Cerita Forum Kebebasan Webinar: Mengapa Sistem Ekonomi Terpusat Gagal?

91

Paruh kedua abad ke-20 menjadi saksi dari pertarungan dua gagasan besar dunia, yang diwakili oleh dua negara terkuat di dunia. Pasca Perang Dunia II, Amerika Serikat dan Uni Soviet terlibat dalam Perang Dingin, di mana Amerika Serikat membawa ide-ide demokrasi dan sistem ekonomi pasar. Sementara, Uni Soviet membawa gagasan komunisme dan sistem ekonomi terpusat.

Namun, 29 tahun yang lalu, perang ini berakhir. Uni Soviet secara resmi hancur pada 31 Desember 1991, dan menyisakan Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara adidaya di dunia. Tidak hanya Uni Soviet, negara yang mengadopsi sistem ekonomi terpusat juga mengalami kehancuran, atau melakukan reformasi ekonomi besar-besaran sepanjang dekade 1980-an ke arah ekonomi pasar untuk mencegah kebangkrutan dan kehancuran ekonomi.

Abad ke-20 sudah menjadi saksi akan kedigdayaan dan superioritas sistem ekonomi pasar daripada sistem yang terpusat dan dikontrol oleh negara. Pasar terbukti merupakan instrumen yang paling efisien untuk mengalokasikan sumber daya ekonomi, dan membawa kemakmuran, serta mengangkat miliaran jiwa penduduk dunia dari jerat kemiskinan.

Melihat fenomena tersebut, lantas apakah yang menyebabkan kegagalan sistem ekonomi terpusat? Mengapa sistem ekonomi yang dikontrol negara tidak bisa bersaing dengan sistem ekonomi pasar yang terbuka?

Untuk membahas topik tersebut, Suara Kebebasan mengadakan Webinar Forum Kebebasan, yang bertajuk “Mengapa Sistem Ekonomi Terpusat Gagal?” Menjadi pembicara dalam diskusi ini adalah Peneliti Senior dan Manajer Pengembangan Bisnis Indonesian Stock Exchange (IDX), Poltak Hotradero.

Sebagai pembuka materi, narasumber menjelaskan bahwa ekonomi merupakan hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas manusia sehari-hari. Kata ekonomi sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikos yang berarti keluarga atau rumah tangga dan nomos yang berarti peraturan atau management. Dengan kata lain, ekonomi dekat kaitannya dengan urusan perut dan kelangsungan hidup keluarga/rumah tangga.

Kemudian, kata itu berkembang menjadi lebih luas yang menyangkut aktivitas manusia dalam memuaskan kebutuhan hidupnya. Aktivitas ekonomi yang maju tercatat dalam sejarah berada di wilayah Ur Kasdim atau Kota Mesopotamia, yang terletak di Irak saat ini. Bangsa Ur Kasdim atau Mesopotamia, sudah tidak menggunakan sistem barter, tetapi dengan menggunakan sistem cek dan mereka sudah mengenal sistem bunga.

Ketika peradaban manusia semakin berkembang dan manusia telah membangun sistem kota baik di Irak, Mesir, Yunani, China,  India dan Persia, maka aktivitas ekonomi masyarakat semain kompleks dan mereka mulai mengenal sistem uang. Pola ekonomi sentralistik sudah dikenal dari sini, sebab uang saat itu adalah milik seorang raja dan dikuasai oleh kerajaan.

Ketika aktivitas ekonomi semakin berkembang, manusia kemudian mengembangkan sistem perdagangan yang bergerak lintas negara dan lintas pulau. Lalu, dari perdagangan-perdagangan bebas itu, kembalilah muncul hasrat bagi raja untuk menciptakan koloni-koloni demi meraup keuntungan dari negeri yang dijajahnya. Dalam hal ini, Inggris telah mengembangkan sistem perdagangan yang luas dan juga terkenal dengan luasnya wilayah koloni.

