Cerita Diskusi Buku tentang Kapitalisme di Medan

597

Jelang akhir bulan November 2019, Suara Kebebasan berkesempatan untuk menyelenggarakan diskusi buku “Kapitalisme: Modal, Kepemilikan, dan Pasar yang Menciptakan Kesejahteraan Dunia” (Eamonn Butler, 2018, IEA), di Kota Medan. Ini adalah kali pertama Suara Kebebasan berkegiatan dan berjejaring di Medan. Kami sangat senang bisa berkolaborasi perdana pula dengan jaringan komunitas di Kota Medan, yaitu Degil House dan Literacy Coffee. Kedua komunitas ini sangat antusias, terbuka, dan responsif menyambut tawaran kolaborasi dari Suara Kebebasan.

“Tak kenal, maka tak sayang.” Itu pula pepatah yang kerap Suara Kebebasan sampaikan saat memperkenalkan dan mendiskusikan gagasan tentang kebebasan. Untuk itu, Suara Kebebasan membagikan 40 buku “Kapitalisme” untuk masing-masing komunitas dalam kolaborasi perdana tersebut. Dalam kesempatan perdana di Kota Medan itu juga, Adinda Tenriangke Muchtar, Chief Editor Suara Kebebasan, ikut memperkenalkan kapitalisme di kedua komunitas tersebut. Diskusi berlangsung seru dan menarik. Kebanyakan pertanyaan dan kritik terhadap kapitalisme muncul dikaitkan dengan konteks praktik kapitalisme di Indonesia, sejarah kapitalisme, nature kapitalisme, dan tantangan soal definisi kapitalisme yang kerap disalahpahami.

Diskusi pertama dilangsungkan pada hari Kamis, 28 November 2019 di sore hari, bertempat di Degil House – CREATIVE SPACE, yang bekerja sama pula dengan Komunitas Mikir. Degil House sendiri dibuat untuk memberi ruang bagi para musisi untuk berekspresi, sekaligus tempat untuk membaca dan berinteraksi dengan orang-orang dari beragam latar, baik dari pelajar, mahasiswa dan organisasi mahasiswa, aktivis, seniman, peneliti, maupun dosen. Mereka juga terbuka untuk berkolaborasi dan membahas beragam isu untuk diskusi di Degil House, yang juga merupakan kafe, yang menyediakan hidangan khusus, terutama teh bunga, seperti yang dijelaskan pendiri Degil House, Eda Citra.

Sekitar 15 orang hadir dan berpartisipasi dalam diskusi buku “Kapitalisme”. Hujan lebat hari itu tidak menyurutkan niat dan semangat teman-teman di Kota Medan untuk ikut bersuara dan berbagi tentang pemahaman mereka mengenai kapitalisme. Diskusi yang dipandu oleh Imam “Saint Ali” (Redaktur degilzine.com) ini berlangsung selama dua jam. Adinda memulai pemaparannya dengan memperkenalkan tentang Suara Kebebasan dan pembabakan buku “Kapitalisme”, khususnya terkait definisi, pemahaman tentang modal, hak kepemilikan, pasar, serta salah kaprah terhadap kapitalisme. Adinda juga mengacu beberapa contoh untuk memberikan penjelasan dan memberi konteks tentang kapitalisme.

Diskusi di Degil House lebih banyak mengkritisi nature dan praktik kapitalisme, yang dianggap secara instrinsik destruktif karena kompetisi dan eksploitatif, terutama lewat contoh relasi kuasa antara pemilik pabrik dan buruh. Di sini, Adinda menjelaskan bahwa relasi kuasa tidak bisa dihindari dan dalam kapitalisme, seperti yang juga dijelaskan oleh Butler, ketimpangan juga merupakan hal alamiah sebagai konsekuensi dari pertukaran yang berdasarkan nilai-nilai subyektif.

Dalam hal ini, keuntungan bukan melulu bersifat finansial, namun juga non-finansial. Butler juga menggarisbawahi bahwa kapitalisme bukanlah “kompetisi potong leher”. Kapitalisme berjalan atas dasar sukarela, saling percaya, dan tidak berdasarkan kekerasan. Kapitalisme juga tidak menerima pengusaha yang munafik, yang meminta perlakuan khusus dari pemerintah, terlebih jika eksploitatif dan melanggar hak asasi manusia.

Dari sesi tanya jawab ini pulalah dapat dikatakan penting untuk memperkaya literatur mengenai kapitalisme agar definisi dan praktiknya tidak disalahpahami atau menyimpang. Karena, jika terjadi penyimpangan terhadap konsep kapitalisme tersebut, jelas itu bukan kapitalisme dan pelanggaran terhadap prinsip kapitalisme itu sendiri. Selain itu, diskusi interaktif yang terjadi pun menarik, karena jadi proses saling belajar dan berbagi, baik terkait literatur lain yang dirujuk untuk memahami kapitalisme maupun dari contoh-contoh kasus nyata yang terjadi di Indonesia, yang pada dasarnya membuat upaya untuk memahami kapitalisme dengan tepat dan dengan literatur yang sesuai merupakan hal yang sangat penting.

Hal tersebut pulalah yang juga digarisbawahi di diskusi buku di Literacy Coffee pada tanggal 29 November. Bertempat di kafe aktivis yang aktif menyuarakan isu keadilan dan kesejahteraan, serta menjadi hub untuk studi tentang Sumatera Utara, diskusi buku “Kapitalisme” berlanjut di malam hari dan dihadiri oleh kurang lebih 30 peserta berlangsung hangat di taman Literacy Coffee, yang didirikan oleh Jhon Fawer Siahaan tersebut. Diskusi buku di Literacy Coffee diperkaya oleh pembahasan dari budayawan (Sekolah Estetika), AT. Arief, dan moderator dari Perempuan Hari Ini, Lusty Malau.

