Cerita “Liberty Talks” IG Live Series Tentang Perdamaian

31

Perdamaian merupakan hal yang sangat penting dan menjadi salah satu kunci dalam libertarianisme, di mana perdamaian memiliki makna sebagai kondisi aktif yang tidak ada permusuhan dan pertikaian. Sebaliknya, libertarian selalu memerangi momok perang karena perang membawa kematian dan kehancuran dalam skala besar, mengganggu aspek kehidupan manusia di berbagai bidang, dan lain sebagainya.

Perwujudan dan tantangan bagi lahirnya perdamaian dunia pada saat ini menghadapi banyak tantangan dengan fenomena banyaknya konflik dibaliknya. Kasus yang baru-baru ini terjadi terkait dengan invasi Rusia ke Ukraina telah mengakibatkan banyaknya nyawa yang melayang dan kerugian yang begitu besar. Selain itu, dampak perang lebih luas juga mengakibatkan kondisi global yang tidak menentu, seperti krisis multidimensi dan resesi ekonomi global.

Di Indonesia, beberapa konflik sosial juga tercatat pernah terjadi. Misalnya, persoalan konflik yang meluas yang berakar dari persoalan suku, agama, dan ras yang seringkali menjadi persoalan bagi terciptanya perdamaian di masyarakat.  Lantas, bagaimana memahami perdamaian dalam perspektif libertarianisme? Bagaimana melihat hubungan pentingnya perdamaian dan libertarianisme?

Suara Kebebasan membahas hal tersebut dalam “Liberty Talks IG Live Series”, yang berjudul “Perdamaian,” Sabtu, (20/11).  Hadir sebagai narusumber dalam IG Liver Series ini adalah Muallifah dari GUSDURian Yogyakarta.

Pada awal diskusi, Muallifah, sebagai aktivis di GUSDURian Yogyakarta, mengatakan bahwa sosok Gus Dur adalah tokoh perdamaian. Ia menjelaskan bahwa Gus Dur menyampaikan, sebagai penganut agama Islam, perdamaian adalah agama islam itu sendiri di mana agama memberikan peran penting dalam memberikan patokan terhadap aspek-aspek perdamaian. Hal tersebut berlaku sama pada agama yang lainnya yang juga memberikan dorongan dan semangat perdamaian.

Perdamaian adalah di mana segala macam persoalan dapat dituntaskan melalui aspek agama dan ideologi negara. Selain itu, perdamaian adalah dengan tidak adanya perbedaan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya. Perbedaan adalah hal yang menjadi akar persoalan yang menjadi masalah munculnya tidak adanya perdamaian.

Muallifah mengomentari terkait dengan persoalan global terkait dengan banyaknya negara yang berkonflik saat ini  karena persoalan itu bermuara pada perbedaan. Perbedaan ini memicu berbagai aktivitas yang destruktif, misalnya persoalan geopolitik, ekonomi, dan sosial. Oleh karena itu, penting untuk memaknai kembali  dan memahami perbedaan, serta menemukan solusinya. Ia menjelaskan, sejatinya perbedaan bisa menciptakan persatuan, sebaliknya juga bisa menciptakan keretakan. Lebih jauh lagi, perlunya melihat perbedaan dalam satu kelompok adalah dengan cara menemukan titik tengah untuk tidak menciptakan keretakan yang berujung pada dampak-dampak yang meluas.

Selain  persoalan di level global, Muallifah juga menjelaskan persoalan di internal Indonesia juga tidak kalah penting untuk diselesaikan. Misal, dalam kasus politik identitas yang terjadi di Indonesia memang sangat lekat dengan kondisi baik psikologi atau sosiologis, namun yang harus diwaspadai adalah hal itu bisa berdampak pada keretakan bangsa. Salah satu contohya adalah dengan masifnya sosial media,  hal ini bisa terlihat. Merespon hal tersebut, Muallifah menjelaskan harus bijak dalam menggunakan dan membangun sikap yang tepat yang agar tidak berdampak negatif.

Sejatinya, adanya konflik yang berasal dari isu SARA bukanlah hal sulit dibaca. Hal ini mengingat persoalan SARA adalah berkaitan dengan pegangan hidup bagi setiap kelompok yang berasal darimana asal setiap orang. Pegangan hidup itu menjadi keyakinan dan menjadi klaim kebenaran yang dimiliki oleh seseorang. Namun, dalam mengekspresikan itu, khususnya  dalam  ruang kohesi sosial, menjadi penting untuk mengekspresikan dengan baik dan benar agar tidak tercipta keretakan dalam kehidupan bermasyarakat. Alih-alih berfokus pada perbedaan, Muallifah menjelaskan bagaimana seharusnya kita mampu menciptakan  kolaborasi dari perbedaan yang ada tersebut.