Cerita Diskusi Webinar Forum Kebebasan Tentang Refleksi Sumpah Pemuda 2022

81

Bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober, dan di tahun 2022 ini, Sumpah Pemuda sudah berusia 94 tahun lamanya. Jika melihat kilas balik sejarah, terbentuknya Sumpah Pemuda menjadi sebuah tonggak pergerakan untuk mencapai Kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, saat ini kemerdekaan tersebut tetap perlu diperjuangkan dan terus diisi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya oleh generasi muda.

Hal ini megingat perubahan zaman yang terus terjadi telah mengubah kondisi masyarakat secara drastis, seperti berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, dan banyak hal lainnya. Di sisi lain, banyak ancaman terhadap kemerdekaan yang harus dibenahi agar bangsa Indonesia tidak mundur ke belakang, seperti intoleransi, kebodohan, kekerasan, korupsi, kemiskinan, oligarki, ketidaksetaraan, dan sebagainya.

Lantas, bagaimana refleksi generasi muda tentang makna Sumpah Pemuda selama ini? Apa pendapat anak muda tentang Sumpah Pemuda dan sebagai seorang yang berbangsa Indonesia? Apa saja pembelajaran dari Sumpah Pemuda yang dapat meningkatkan semangat anak muda untuk berpartisipasi secara bermakna sebagai individu dan bagian dari bangsa Indonesia? Bagaimana memperjuangkan nilai-nilai Sumpah Pemuda dalam konteks saat ini secara kreatif dan relevan dengan aspirasi anak muda saat ini?

Suara Kebebasan membahas hal tersebut dalam diskusi webinar Forum Kebebasan yang mengangkat topik “Refleksi Hari Sumpah Pemuda 2022”, pada hari Jumat, (28/10). Menjadi pembicara dalam diskusi ini adalah Agus Setiawan (Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Indonesia), Samuella Christy (Kontributor Suara Kebebasan), dan Yayan Hidayat (AMAN).

***

Mengenang Sumpah Pemuda, Samuella Christy yang juga adalah mahasiswa Ilmu Politik Universitas Indonesia, mengatakan bahwa peringatan ini bersifat abadi. Ia selalu relevan di setiap saat meski deklarasi tersebut sudah berlalu hampir 100 tahun. Semua berawal dari kebijakan politik etis yang diterapkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda ke masyarakat di Hindia Belanda. Politik etis, yang salah satu programnya adalah pendidikan, telah membuka peluang bagi masyarakat untuk mengakses ilmu pengetahuan.

Orang-orang di STOVIA yang menggagas organisasi Budi Utomo, adalah titik balik bagi kesadaran nasional bangsa Indonesia. Diterjemahkannya buku-buku dan ditulisnya majalah majalah baru merupakan kemajuan pesat bagi bangsa Indonesia untuk mengekspresikan pikiran dan kebebasan intelektualnya. Di sinilah pemuda menjadi kunci bagi transformasi sosial atau perubahan sosial warga di Hindia Belanda.

Samuella juga mengatakan bahwa munculnya era Orde Baru (Orba) di tahun 1966 dan era Reformasi di Indonesia sejak tahun 1998 juga diprakarsai oleh gerakan para pemuda. Sumpah Pemuda diakui atau tidak tetap hidup dan memiliki peran besar bagi perubahan sosial politik di negeri ini.

Dari segi politik, Samuella menegaskan soal pentingnya suara pemuda dalam mempengaruhi situasi politik terkini. Misalnya, banyak pemuda yang berdemonstrasi menolak beberapa kebijakan pemerintah. Menurut Samuella, hal ini merupakan sisi positif bahwa peran anak muda saat ini masih sangat besar dalam membawa perubahan di negeri ini. Samuella juga menekankan pentingnya inovasi dan kreativitas anak muda dalam memberikan kontribusi yang relevan dan bermakna, serta berdampak untuk negeri ini, terutama di era globalisasi. Dirinya juga mengatakan bahwa partisipasi anak muda tidak terbatas hanya di bidang politik saja, namun di bidang-bidang lain.

Yayan Hidayat dari AMAN, juga turut berkomentar mengenai momentum Hari Sumpah Pemuda. Selaku anak muda yang konsen pada pemeliharaan tanah adat dan budaya, Yayan menjelaskan bahwa anak muda sekarang sedang mengalami degradasi. Jika dahulu anak anak muda bisa dikatakan selesai dalam mengatasi degradasi diri mereka dan bisa konsisten pada idealisme dan memupuk diri seidealis mungkin. Sebaliknya, saat ini, anak anak muda, khususnya di desa mengalami degradasi moral. Misalnya saja karena tekanan ekonomi dan juga rusaknya lahan adat oleh oknum yang mengatasnamakan ‘pembangunan’. Menurut Yayan, degradasi moral anak muda terjadi karena identitas anak muda dalam membangun kampungnya dan identitas budayanya hilang.