Dalam pembahasannya menanggapi paparan awal dari Adinda mengenai buku “Kapitalisme”, Arief mengatakan bahwa buku ini merupakan bacaan awal untuk purifikasi kapitalisme yang kerap terpapar oleh stigma negatif karena cara berpikir mitologis. Lebih jauh, Arief menggarisbawahi pentingnya memahami benar kapitalisme lewat literatur yang kaya dan tepat, sebelum memberikan stigma. Misalnya, dengan melihat kembali sejarah pemikiran tentang kapitalisme, serta prinsip-prinsip kapitalisme yang menekankan pada pentingnya kepemilikan dan akses terhadap sumber daya.

Tampaknya, paparan pembuka dari budayawan dan dosen ini juga sangat tepat untuk menggambarkan persepsi umum yang negatif terhadap kapitalisme selama ini. Arief lebih lanjut juga menyampaikan pemikiran William Jack Baumol, ekonom Amerika (1922-2017), tentang beragam tipe kapitalisme, dari yang baik (korporasi besar dan wirausaha kapitalis)  hinggga kapitalisme yang buruk (kapitalisme oligarkis negara dan kapitalis arahan negara). Baumol menekankan pentingnya peran wirausaha dan kerjasama dengan korporasi besar, misalnya terkait investasi dalam hal penelitian dan pengembangan.

Di sisi lain, Arief juga mengkritisi belum dimasukkannya isu-isu lingkungan dan fakta historis tentang kegagalan kapitalisme, seperti di saat Great Depression dan Subprime Mortgage Crisis, dimana negara justru diminta berperan untuk mengatasi kegagalan yang dianggap sebagai kegagalan kapitalisme. Di kasus subprime mortgage crisis sendiri, Adinda juga merujuk pada Eamonn, yang menyebutkan bahwa justru krisis tersebut diakibatkan oleh intervensi pemerintah yang keliru dan mendistorsi pasar, dan bukan disebabkan oleh pelaku pasar. Terkait isu lingkungan, Adinda juga memberikan contoh inovasi korporasi misalnya, dalam membuat kemasan produk yang lebih ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Butler dalam buku ini juga menyebutkan pentingnya peran pengusaha dalam mendorong inovasi terus-menerus untuk memenuhi kebutuhan pasar dengan lebih cepat, lebih baik, dan lebih terjangkau.

Pembahasan buku dari Adinda dan Arief, serta pembuka dan selingan pertanyaan dari Lusty pun diikuti oleh sesi tanya jawab. Salah satu peserta mengkritisi terlalu banyaknya purifikasi ideologi, baik komunisme maupun kapitalisme, serta betapa seringnya masyarakat dipaksa untuk berpegang pada ideologi tertentu, yang tidak selalu bisa menjawab permasalahan. Lusty sang moderator juga mengangkat tentang kapitalisme dan permasalahan tentang hak kepemilikan perempuan. Di sisi lain, ada juga penanya yang pada intinya mengatakan bahwa kapitalisme seharusnya bukan hanya jadi diskursus atau alat kepentingan para elit atau penguasa saja. Bahkan komunitas atau aktivis lewat jaringan dan pengorganisasian juga bisa memanfaatkan kapitalisme untuk memperjuangkan isu.

Hal lain yang kembali muncul dan merupakan apresiasi terhadap adanya buku ini adalah pentingnya mempunyai dan membaca rujukan lain terkait kapitalisme dan membuka ruang seluas mungkin untuk membahas beragam ideologi secara terbuka di berbagai komunitas, termasuk di Literacy Coffee. Interpretasi dan penerapan kapitalisme dalam realitanya menjadi catatan yang mendasar dan hangat diperbincangkan dalam diskusi buku malam itu.

Untuk menutup diskusi, Arief menambahkan pentingnya membawa kapitalisme ke ranah praktik dan menjelaskannya dari aspek makro dan mikro. Ia juga memberi contoh betapa kapitalisme  juga mengalami pembajakan yang melenceng dari definisinya. Sementara, Adinda menekankan pentingnya memahami kapitalisme dari teks, konteks, dan realitanya, serta memahami dengan benar definisi kapitalisme yang sebenarnya agar tidak terus disalahpahami dengan hal-hal yang jelas bukan bagian dari kapitalisme. Misalnya, kroni, eksploitasi, pemaksaan, dan kekerasan. Suara Kebebasan sendiri sangat senang untuk berbagi buku “Kapitalisme” sebagai salah satu rujukan untuk memperkenalkan kapitalisme khususnya, serta gagasan kebebasan pada umumnya.

Diskusi buku malam itu sangat hangat hingga berakhir jelang pukul 11 malam setelah kurang lebih berlangsung selama hampir 3 jam. Dari diskusi buku “Kapitalisme” dua hari di Kota Medan tersebut, hal yang menarik yang jadi benang merah adalah pentingnya berjejaring, berkolaborasi, berdiskusi dan berbagi pengalaman, serta memperkaya bacaan, untuk memperkenalkan gagasan kebebasan dan menempatkan gagasan kebebasan, termasuk kapitalisme dalam realita dan konteksnya dengan definisi yang tepat dan sesuai. Sekali lagi, “Tak kenal, maka tak sayang.”

Terima kasih banyak untuk teman-teman di Kota Medan yang sudah berpartisipasi, serta tentunya teman-teman di Degil House dan Literacy Coffee, yang sudah bersedia berkolaborasi bersama Suara Kebebasan untuk mendiskusikan buku “Kapitalisme” dan membahas gagasan kebebasan. Salam Kebebasan!.