Cerita Diskusi Mengenai Ekonomi Mahzab Austria dan Social Entrepreneurship

643
Pada Jumat sore, 22 November 2019, Suara Kebebasan bekerjasama dengan Anggon Paramadina menyelenggarakan diskusi mengenai social entrepreneurship dan mazhab ekonomi Austria. Narasumber dari acara diskusi ini adalah Dr. Ari Margiono dan dimoderatori oleh Haikal Kurniawan.

Hujan lebat yang sebelumnya membasahi ibukota Jakarta dan membuat becek lalu litas jalanan, tak membuat semangat para hadirin dan panitia untuk bercengkrama dan hanyut dalam suasana diskusi santai. Diskusi ini diselenggarakan di Anggon Paramadina, para hadirin disuguhi oleh kopi, air mineral, dan cemilan yang menambah santai suasana.

social entrepreneurship mungkin merupakan suatu kajian baru yang belum mendapat sorotan. Ini diakui oleh narasumber sendiri, Ari Margiono (Mas Ari sapaan akrabnya) yang menyebut bahwa para ekonom Austrian tidak membahas mengenai social entrepreneurship (mungkin) dikarenakan format dan bentuk mengenai kewirausahawan sosial belum ada pada masa itu.

*****

Mazhab Austria meyakini bahwa entrepreneur atau wirausaha adalah pemegang kunci bagi perkembangan ekonomi suatu negara, namun terkadang usaha tersebut (walau memberi nilai tambah bagi masyarakat dan juga negara) namun tak dapat dipungkiri bahwa berbagai masalah sosial seperti kemiskinan, kurangnya sarana transportasi, kurangnya akses pengetahuan, dll..

Negara mungkin akan merancang berbagai macam program dan kebijakan untuk menangani masalah-masalah sosial tersebut, namun pada kenyataannya, negara tidak mampu untuk menangani segala kebutuhan masyarakat dan program-program bantuan tersebut tidak memberi dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat.

Berangkat dari hal tersebut muncul istilah social entrepreneurship. Social entrepreneurship berasal dari dua kata, yaitu sosial, yang berarti masyarakat, dan entrepreneurship yang berarti kewirausahaan. Bisa dikatakan social entrepreneurship adalah orang yang memiliki inovasi baru untuk membangun suatu usaha dengan tujuan untuk memecahkan permasalahan yang ada di masyarakat. Para entrepreneur yang berusaha memulai suatu usaha, mengambil risiko untuk menciptakan perubahan bagi masyarakat melalui inisiatif usaha yang mereka dirikan.

Acara yang dipandu oleh Haikal Kurniawan, selaku moderator, membuka diskusi dengan menjelaskan bahwa wirausahawan atau para pelaku usaha, selalu melihat peluang-peluang di lapangan untuk menghadirkan suatu produk yang akan diminati oleh publik secara luas. Kejelian para wirausaha dalam melihat kesempatan tersebut, menurut Haikal, adalah pintu bagi munculnya start up- start up yang berdiri dengan tujuan sosial.

Ari Margiono selaku narasumber, menjelaskan bahwa entrepreneurship atau kewirausahaan belakangan kembali marak dan menjadi trend dikalangan generasi milenial. Kemanjuan teknologi dan juga jaringan internet yang membuat setiap individu terhubung dengan individu dibelahan dunia lain, diikuti dengan munculnya startup-startup  yang berbasis di dunia maya.

Teknologi telah menjadi infrastuktur untuk kelancaran bisnis dan tumbuhnya dunia usaha, salah satu yang turut berkembang adalah model social entrepreneurship atau kewirausahaan sosial. Banyak orang yang mengembangkan suatu wirausaha bukan untuk mengembangkan profit tetapi semata-mata untuk tujuan sosial.

