Cerita Diskusi Students for Liberty Indonesia: Manusia dan Masa Depan Kebebasan dalam Perspektif Objektivisme

419
Sumber gambar: Students for Liberty Indonesia

Dunia saat ini tengah dilanda oleh pandemi COVID-19 yang masih belum menunjukkan tanda akan segera berakhir. Belum lagi dunia dihantam peristiwa buruk terkait invasi Rusia ke Ukraina yang menimbulkan korban jiwa maupun harta benda, serta menghasilkan gelombang besar pengungsi ke negara-negara tetangga Ukraina. Sebelumnya, gelombang otoritarianisme telah melanda banyak negara-negara di dunia bahkan dari negara yang mengklaim sangat demokratis dengan memanfaatkan pandemi COVID-19.

Namun, invasi Rusia ke Ukraina telah sejenak melupakan kita terhadap pandemi. Seolah invasi telah membongkar konstelasi global yang selama ini diperkuat untuk menangani pandemi. Dalam menangani pandemi pula, tak sedikit negara-negara di dunia yang memberlakukan pembatasan sosial dengan tindakan yang represif. Satu hal yang akan menjadi memori kelam masyarakat global ialah terjadinya konfrontasi terhadap kebebasan individu. Apakah invasi dan penanganan pandemi menjadi penanda kebangkitan dari otoritarianisme?

Di Indonesia sendiri, telah terjadi kasus-kasus pelanggaran terhadap hak asasi manusia dari segi kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi, yang berlawanan dengan otoritas dicap melanggar peraturan dan tidak mendukung pemerintah dalam menangani pandemi. Pelanggaran terhadap kebebasan individu ini bukan hanya sekali dua kali dilakukan oleh pemerintah. Saat ini, pemerintah memiliki pembenaran yaitu untuk melindungi keamanan masyarakat di tengah pandemi. Namun seperti yang kita ketahui bersama, saat pemerintah berkata keamanan, apa yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya. Tidak akan pernah ada keamanan di tengah otoritarianisme.

Ayn Rand, seorang filsuf dan sastrawan ternama kelahiran Uni Soviet yang populer dikenal sebagai ibu dari aliran filsafat objektivisme kerap membahas dalam berbagai karyanya mengenai pentingnya kebebasan, kedaulatan individu, dan bagaimana pemerintah menjadi ancaman utama bagi kebebasan umat manusia. Namun sayangnya, pemikiran-pemikiran Rand termasuk objektivisme masih kurang populer di tengah diskursus filsafat dan politik di Indonesia. Padahal, Rand menawarkan analisis-analisis tajam untuk membedah berbagai permasalahan yang melanda dunia saat ini.

Berkaitan dengan hal tersebut, Students For Liberty Indonesia mengadakan webinar hybrid bertajuk “Manusia dan Masa Depan Kebebasan dalam Perspektif Objektivisme”, Jumat,  (25/4), dengan narasumber Direktur Lokataru Indonesia, Haris Azhar, dan Suhendra Manggopa dari Amagi Indonesia dipandu oleh Local Coordinator Students For Liberty Indonesia, Iman Amirullah.

Suhendra Manggopa sebagai pembicara pertama, membuka pemaparannya dengan menjelaskan secara singkat dan lengkap tentang Ayn Rand. Paparan ini kemudian dilanjutkan dengan penjelasan tentang landasan dari objektivisme Ayn Rand, yang terangkum dalam tiga hal, yaitu realisme persepsi, empirisme, dan etika. Suhendra juga menjelaskan bahwa Rand menekankan terhadap evolusi progresif. Manusia berkembang dan maju dari peradaban primitif ke masyarakat modern, yang hanya mungkin terjadi saat manusia memiliki kehendak bebas.

Usai pemaparan pembicara pertama, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan dari pembicara kedua, Haris Azhar. Haris memberikan pemaparan singkat tentang bagaimana objektivisme tidak teruji dan sering dipakai untuk saling menyerang. Menurut Haris, objektivisme terpengaruhi oleh kekuasaan, sehingga tidak benar-benar bebas nilai. Ia berpendapat bahwa objektivisme sama seperti konsep-konsep lain, idealnya dijadikan sebagai pijakan awal atau landasan yang terus diuji dan didefinisikan ulang, bukan sebagai tujuan. Haris juga menyoroti bahwa kondisi yang ada di masyarakat saat ini adalah disorder atau chaotic bukannya kebebasan, hal ini lah yang menyebabkan banyak masyarakat yang menganggap bahwa semua kekacauan saat ini akibat kebebasan yang kebablasan. Konsepsi kebebasan terkunci oleh konsep kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan. Jadi, kebebasan bukan berarti bebas membunuh dan menyerang orang lain.

Usai sesi pemaparan materi, sesi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang cukup aktif. Beberapa pertanyaan menarik yang perlu dicatat adalah tentang seberapa jauh peran negara yang ideal dalam masalah kebebasan berbicara. Pemateri menanggapi dengan jawaban bahwa seberapa jauh respon negara bergantung dengan reaksi dari koresponden grup yang ada, jika muncul konflik dari para koresponden grup ini lah kita memerlukan negara sebagai fasilitator.

Penanya selanjutnya memberikan pertanyaan tentang apakah liberalisme yang individualistik relevan dengan Indonesia yang religius dan komunal. Haris menjawab pertanyaan ini dengan satir, bahwa individualisme tidak bisa dipisahkan dari kehidupan karena banyak kehidupan manusia pun dilakukan secara individualistik seperti buang air, berfikir tentang sesuatu, bahkan saat bernafas. Individualisme dan komunalisme tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia karena manusia punya saat-saat di mana ia individualis dan komunalis dalam kehidupannya, sehingga pertanyaan tersebut menjadi tidak relevan.

Sebagai penutup, Suhendra Manggopa menegaskan bahwa kita tidak memerlukan semua orang mengetahui dan menyadari objektivisme untuk dapat mengimplementasikan objektivisme dengan baik dan menghasilkan kebebasan. Ia akan terjadi otomatis jika sistem objektivisme ini diterapkan dengan hukum yang benar dengan hanya membatasi kekerasan saat di mana kebebasan itu terancam. Hukum akan menjadi guru bagi mereka yang melanggar batasan-batasan kebebasan ini, objektivisme akan menjadikan negara sebagai penjaga agar kehidupan manusia berjalan dengan baik dan bebas.