Cerita Forum Kebebasan Webinar: Keamanan, Indoktrinasi, dan Terorisme di Indonesia

37

Aksi-aksi terorisme akhir-akhir ini kembali marak. Hal ini berpotensi membuat banyak masyarakat Indonesia ketakutan, seolah terorisme adalah masalah yang imortal alias abadi yang tak pernah habisnya. Padahal, pemerintah telah melakukan berbagai macam upaya untuk menanggulangi terorisme dan juga mengikis habis pengaruh-pengaruh paham radikal di Indonesia.

Untuk membahas topik tersebut, Suara Kebebasan menyelenggarakan diskusi webinar Forum Kebebasan yang mengangkat topik “Keamanan, Indoktrinasi, dan Terorisme di Indonesia” pada hari Jumat, 9 April 2021. Menjadi pembicara dalam diskusi ini adalah Dosen Universitas Paramadina, Suratno Muchoeri dan peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Alif Satria. Kedua pembicara menjelaskan mengapa terorisme masih berkembang di tengah-tengah kampanye deradikalisasi yang digencarkan oleh pemerintah.

Terorisme memang tidak bisa disepelekan. Beberapa waktu lalu, dalam waktu yang relatif berdekatan, terjadi dua aksi terorisme kembali menggemparkan Indonesia. Pertama adalah terorisme di Gereja Katedral, Makassar, pada 28 Maret 2021, dan kedua adalah teror yang dilakukan oleh seorang perempuan di Mabes Polri di Jakarta pada 31 Maret 2021.

Suratno yang menjadi pembicara pertama dalam diskusi ini menjelaskan bahwa mengenai terorisme ini, setidaknya bangsa Indonesia tengah menghadapi tiga dilema, yaitu berkembangnya family terrorism atau satu keluarga yang melakukan aksi teror, lalu berkembangnya paham radikalisme di internet, dan terakhir masalah deradikalisasi yang dilakukan oleh pemerintah.

Suratno mengatakan bahwa family terrorism di Indonesia nampaknya berkembang cukup mengkhawatirkan. Jika dahulu family terrorism hanya menyangkut pada anggota saudara seperti kakak atau adik, kini family terrorism sudah mulai merekrut pasangan suami istri untuk dijadikan martir dalam aksi teror, dan bahkan para teroris juga memanfaatkan satu keluarga untuk melancarkan aksi bom bunuh diri seperti di Surabaya beberapa waktu lalu.

Untuk terorisme keluarga biasanya mereka memiliki beberapa motif. Diantaranya adalah dendam karena saudara mereka terbunuh oleh aparat, atau karena adanya faktor psikologis di mana ketika kaum perempuan atau satu keluarga bersedia menjadi martir, maka itu akan membuat mereka yang terpengaruh oleh paham radikal akan bersemangat untuk melakukan hal yang sama.

Kemudian, Suratno menjelaskan mengenai perkembangan radikalisme di internet, di mana ia menjelaskan beberapa penyebab kenapa seseorang menjadi radikal. Pemateri membawa teori dari Kruglanski yang menjelaskan ada tiga penyebab seseorang bisa berubah pandangan menjadi radikal salah satunya karena adanya narasi, yaitu muatan konten yang berisi propaganda dan agitasi mengenai paham terorisme.

Kemudian kebutuhan atau kepentingan. Kepentingan tersebut merujuk juga pada  kepentingan dan kebutuhan ekonomi, politik, sosial dan sebagainya. Sebagaimana di Indonesia masyarakat biasa diiming-imingi oleh ISIS dengan gaji besar dan janji-janji lainnya.

Selanjutnya adalah network atau jaringan, yakni orang yang melakukan aksi teror karena adanya jaringan baik keluarga, lingkungan, internet, tokoh, teman, dan lain sebagainya. Aksi terorisme biasanya berkembang lewat narasi dan network, khususnya di internet. Mereka biasanya melakukan narasi propaganda yang bertujuan untuk menyebarkan agenda-agenda mereka.

Selanjutnya, untuk melawan propaganda tersebut tentu saja dengan melakukan kontra narasi dengan menyebarkan gagasan bahaya ekstrimisme. Diantaranya adalah partisipasi golongan muda untuk menangkal paham tersebut, memperkuat rasa cinta tanah air, dan juga menjunjung model keagamaan yang toleran.

