Cerita dari Pelatihan Atlas Network: Think Tank Theory and Practice

594

Membangun dan menjalankan lembaga think tank adalah hal yang tidak mudah. Ada banyak faktor yang harus kita perhatian agar kita bisa mendapatkan kesuksesan dari lembaga think tank yang kita bangun, dan agar kebijakan yang kita advokasi bisa diterima oleh masyarakat dan diimplementasikan dalam bentuk kebijakan publik.

Hal ini tidak hanya berlaku di negara lain, namun juga di Indonesia. Bila kita membangun dan menjalankan lembaga riset dan advokasi secara asal-asalan dan tanpa strategi yang jelas, bukan hanya karena mustahil kebijakan yang kita advokasi tidak akan diterima dan diimplementasikan, namun lembaga yang kita bangun dan kita jalankan juga kelak tidak akan dapat beroperasi.

Untuk membantu perihal persoalan tersebut, organisasi mitra Suara Kebebasan, Atlas Network, menyelenggarakan pelatihan daring yang berjudul “Think Tank Theory and Practice”, yang ditujukan kepada berbagai organisasi mitra Atlas di seluruh dunia. Pelatihan itu sendiri diadakan dari bulan Juli lalu sampai dengan Agustus 2021. Dalam hal ini, saya selaku managing editor Suara Kebebasan, mendapat kesempatan untuk ikut dan terlibat sebagai salah satu peserta di pelatihan tersebut.

Sebagaimana pelatihan yang diadakan oleh Atlas Network lainnya, pelatihan kali ini dibagi menjadi empat bagian, dengan setiap bagian berlangsung selama 1 minggu. Di akhir setiap bagian, akan diadakan tes kepada para peserta untuk menguji pengetahuan yang dimiliki peserta dari materi pelatihan yang diberikan di minggu tersebut.

Pada pelatihan di minggu pertama, dibahas mengenai pentingnya pernyataan visi dan misi (vision and mission statement) dari sebuah organisasi. Tanpa adanya pernyataan visi dan misi dari sebuah organisasi, maka akan sangat sulit hingga mustahil organisasi tersebut dapat berkembang dan berjalan dengan baik, karena mereka yang terlibat di dalamnya tidak mengetahui tujuan dari dibangunnya organisasi tersebut.

Pernyataan visi sendiri merupakan pernyataan dari sebuah organisasi yang bertujuan untuk menggambarkan secara garis besar apa yang ingin dicapai oleh organisasi tersebut di masa depan. Untuk itu, sangat penting bagi sebuah organisasi untuk memiliki pernyataan visi dan misi yang dapat menginspirasi.

Sementara itu, pernyataan misi sendiri merupakan pernyataan yang bertujuan untuk memberikan arah bagi organisasi kita tentang bagaimana langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai visi yang telah kita bangun. Hal ini mencakup apa yang saja yang harus kita capai, bagaimana cara mencapai hal tersebut, dan mengapa hal tersebut adalah sesuatu yang penting.

Di bagian pertama ini juga dibahas mengenai Overton Window. Overton Window sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan spektrum kebijakan yang dapat diterima oleh populasi umum pada waktu tertentu. Semakin “ekstrim” suatu kebijakan yang diajukan, maka akan semakin jauh pula dari Overton Window.

Tugas dari lembaga think tank adalah bagaimana menggeser Jendela Overton tersebut agar ide-ide yang kita advokasi dapat diterima oleh masyarakat umum, sehingga bisa diimplementasikan dalam bentuk kebijakan. Hal ini bisa dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari penelitian, mengadakan diskusi publik, kampanye publik, dan lain sebagainya.

Memasuki bagian kedua dalam pelatihan ini adalah mengenai konsep yang disebut dengan North Stars. Istilah North Stars sendiri diambil dari sejarah, di mana para penjelajah di masa lalu menggunakan bintang Polaris, yang bila dilihat dari Bumi merupakan bintang yang paling dekat dengan kutub utara, sebagai acuan navigasi. Konsep mengenai North Stars sendiri sangat penting sebagai acuan apa yang organisasi kita harus lakukan, agar menjadi terarah.

Untuk itu, sangat penting untuk mengkaitkan North Stars dari organisasi kita dengan pernyataan visi dan misi organisasi kita yang sudah kita buat dan rancang. Sangat penting juga, North Star dari organisasi kita dibuat dengan spesifik agar mampu menjadi panduan bagi kegiatan yang dilakukan oleh organisasi tersebut.

North Stars saja dalam hal ini tidak cukup. Konsep tersebut juga harus dipadukan dengan metriks sebagai alat pengukuran. Metriks dari North Stars organisasi yang kita digunakan sebagai alat ukur sejauh mana kita sudah mencapai North Stars dari organisasi kita. Oleh karena itu, metriks ini harus dapat dihitung dan dikuantifikasi,

Bagian ketiga dalam diskusi ini membahas mengenai analisis SWOT. SWOT sendiri merupakan kepanjangan dari strength, weaknesses, opportunity, dan threats. Agar organisasi kita bisa berjalan dengan baik, dan kita bisa mencapai visi kita, maka kita harus mengetahui kekuatan, kelemahan, kesempatan yang dimiliki, dan ancaman yang harus dihadapi dari organisasi kita.

Bagian terakir dalam pelatihan ini merangkum mengenai seluruh materi yang dibahas dalam pelatihan ini, seperti mengenai visi dan misi, North Stars, dan juga analisis SWOT, serta bagaimana menggunakan konsep-konsep tersebut untuk mengindentifikasi program kunci yang penting kita lakukan. Dalam bagian ini juga dibahas mengenai perbedaan output dan outcomes, di mana output adalah sesuatu yang bisa kita kontrol, seperti berapa banyak diskusi yang akan kita selenggarakan. Sementara, outcomes adalah hasil dari output yang kita lakukan, yang di luar dari kendali kita.

Sebagai penutup, pelatihan ini merupakan pelatihan yang penting bagi siapapun yang tertarik untuk terlibat dalam organisasi think tank. Saya sendiri juga sangat mengapresiasi pelatihan yang diadakan oleh Atlas Network ini, karena menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.