Cerita dari Asia Liberty Forum 2020

512

Pandemik Corona yang saat ini telah memporak-porandakan berbagai aktivitas sehari-hari miliaran masyarakat dunia. Berbagai kegiatan usaha menjadi terbengkalai, khususnya yang bergerak di bidang jasa seperti perhotelan dan restoran, karena mereka tidak lagi mendapatan pelanggan.

Selain kegiatan usaha, berbagai kegiatan acara di berbagai belahan dunia juga dibatalkan. Mulai dari acara pernikahan, konferensi, konser musik, hingga selebrasi olahraga terbesar di dunia, yakni Olimpiade Musim Panas 2020 di Jepang, dibatalkan sebagai dampak dari pandemik tersebut.

Salah satu acara yang dibatalkan karena pandemik corona adalah konferensi internasional, Asia Liberty Forum (ALF) 2020, yang diselenggarakan oleh organisasi mitra Suara Kebebasan, Atlas Network. ALF merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Atlas Network, yang mendatangkan berbagai organisasi dan tokoh-tokoh yang bergerak di bidang yang mendorong kebebasan ekonomi di berbagai negara di Asia untuk mendiskusikan berbagai topik terkini.

Acara ALF 2020 harusnya diselenggarakan di ibukota Filipina, Manila, pada bulan Maret lalu. Namun, karena pandemik Corona, acara tahunan tersebut akhirnya dibatalkan. ALF 2020 akhirnya diselenggarakan pada 22-23 April 2020 secara virtual melalui aplikasi ZOOM.

Topik utama yang dibahas dalam acara ALF tahun ini tentunya yang berkaitan dengan pandemik Corona yang terjadi di seluruh dunia. Salah satunya adalah mengenai bagaimana libertarianisme menanggapi intervensi pemerintah yang semakin besar sebagai dampak dari pandemik tersebut.

Libertarianisme merupakan gagasan yang selalu memiliki posisi skeptis terhadap kekuasaan pemerintah. Libertarianisme menyadari bahwa pemerintah merupakan satu-satunya organisasi yang memonopoli kekerasan. Oleh karena itu, segala bentuk kekuasaan pemerintah berpotensi besar untuk disalahgunakan oleh para penguasa dan pejabat.

Hal ini termasuk juga dengan respon berbagai pemerintah untuk menanggulangi dampak dari pandemik Corona. Menangani dampak dari pandemik Corona tidak serta-merta dapat dijadikan justifikasi bagi pemerintah untuk bertindak sewenang-wenang dan mengambil kebebasan rakyatnya secara semena-mena dan tanpa batas. Kita tidak boleh mematikan nalar berpikir kritis terhadap pemerintah untuk mencegah terjadinya kesewenang-wenangan.

Topik lainnya, salah satu dampak dari pandemik Corona di berbagai negara adalah meningkatnya tribalisme dan prasangka terhadap kelompok-kelompok yang berbeda. Topik ini dibahas oleh Dr. Tom G. Palmer dari Atlas Network, Bhakti Patil dari organisasi pegiat kebebasan pasar asal India, Centre for Civil Society, Ali Salman dari think tank asal Malaysia, IDEAS, dan Mirsuljan Namazaaly dari organisasi asal Kyrgyztan, Central Asian Free Market Institute.

Dr. Palmer menyatakan bahwa salah satu potensi dampak yang sangat negatif dari pandemik Corona adalah meningkatnya tribalisme karena setiap orang berdiam di rumah dan tidak bisa berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda dari diri mereka. Selain itu, kebencian terhadap kelompok yang berbeda juga dapat meningkat karena banyak orang yang menyalahkan pandemik tersebut kepada kelompok lain.

Hal inilah yang salah satunya terjadi di India, sebagaimana yang dipaparkan oleh Bhakti Patil. Patil memaparkan bahwa diskriminasi terhadap kelompok muslim meningkat karena banyak kelompok Hindu ekstrimis yang menganggap umat muslim di India sebagai salah satu sumber penyebar virus Corona. Sebagaimana yang bisa kita lihat dair berbagai media, virus Corona banyak tersebar di India melalui anggota-anggota Jemaat Tabligh yang masih melakukan berbagai acara dan perkumpulan di berbagai wilayah di India.

Topik lain yang dibahas dalam ALF tahun ini adalah mengenai kebebasan perdagangan di kawasan Asia, terutama pada masa pandemik Corona. Pemateri dalam sesi ini adalah Bhuvana Anand dari organisasi pegiat kebebasan ekonomi asal India, Centre for Civil Society (CCS), Aneetha Warusavitarana dari think tank asal Sri Lanka, Advocata Institute, dan Felippa Amanta dari organisasi mitra Suara Kebebasan yang berada di Jakarta, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS).

Felippa misalnya, mengatakan bahwa perdagangan internasional merupakan hal yang sangat penting, termasuk pada saat pandemik seperti sekarang. Impor dari negara lain dan ekspor ke negara lain sangat penting untuk memastikan tersedianya ketahanan pangan dan perekonomian tetap berjalan.

Selan itu, salah satu dampak yang paling nyata dari pandemik Corona adalah semakin meningkatnya angka pengangguran, yang tentunya akan mendorong kenaikan angka kemiskinan. Di Indonesia, saat ini sekitar 3 juta orang telah kehilangan pekerjaan dan usahanya karena pandemik Corona. Bila hal tersebut ditambah lagi dengan restriksi perdagangan, maka akan semakin banyak usaha yang tutup dan mendorong angka pengangguran menjadi lebih tinggi lagi.

Acara ALF 2020 ditutup dengan penghargaan Asia Liberty Award. Ada tiga finalis dari penghargaan ini, yakni Foundation for Economic Freedom dari Filipina, Advocata Institute dari Sri Lanka, dan Islam & Liberty Network dari Turki. Pemenang dari penghargaan ini adalah Islam & Liberty Network dari Turki untuk program mereka yang mempromosikan hubungan penting antara Islam dan kebebasan ekonomi dan kebebasan politik.

Sebagai penutup, ALF 2020 ini terbilang sukses dan berhasil membahas topik-topik penting seputar kebebasan ekonomi dan kebebasan politik di tengah pandemik Corona. Semoga, pandemik ini dapat segera berakhir dan ALF 2021 tahun depan dapat diselenggarakan kembali secara langsung seperti tahun-tahun sebelumnya.