agar anak berani mengeksplorasi minatnya lebih.

Setelah sesi diskusi dan tanya jawab moderator dengan pembicara, Philofest ID juga menghadirkan Melanie, seorang guru filsafat dari Perancis yang mengajar di bangku sekolah SMA. Melanie sendiri sangat senang dan antusias melihat anak-anak remaja mulai tertarik dan mau belajar filsafat. Mengingat Perancis sudah menerapkan mata pelajaran filsafat di bangku SMA, Melanie juga berhadap pembelajaran filsafat di sekolah-sekolah Indonesia dapat menjangkau tingkatan lain selain kuliah.

Filsafat adalah salah satu bidang studi yang implementasinya ada di kehidupan sehari-hari. Kita tidak harus jadi dewasa atau berprofesi tertentu dahulu untuk belajar filsafat. Kita belajar filsafat agar tidak mudah dipengaruhi oleh pihak-pihak eksternal yang mungkin mengambil keuntungan dari kita, agar kita bisa mempertanyakan hal-hal yang dinilai rancu atau belum jelas faktanya. Filsafat menjadi penting untuk dipelajari supaya kita bisa menganalisa masalah dari berbagai perspektif.

Setelah belajar filsafat, saya melihat sesuatu lebih skeptis, tidak langsung menelan bulat-bulat informasi yang didapat. Ketika mendapat informasi saya harus mengecek dulu kebenaran sumber berita tersebut. Filsafat membuat saya tidak langsung percaya begitu saja, sebab kita harus tahu akar dari sebuah masalah untuk mendapatkan solusi atau kesimpulan dari masalah tersebut.

Selain itu, pentingnya membentuk pemikiran diplomatis yang meningkatkan nilai kepekaan terhadap lingkungan sekitar, mengedepankan nalar kritis dan independen tanpa adanya otoritas yang mengintervensi, serta tidak mendikotomikan segala sesuatu menjadi dua hal normatif yang ekstrim (antara hitam atau putih) merupakan kunci untuk mempelajari filsafat.