Cerita Diskusi dan Peluncuran Buku Libertarianisme

905

Walau sudah memasuki bulan Desember, namun siang itu cuaca cukup cerah dan matahari bersinar sebagaimana biasanya. Pukul 14.00 WIB suasana sibuk kota Jakarta tetap terasa, tiap orang tenggelam asyik dalam aktivitasnya. Meskipun hari itu menjelang akhir pekan, namun kesibukan kota Jakrata membuat hari itu tak beda dengan hari-hari lainnya

Menjelang akhir pekan, Suara Kebebasan menyelenggarakan sebuah forum diskusi, yaitu bedah buku “Libertarianisme: Perspektif Kebebasan atas Kekuasaan dan Kesejahteraan” atau yang bisa disingkat dengan buku Libertarianisme. Buku Libertarianisme, dibanding dengan buku-buku yang diterbitkan oleh Suara Kebebasan, merupakan buku istimewa, sebab ditulis oleh para penulis dan pegiat kebebasan dalam negeri.

Menurut pantauan kami, cukup jarang buku-buku mengenai kebebasan atau libertarianisme yang ditulis oleh penulis dalam negeri. Berangkat dari persoalan ini Suara Kebebasan terdorong untuk membuat suatu buku yang secara luas membahas tentang dasar dari libertatrianisme dan ideologi kebebasan untuk mengisi pasar intelektual di Indonesia yang biasanya diisi oleh golongan nasionalis, sosialis atau agama.

Kemudian tim mulai bergerak dan menyeleksi ratusan artikel yang masuk meja redaksi dan telah diposting pada portal online Suara Kebebasan dari rentang waktu 2017 hingga 2018. Beberapa artikel reflektif dari berbagai penulis dan pegiat kebebasan kemudian dihimpun dalam suatu buku kompilasi yang utuh dengan tema-tema menarik yang membahas sisi libertarianisme.

Setelah diterbitkan, Suara Kebebasan kemudian berencana mengadakan acara peluncuran buku. Dan akhirnya pada hari sabtu 14 Desember 2019 acara diskusi sekaligus peluncuran buku akhirnya terlaksana. Sebelum acara, banyak kawan-kawan dan juga pembaca setia portal Suara Kebebasan mengucapkan selamat serta mengapresiasi peluncuran buku tersebut. Pemerhati dan pegiat isu-isu libertarian Indonesia yang juga pendiri organisasi Indeks, Nanang Sunandar, bahkan berharap agar Suara Kebebasan bisa terus berkarya bahkan menerbitkan kembali satu buku utuh yang fokus mengurai isu-isu kebebasan di Indonesia.

Acara peluncuran direncanakan di Ke:Kini, di daerah Menteng, Cikini,  Jakarta Pusat, acara itu dinarasumberi oleh Haikal Kurniawan selaku salah satu penulis, Ninasapti Triaswati (Mbak Nina) selaku ekonom dan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia, dan dimoderatori oleh Adinda Tenriangke Muchtar atau Mbak Adinda sapaan akrabnya.

Waktu menunjukan pukup 14.10 acara dimulai oleh Mbak Adinda tentang latar belakang penerbitan buku ini atas dasar perhatiannya terhadap isu-isu kebebasan yang berkembang di Indonesia mendorong tim Suara Kebebasan untuk menerbitkan buku ini.

Haikal Kurniawan kemudian menjadi pembicara pertama. Haikal menjelaskan mengenai dasar-dasar libertarianisme dan juga keprihatinan terhadap kondisi kebebasan di Indonesia. Di negeri ini, ide-ide kebebasan sering disalahpahami bahkan masyarakat juga cenderung berpikiran negatif terhadap kata “liberal” atau “liberalisme” yang dianggap liar alias bebas semau-maunya, padalah tidak, konsep libertarian adalah konsep yang berdiri tentang hak kebebasan individu yang didapat dari manusia sejak lahir.

Kebebasan tersebut tidak bisa dirampas atau direbut siapapaun termasuk mayoritas atau negara. Liberalisme menjamin adanya kebebasan berpendapat, kebebasan berpikir, kebebasan berkreativitas, juga jaminan hukum tanpa takut oleh ancaman siapapun. Dalam buku tersebut di bab awal, Haikal menulis tentang tirani mayoritas. Belakangan ini demokrasi kita diwarnai oleh arogansi yang bernama mayoritarianisme. Dimana sekelompok orang memaksa kehendaknya pada kelompok yang lebih kecil.

Mayoritarianisme ini merupakan penyakit bagi kebebasan di Indonesia, sebab mayoritarianisme dapat membuat kelompok besar menindas kelompok yang lebih kecil. Memang mayoritarianisme adaah penyakit dalam demokrasi kita, sebab tujuan dari demokrasi adalah menciptakan iklim bernegara yang saling menghormati hak dan properti orang lain. Demokrasi mengizinkan terciptanya ruang kebebasan dan perbedaan, karena itulah mayoritarianisme merupakan penyakit yang dapat mengancam demokrasi.