Selanjutnya, Alif Satria menyampaikan beberapa materi terkait dengan pergerakan terorisme di Indonesia. Alif menjelaskan bahwa terorisme di Indonesia dewasa ini tengah terpojok bahkan tak mampu untuk membangun jaringan sehebat awal dekade 2000.

Undang-Udnang Anti Terorisme dan juga penangkapan yang masih terhadap aktor-aktor intelektual kelompok teroris seperti JAD telah membuat organisasi teror di Indonesia semakin terpojok. Misalnya, jika pada tahun 2000-2009 aksi teror biasanya dilakukan secara sistematis dan juga menyerang tempat-tempat publik yang vital, saat ini gerakan teroris justru bergerak secara acak dan menyasar pada tempat-tempat yang tidak terlalu membawa kemajuan bagi gerakan mereka.

Lalu, apakah serangan yang dilakukan oleh para teroris di Makassar pekan lalu merupakan bukti JAD dan jaringan teroris menguat kembali?

Alif menjawab tidak. Sebabnya, teror bom di Makassar mempunyai dampak lebih rendah ketimbang serangan di Surabaya pada tahun 2018 lalu. Jika dilihat dari bom yang dibuat dan gerakan teroris pasca ledakan, ini sangat menunjukkan bahwa aksi mereka tidak dipertimbangkan secara matang dan berkelanjutan.

Walaupun dalam rekrutmennya, JAD lebih inovatif dari JAI, kelompok JAD juga melakukan sistem desentralisasi di mana setiap sel memiliki gerakan yang berbeda-beda sehingga cukup menyulitkan aparat karena strategi mereka sulit ditebak dan gerakan mereka cenderung spontan. Menurut Alif, partisipasi perempuan dalam aksi terorisme tidak menunjukan kekuatan tetapi sebaliknya malah menujukkan kelemahan. Ini justru membuat kesan bahwa para teroris telah kehabisan martir yang berkualitas dan militan untuk melakukan aksi teror.

*****

Pada sesi tanya jawab, beberapa peserta mengajukan pertanyaan dan komentar. Salah satunya adalah terorisme bukan hanya karena faktor agama, tetapi juga ada faktor budaya dan identitas di Arab. Misalnya, ada faktor kehormatan martabat dan keluarga.

Menjawab hal tersebut, Suratno membenarkan adanya pengaruh budaya. Contohnya, budaya feodal Arab yang menekankan hirarki dan ketaatan pada orang yang dihormati (tokoh pimpinan). Walaupun tidak semua yang berbau feodalisme itu buruk, namun feodalisme yang dimanfaatkan oleh kelompok teroris melahirkan doktrin kepatuhan dan rela berkorban untuk tokoh yang dijunjung tinggi.

Karena itu, dalam program deradikalisasi sebaiknya pemerintah mengambil tokoh-tokoh terhormat di kalangan mereka yang sudah bebas dari paham radikal, seperi Nasir Abbas dan Ali Imron bukan tokoh-tokoh moderat yang memang dibenci para teroris. Sebab, dengan pendekatan yang dilakukan oleh mantan teroris, mereka mengetahui pola pikir dan psikologi para napi teroris.

Alif Satria menjawab bahwa faktor tokoh yang dihormati dan kehormatan diri mungkin juga bisa menjadi salah satu pemantik gerakan terorisme, seperti di Hamas yang melakukan aksi bom bunuh diri demi kehormatan. Namun, hal tersebut bukan faktor utama. Konteks budaya yang mempengaruhi terorisme tersebut juga bisa berlaku, namun dalam skala kecil, semisal budaya dalam satu kelompok atau grup, bukan budaya satu suku atau bangsa yang terlalu kompleks dan sulit digeneralisir.

Dari diskusi tersebut dapat disimpulkan bahwa, terorisme itu sendiri merupakan bahaya laten yang sulit untuk dihilangkan. Sangat penting melakukan program deradikalisasi. Namun sayangnya, program deradikalisasi di Indonesia belum berjalan secara maksimal. Literasi yang rendah dan juga strategi yang kurang matang untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat yang toleran justru kurang efektif dalam menangani paham radikal dan terorisme.