Masifnya perusakan tanah adat membuat para pemuda tidak memiliki tanggung jawab moral dalam membangun kampung atau masyarakatnya. Ini yang menurut Yayan yang sangat disesalkan. Karena itulah, ia menggerakkan sebuah program yaitu “Kembali ke Kampung”, dengan tujuan kembali merefleksikan rasa cinta kepada tanah kelahiran dengan berkontribusi positif untuk pembangunan kampung halaman mereka. Gerakan ini juga sekaligus didorong untuk menghayati pada leluhur yang berjasa membangun kampung mereka. Dengan program ini diharapkan agar anak muda kembali tersadarkan untuk memiliki tanggung jawab dan rasa cinta kasih pada kampung halamannya.

Lebih jauh, Yayan menekankan pentingnya memahami bahwa pendekatan kepada anak muda tidak bisa diseragamkan karena anak muda memiliki beragam kompleksitas, bukan hanya untuk menunjukkan eksistensinya, tapi juga apa yang mereka dapat kontribusikan untuk lingkungan sekitarnya. Yayan juga menggarisbawahi pentingnya sikap dan perilaku yang baik bagi anak muda dalam menyampaikan dan memperjuangkan aspirasinya, terutama dalam memberikan alasan tentang pentingnya representasi mereka dalam masyarakat.

Sementara, Agus Setiawan yang juga mahasiswa Ilmu Politik dan anggota BEM Universitas Indonesia, selaku pemateri ketiga, membuka presentasinya dengan membawa cuplikan pekikan pidato Bung Karno: “Berikan aku 1000 orang tua, maka aku cabut Semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda maka akan kugoncangkan dunia”

Ungkapan ini, bagi Agus, memiliki nilai filosofi yang dalam. Meski secara kuantitas orang tua lebih banyak ketimbang anak muda, namun secara kualitas, apa yang bisa dilakukan oleh anak muda jauh lebih dahsyat daripada apa yang dilakukan oleh orang tua. Pidato Sukarno yang seolah menglorifikasi anak muda, merupakan cermin bahwa peran anak muda sangat besar bagi perkembangan sebuah masyarakat.

Semangat Sumpah Pemuda, meski sudah menginjak usia 94 tahun, masih tetap segar dalam ingatan dan relevan. Agus juga mengatakan bahwa salah satu pesan paling jelas dari Sumpah Pemuda adalah persatuannya. Agus yang membagikan dokumentasi video kegiatan bakti sosial bersama rekan-rekan mahasiswa, juga mengatakan bahwa persatuan sangat penting untuk mendorong semangat kerja sama untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik. Tanpa ada persatuan, maka sejarah bangsa ini akan lain cerita.

Karena itulah, Sumpah Pemuda merupakan simbolisasi kebhinnekaan yang paling sempurna karena menekankan persatuan antar orang muda ketimbang perbedaan identitas. Bagi Agus, kesadaran dan kepedulian anak muda sangat penting untuk didorong, agar mereka bisa ikut berkontribusi positif dalam mengatasi permasalahan di masyarakat.

***

Dalam sesi tanya jawab, para peserta mulai mengajukan pertanyaan kepada pemateri. Salah satunya adalah tentang cara agar anak muda bisa menerapkan potensinya dalam kehidupan sehari-hari. Menjawab pertanyaan ini, Samuella menjawab dari sisi politik. Ia mengatakan bahwa politik tidak harus praktik berpartai, tetapi kesadaran dan pemahaman akan pemerintahan dan pengelolaan negara yang bersih dan sehat.

Bagi Samuella, partisipasi anak muda secara optimal dalam politik bukan hanya harus berkecimpung ke dalam partai, tetapi anak muda yang melek politik dan paham problematika bangsanya, itu berarti mereka telah menerapkan sikap politik yang baik sebagai anak muda.

Pertanyaan kedua yang diajukan adalah bagaimana cara menggugah anak muda untuk membangkitkan kesadaran sosialnya terhadap kampung halaman. Pertanyaan ini dijawab oleh Yayan bahwa degradasi mental dan moral memang saat ini sedang terjadi di pemuda kita. Alih-alih membangun desa, banyak anak muda yang acuh bahkan ikut merusak kampung halamannya sendiri.

Yayan mengakui bahwa globalisasi turut merubah paradigma anak muda, namun globalisasi tidak seharusnya mengubah identitas diri. Sangat penting bagi anak muda yang memiliki dedikasi untuk berjasa membangun kampung halaman.

Pernyataan Yayan dibenarkan oleh Agus. Ia mengatakan bahwa ilmu pengetahuan yang didapat di kota, sudah seyogyanya dipergunakan untuk membangun desanya. Anak muda juga butuh membangun iklim politik desa, yaitu berpartisipasi penuh dalam perkembangan dan kebijakan desa. Dengan partisipasi politik anak muda ini, pengawalan pembangunan desa dapat tercapai.