Selanjutnya Haikal menjelaskan tentang persepsi bangsa Indonesia bahwa ide-ide kebebasan atau libertarianisme adalah ide asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa kita. karena itulah banyak tokoh indonesia yang dengan terang-terangan membenci ide mengenai liberalisme bahkan mengutuknya. Pandangan ini keliru dan sangat keliru. Ide-ide kebebasan tidak didikotomikan sebagai ide bangsa barat atau bangsa timur atau bangsa manapun.

Ide-ide kebebasan yang ditawarkan oleh libertarianisme adalah ide universal yang dapat diterima oleh akal budi dan nurani manusia. Contohnya, libertarian menjunjung tinggi hak individu untuk memiliki properti, kebebasan untuk berekspresi, berpendapat, dan juga menjunjung gerakan humanis (kemanusiaan) dengan menolak penindasan.

Haikal juga berkata bahwa individualisme bukanlah egoisme. Individualisme adalah gagasan dimana setiap individu memiliki kebebasan alamiah yang orang lain tidak bisa merampas seenaknya. Dengan mengetahui dan menghargai kebebasan tiap individu, maka setiap orang dituntut untuk menghormati (kebebasan) orang lain. Setiap orang harus mengetahui hak dan batasan dirinya ketika bergaul dengan orang lain. Liberalisme atau libertarianisme tidak mengizinkan dengan alasan apapun orang untuk mencuri, menindas, atau berbuat ugal-ugalan yang menganggu hak orang lain.

Sesi kedua kemudian dilanjutkan oleh Mbak Ninasapti Triaswati mengenai pasar dan kebebasan. Di Indonesia, wacana tentang pasar bebas atau ekonomi kapitalisme masih tabu. Karena dianggap sebagai ekonomi yang hanya berpihak pada orang kaya saja, asumsi ini keliru, Ninasapti menerangkan bahwa ekonomi Kapitalisme adalah ekonomi yang berkembang dengan prinsip kebebasan pasar, dimana market menjadi inti dari proses ekonomi tersebut.

Memang diakui bahwa setiap aliran ekonomi pasti memiliki pasar termasuk sosialisme-komunisme di (bekas) Uni Soviet. Namun pasar yang membedakan kapitalisme dengan sosialisme adalah “kebebasan”. Dalam sistem sosialisme atau komunis tidak ada kebebasan pasar. Produksi, distribusi bahkan kuota pembelian telah diantur oleh politburo komunis (pemerintah) seperti yang dipraktikan di china dan soviet dahulu.

Di China, karena semua serba dibatasi, Mbak Ninasapti mencontohkan tentang pembatasan warna pakaian yang hanya tersedia 3 warna: hijau, putih, atau abu-abu. Demi komunal, di zaman Mao Zedong dibuat kolektivisme pertanian, istilah “kaya raya” adalah tabu di negara sosialis (khususnya China). Namun hal ini berlangsung tidak begitu lama, selepas kematian Mao, penggantinya Deng Xiaoping segera mereformasi ekonomi dan terciptalah ekonomi pasar sosialis, dimana sistem pasar bebas agak dibuka sedikit oleh pemerintah China.

Narasumber kemudian menjelaskan tentang ekonomi kapitalisme, dimana kapitalisme dibagi menjadin kapitalisme yang berlandaskan pasar bebas (saya sendiri menyebutnya kapitalisme murni dan ada kapitalisme oligarki yang mana terdapat kroni-kroni konglomerat yang berselingkuh dengan penjabat birokrat untuk “membeking” bisnisnya.

Kapitalisme ini dipraktikan oleh Orde Baru, dimana pemerintah menjalankan ekonomi kapitalisme kroni namun menyerahkan monopoli kepada keluarga dan kroni-kroninya. Seperti dahulu ada lembaga Badan Penyangga Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang memonopoli jual-beli cengkeh. Dimana setiap petani cengkeh harus menjual hasil cengkeh mereka ke BPPC  dan pembeli cengkeh juga harus membeli ke badan tersebut. Monopoli pasar ini bukanlah kapitalisme dalam artian murni, sebab peran pemerintah saat itu sangat besar. Di akhir pembicaraan Mbak Nina menjelaskan, bahwa kebebasan dan kreatifitas individu sangat penting dalam kemajuan ekonomi  pasar.

Selesai menyampaikan materi, diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Banyak pertanyaan menarik yang dilontarkan, dan pemateri berusaha menjawab dengan sebaik dan sejelas mungkin. Diantaranya adalah apakah liberalisme juga mendukung kebebasan bagi paham radikal berkembang, apakah kapitalisme berbahaya dan lain sebagainya.

Para pemateri menjawab bahwa kebebasan berpikir bukan berarti kebebasan untuk melakukan kekerasan, begitu juga tentang kapitalisme yang dipahami sebagai “kerakusan”, kapitalisme bukanlah sistem yang membenarkan monopoli dan oligarki, tetapi mengizinkan agar manusia dengan kreatifitasnya meningkatkan kesejahteraan dirinya.

Umumnya para audiens adalah orang-orang yang masih awam dan penasaran dengan gagasan liberalisme dan libertarianisme. Karena itu para penaya tak melewatkan kesempatan itu untuk menemukan pandangan baru  yang ditawarkan oleh libertarianisme.