Cerita Bedah Buku Islam dan Kebebasan di Kampus UIN Jakarta

549

Islam dan Kebebasan adalah buku kumpulan esai yang diedit oleh Nouh El Harmouzi & Linda Whetstone diterjemahkan oleh Suara Kebebasan. Buku ini bertujuan untuk menyebarkan ide-ide kebebasan dikalangan umat Islam. Banyak orang yang menganggap bahwa agama Islam tidak sejalan dengan kebebasan dan banyak orang yang beranggapan bahwa kebebasan sangat tidak sesuai dengan Islam. Melalui buku ini, asumsi-asumsi seperti diatas terbantahkan.

Islam bukan hanya sejalan dengan kebebasan, pluralisme dan demokrasi, sebaliknya, dalam nilai-nilai Islam terdapat banyak kesamaan dengan nilai-nilai dan cita-cita liberalisme. Buku ini sudah melalangbuana ke berbagai daerah di Indonesia. Kali ini, buku Islam dan Kebebasan kembali hadir untuk dikaji dan dibedah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

UIN Jakarta terkenal sebagai kampus pembaruan, dimana nilai-nilai Islam yang moderat dan liberal tumbuh subur melalui kampus ini. Sebut saja nama-nama yang telah kita kenal seperti Nurcholish Madjid, Harun Nasution, Kautsar Azhari Noer, Zainun Kamal, dan lain sebagainya yang terkenal akan ide-ide tentang pluralisme, demokrasi dan kebebasan.

Buku Islam dan Kebebasan hadir agak “terlambat” di UIN. Walau buku ini sudah terbit dari tahun 2018 dan sudah singgah ke Yogyakarta dan daerah lainnya, namun buku yang isinya “sangat UIN” baru bisa singgah dan dibedah secara akademis di UIN  pada akhir tahun ini (2019).

Acara bedah buku ini diselenggarakan berkat kerjasama dengan pihak UIN Jakarta, yaitu pihak Himpunan Mahasiswa Jurusn (HMJ) Aqidah – Filsafat Islam dan Ilmu Tasawuf. Motivasi awal diadakannya acara bedah buku ini, tentu karena keresahan mahasiswa tentang munculnya teologi radikal yang menyebar di kalangan aktivitas kampus. Buku ini dikaji dan dibedah sebagai upaya untuk melawan teologi radikal tersebut, serta menyebarkan paham toleran dan hanif.

Acara awalnya bedah buku akan diselenggarakan pada tanggal 23 September 2019, tapi karena ada urusan dalam kampus, maka acara dimajukan menjadi hari Jumat tanggal 20 September 2019. Acara bedah buku ini mengundang Saidiman Ahmad dan saya sendiri (Reynaldi Adi Surya) sebagai narasumber. Mantan Presiden HMJ AF UIN, Muhammad Sadad Mahmud menjadi moderator dari acara ini. Acara ini juga diisi oleh qiraah Al-Quran dan hiburan Shalawat Nabi yang membuat acara semakin meriah.

Acara bedah buku ini disambut cukup hangat oleh Mahasiswa UIN Jakarta, terbukti dari banyaknya peserta yang hadir dari berbagai fakultas. Acara ini juga dipuji dan diapresiasi oleh Dekan Ushuluddin, Dr. Yusuf Rahmadn dan Ketua Jurusan Ilmu Tasawuf , Dra. Ala’i Najib.

Dr. Yusuf Rahman memulai sambutannya dengan mengapresiasi mahasiswa dan pihak Suara Kebebasan yang berhasil membuat acara yang aktual dan penting untuk dibahas saat ini. Hal ini menjadi nilai plus bagi mahasiswa untuk lebih mengenal pemikiran Islam dan teori-teori modern yang disajikan dalam buku Islam dan Kebebasan. Dr. Ala’i Najib pun mengatakan bahwa dalam dunia Islam perbedaan pendapat alias pluralitas bisa dimaklumi (sesuai dengan tujuan buku ini).

Acara dibuka oleh Sdr. Mahmud dengan memulai pentingnya buku yang akan dikaji, sebab belakangan kebebasan dalam Islam jarang disuarakan dan justru Islam diidentikkan dengan pemerintahan totaliter sebagaimana yang dilakukan oleh para pemimpin ISIS di Suriah.

Pemateri pertama dimulai oleh saya (Reynaldi), saya memulai suatu masalah, mengapa negara-negara Islam sangat sulit menerima konsepsi tentang liberalisme, pluralisme, demokrasi dan kapitalisme. Jawabannya, karena masyarakat Islam sudah terkonstruk bahwa ide-ide itu timbul dari dunia barat yang dinilai kafir. Orang-orang Islam saat ini berpikir bahwa barat itu kafir dan timur itu beriman. Padahal, dalam dunia yang semua serba terkoneksi dan terintegrasi, batas barat dan timur keliru sama sekali.

Pemilu Afghanistan yang disambut meriah oleh rakyat beberapa tahun lalu, adalah bukti bahwa masyarakat  Afghanistan sangat menginginkan demokrasi. Begitu juga dengan rakyat Timur Tengah yang banyak bermigrasi ke Eropa dan Amerika, mereka menganggap bahwa negara-negara barat yang sekuler, jauh lebih aman dan tentram ketimbang negara Islam yang selalu ribut.

Materi berikutnya kemudian oleh Saidiman Ahmad, seorang cendekiawan Muslim yang dahulu terkenal karena aktivitasnya di Jaringan Islam Liberal (JIL). Salah satu persoalan adalah anggapan bahwa Islam menolak ide-ide seperti liberalisme, kapitalisme, dan demokrasi, padahal ajaran-ajaran seperti demikian terdapat dalam Islam. Islam juga sangat memuliakan kaum perempuan dan mengangkat derajatnya setara dengan kaum laki-laki.

Ajaran Islam terkenal dengan ajaran tauhid, artinya segala yang sakral, kuasa, memerintah mutlak hanyalah Tuhan Allah, sedangkan manusia tidak sakral, dan kekuasaannya terbatas. Karena itulah Islam sangat menentang kekuasaan diktator karena yang mutlak berkuasa adalah Tuhan, bukan raja atau presiden. Islam justru lebih cocok dengan demokrasi, karena Islam mengakui bahwa manusia itu lemah, maka tidak ada sakralisasi manusia dari segi politik.

Acara ini berlangsung cukup lama, selama 4 jam disertai diskusi seru dan juga humor-humor segar yang lontarkan oleh para narasumber. Islam dan Kebebasan adalah buku yang tepat dibaca oleh masyarakat Muslim saat ini. Ketika umat Islam asing dengan konsep-konsep liberalisme, pluralisme, dan demokrasi, buku ini menjabarkan pemikiran tersebut dengan menyocokan pemikiran tersebut dengan dalil-dalil kitab suci, sehingga dapat disimpulkan ide kebebasan itu tidak jauh dari Islam, tapi telah terkonfirmasi oleh agama Islam itu sendiri.

==============================

Reynaldi Adi Surya adalah kontributor tetap Suara Kebebasan dan mahasiswa aqidah Filsafat UIN Jakarta. Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: adisuryareynaldi@gmail.com