Menurut Mas Ari, ada dua faktor yang membuat kewirausahaan sosial tumbuh, yang pertama adalah munculnya trend global yang mulai digandrungi oleh para usahawan muda untuk menyelesaikan problem sosial, yang kedua, karena lembaga-lembaga nonprofit seperti NGO dan LSM yang bergerak untuk kepentingan sosial, tidak mendapat donor dari pemerintah, foundation, atau CSR perusahaan, sehingga membuat mereka termotivasi untuk merubah lembaga mereka menjadi suatu bisnis yang berorientasi sosial.

Mas Ari menyebut bahwa posisi social entrepreneurship berada di tengah. Disisi kanan adalah bisnis yang bergerak untuk kepentingan profit pribadi, untuk mendapat untung sebanyak-banyaknya, seperti perusahaan proverty dan lain sebagainya yang dimiliki oleh individu. Disisi kiri merupakan suatu usaha atau perusahaan yang menjalankan bisnis murni untuk keuntungan bersama atau dengan tujuan sosial (memberi untung negara), seperti koperasi atau perusahaan yang dimiliki oleh pemerintah  untuk tujuan mendapat profit bagi negara dan kesejahteraan umum.

Sedangkan social entrepreneurship adalah usaha yang ia bertujuan untuk masayarakat sekaligus untuk keuntungan. Seorang wirausaha yang menjalankan usaha yang bersifat social entrepreneur, mereka fokus menjalankan usaha dalam dua bottom lines. Yang pertama adalah menghasilkan keuntungan (profit) untuk perusahaan dan karyawan mereka. Yang kedua masyarakat mendapat keuntungan dengan tertanggulangi atau terbantu dalam menangani masalah sosial seperti kelaparan, kerusakan lingkungan, pendidikan, dan lain sebagainya.

Salah satu contoh yang dikemukakan adalah Perusahaan Amarta, yang bergerak dalam bidang financial Technology (fintech) yang memberi bantuan guna menguntungkan dan berdampak sosial yang nyata.  Bagi Mas Ari, Amarta peer to peer leanding-nya ditujukan untuk ibu-ibu dan perempuan yang ada di desa yang termarginalisasi sehingga mereka bisa mendapatkan support untuk bisnisnya.

Selain Amarta yang dijadikan contoh oleh Mas Ari Margiono, ruangguru.com juga merupakan perusahaan berbasis tekhnologi yang bergerak dalam bidang pendidikan. Sirtanio Organik Indonesia juga merupakan wirausaha sosial yang bergerak dalam bidang pertanian. Sirtanio adalah produsen beras organik yang hadir untuk meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia melalui sistem pertanian organik terpadu, termasuk pelatihan manajemen budidaya padi, pinjaman bibit dan pembelian harga panen yang ditentukan oleh kontrak dengan margin 20-30% di atas harga setempat.

Mas Ari juga menjelaskan bagaimana social entrepreneurship dalam kacamata ekonomi madzhab Austria. social entrepreneurship juga sama dengan sistem ekonomi lainnya, yaitu mendapatkan keuntungan atau mendapat profit sebesar-besarnya, ini sama dengan prinsip Mazhab Austria yang menekankan kreativitas individu dalam bisnis guna mendapat keuntungan (profit), namun wirausaha sosial (social entrepreneurship) menekankan pada integritas mereka untuk berkontribusi dalam menanggulangi masalah sosial.

Diskusi social entrepreneurship yang diisi oleh Mas Ari Margiono ini berlangsung seru dan sangat hidup. Audiens cukup aktif bertanya dan tak ayal guyon-guyon segar dan gelak tawa mewarnai diskusi malam itu. Walaupun secara sekilas social entrepreneurship dikira sebagai gerakan kiri alias sosialis, namun pada praktiknya kewirausahaan sosial dimiliki oleh seorang individu untuk mendapatkan profit.

Namun disisi lain, social entrepreneurship hadir guna melihat peluang sekaligus persoalan dalam lingkungan masyarakat, sehingga para wirausaha ingin membangun suatu perusahaan yang dikhususkan untuk membantu orang banyak. Karena itulah Mas Ari mengatakan bahwa kewirausahaan sosial atau social entrepreneurship berada diposisi tengah.