Namun, karena wilayah koloni yang diduduki semakin luas, maka Inggris kemudian menerapkan kembali sistem ekonomi tersentral dengan mengutus birokrat dan Gubernur Jenderal di wilayah koloni atau jajahan untuk mengelola kekayaan di wilayah tersebut. Hingga akhirnya, Amerika yang awalnya menjadi jajahan Inggris mengembangkan sistem perdagangan mereka dan juga menciptakan wilayah koloni-koloni dengan tujuan mengambil keuntungan dan memasarkan dagangannya.

Walaupun pada dasarnya sistem ekonomi pada abad ke-18 sampai abad ke-19 mengarah pada sistem pasar bebas dan kebebasan dalam perdagangan, namun di situ pula negara melanggengkan sistem koloni dan penjajahan yang masih berusaha agar kekayaan di wilayah koloni mengalir ke negara mereka.

Pada abad ke-19, muncul para pengkritik perdagangan bebas, seperti Marx dan Engels, juga kaum anarkis seperti Proudhon dan Bakunin, yang dianggap akan menjurus pada krisis dan kerusakan. Pada awal abad ke-20, Amerika mengalami depresi besar akhir dekade 1920an, yang menyebar ke seluruh dunia. Depresi besar ini kemudian membuat orang-orang berpandangan bahwa ekonomi pasar adalah suatu kesalahan, sehingga negara harus turut campur tangan untuk mengontrol aktivitas ekonomi masyarakat.

Sebelum Perang Dunia II meletus, pemikiran tentang ekonomi nasionalis dan juga ekonomi kolektif berkembang dengan pesat. Ekonomi nasionalis dipimpin oleh Jerman, yang saat itu dikuasai Nazi dan ekonomi kolektif dipelopori oleh Uni Soviet. Kedua sistem ini menekankan model ekonomi sentralistik.

Setelah Perang Dunia II beberapa negara sudah mulai menyadari bahwa sistem ekonomi sentralistik tidak membawa kemajuan yang berarti dalam pembangunan pasca perang. Sedangkan, negara-negara komunis dan juga negara yang baru merdeka, masih mempertahankan sistem ekonomi sentralistik atau ekonomi terpimpin. Uni Soviet, China dan India merupakan contoh negara-negara yang masih mempertahankan sistem ekonomi tersentral.

Negara-negara sentralistik, menitikberatkan ekonomi bukan pada persaingan dan mencari kepuasan/keuntungan, tetapi pada pemenuhan kebutuhan masyarakat akan sebuah barang (komoditas) sehingga, negara-negara sentralistik akan melakukan produksi barang secara ketat dan terpimpin. Ketidakadaan pasar bebas dan inovasi, membuat nagara-negara sentralistik justru menjadi runtuh alias ditimpa krisis-krisis karena negara tidak mampu memenuhi kebutuhan warganya.

Hal ini yang kemudian membuat negara-negara yang awalnya fanatik pada sistem ekonomi terpimpin/sentralistik, kemudian membuka keran bagi adanya pasar bebas. India dan China kemudian membolehkan adanya swasta nasional dan juga membuka modal asing untuk berinvestasi ke negara mereka. Uni Soviet sendiri mengalami krisis dan akhirnya bubar di akhir fajar abad 20.

Sistem ekonomi sentralistik yang menitikberatkan pada ekonomi yang terpusat tidak mampu memenuhi kebutuhan rakyat dan tidak mampu melakukan persaingan yang sehat. Barang yang berkualitas rendah, tidak adanya pilihan dalam membeli barang, kelangkaan beberapa produk, akhirnya membuat ekonomi menjadi kacau dan jatuh pada krisis yang berkepanjangan.

Setelah pemateri menuntaskan paparannya, para peserta memberikan beberapa pertanyaan kepada narasumber. Salah satunya adalah pertanyaan bahwa kenapa di Amerika, yang menganut pasar bebas, justru tercipta paradoks, yaitu adanya perusahaan di bidang farmasi yang memonopoli harga obat, yang kemudian membuat harganya lebih tinggi dibanding negara lain.

Pemateri kemudian menjelaskan bahwa masih ada regulasi dan peraturan tentang masalah farmasi di Amerika, sehingga regulasi dan birokrasi tersebut mempersempit gerak pasar farmasi. Dengan demikian, muncul kartel besar yang mengontrol harga dan membuat harga obat menjadi semakin mahal.

Pertanyaan lainnya yang juga populer adalah mengenai pandemi, mengapa negara-negara semakin protektif dan eksklusif di era pandemi seperti sekarang ini?

Pemateri menerangkan bahwa, pada dasarnya, proteksionisme lahir dari situasi politik suatu negara. Ide-ide populis yang menjanjikan kesejahteraan dan kejayaan suatu bangsa, membuat sistem ekonomi menjadi eksklusif dan protektif. Contohnya adalah di Jepang, Partai LDP yang berkuasa bertahun-tahun, selalu mengkampanyekan ide-ide populis. Salah satunya adalah membela petani kecil dan melindungi ekonomi rakyat kecil.

Akhirnya, diciptakan regulasi dan juga penerapan kuota pada bidang pangan untuk menjaga petani. Proteksionisme juga berlaku di negara-negara lain, seperti Indonesia, yang memimpikan kemandirian ekonomi dan sistem yang berpihak pada rakyat kecil.  Proteksionisme makin menjadi-jadi ketika pandemi Covid-19 mulai mewabah ke seluruh belahan dunia.

Banyak negara-negara yang menjadi protektif dengan alasan menyelamatkan ekonomi dalam negeri. Di Prancis misalnya, pemerintah mengambil aset swasta dengan dalih untuk melindungi industri strategis di negara tersebut. Hasilnya, sifat protektif yang ‘seolah-olah’ heroik tersebut, justru malah menyebabkan ekonomi eksklusif yang membuat harga-harga naik, kelangkaan barang, yang dalam konteks pandemi, membuat alat-alat kesehatan menjadi langka plus mahal.

Pertanyaan menarik dilontarkan oleh salah satu peserta, yaitu mengapa ekonomi yang tersentralisasi dapat menciptakan ketidakteraturan (chaos) dan ekonomi yang bebas justru malah malah menyebabkan keteraturan?

Pemateri menjelaskan bahwa kenapa ekonomi yang bebas yang tidak terkontrol kemudian menjadi rapih dan teratur, ini disebabkan karena memang dasar dari alam adalah chaotic. Masyarakat hidup tidak terencana dan hanya bergerak berdasarkan ego dan kebutuhannya masing-masing. dari ketidakterencanan tersebut (hanya berdasar mencari keuntungan) menciptakan ekonomi yang rapih dan teratur .

Sedangkan ekonomi yang terkontrol justru merusak tatanan yang alami tersebut. Negara yang mengontrol pasar justru tidak mampu memuaskan rakyat banyak, tak mampu menciptakan barang yang berkualitas tinggi, dan tidak mampu memprediksi keinginan masyarakat. Akhirnya, ekonomi yang tersentral tersebut berakhir dengan kekacauan atau beragam krisis.

Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa ekonomi sentralistik bukan hanya milik negara-negara komunis atau sosialis. Dalam sejarah, negara-negara di Asia banyak mengadopsi ekonomi sentralistik demi menciptakan keadilan sosial. Tendensi politik dan juga kebijakan yang populis, kadang membuat suatu negara yang awalnya terbuka menjadi tertutup pada pasar bebas.

Walaupun saat ini sistem ekonomi sentralistik (secara ekstrim) sudah diabaikan dan tidak lagi digunakan (kecuali di Korea Utara), namun sikap proteksi dan juga menerapkan kebijakan nasionalisasi aset yang sering dilakukan oleh pemerintah dan digaungkan para politisi, merupakan sisa-sisa doktrin ekonomi tersentral yang harus diwaspadai karena dapat menghambat kinerja pasar bebas di suatu negara