Budaya Valentine: Pemicu Seks Bebas dan Kebebasan yang Berbahaya?

    313
    Sumber gambar: https://www.thelocal.com/20180214/then-and-now-valentines-day-in-germany/

    Hari Valentine yang identik dengan hari kasih sayang sudah lewat. Penjualan cokelat yang naik, aneka buket bunga cantik bertuliskan “Ayo beli aku buat pasanganmu!”, hingga reservasi restoran bintang lima daerah Senopati yang kerap kali penuh menjelang Valentine menjadi fenomena-fenomena yang mengisi momen Valentine di Indonesia.

    Sama halnya dengan tradisi perayaan Hari Valentine di Indonesia, budaya Hari Valentine juga masif dirayakan di berbagai negara. Perayaan Hari Valentine di Jerman misalnya, hanya dirayakan oleh orang dewasa. Banyak babi akan ditemukan pada hari itu sebagai simbol keberuntungan dan nafsu. Pasangan yang merayakan akan saling bertukar patung, gambar, bahkan coklat berbentuk babi. Berbeda dengan masyarakat Amerika yang merayakan Hari Valentine dengan memakan coklat, orang–orang Jerman akan mengunyah kue jahe berbentuk hati dengan pesan romantis yang ditulis dalam lapisan gula (rd.com, 03/02/2022).

    Namun, baru-baru ini aksi razia alat kontrasepsi atau kondom di minimarket pada momen Hari Valentine dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di sejumlah daerah. Hal ini menuai kritik dari berbagai kalangan masyarakat. Mayoritas menganggap tindakan ini hanya buang-buang waktu saja. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kota Makassar, Muhammad Iqbal Asnan, turut bersuara mengenai ramainya respon yang diterima.  Iqbal menegaskan bahwa dasar kebijakan pelaksanaan razia tersebut hanya imbauan dengan dalih melakukan edukasi. Tujuannya hanya semata meminimalkan generasi muda yang menyalahartikan makna Hari Valentine ke arah negatif (detik.com, 15/02/2022).

    Tidak hanya itu, sebelumnya memang sudah pernah terjadi kasus serupa terkait polemik perayaan Hari Valentine di Indonesia. Pada tahun 2017 silam, Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik rutin mengirimkan surat edaran ke lembaga-lembaga pendidikan negeri maupun swasta, isinya berupa larangan perayaan Hari Valentine. Larangan tersebut hadir dalam bentuk pemberian sanksi kepada siswa yang melanggar. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa perayaan hari valentine dapat berujung pada praktik pergaulan bebas (bbc.com, 13/02/2019).

    Benarkah demikian? Benarkah asumsi bahwa “Kalau rayain Valentine, nanti kamu terjerat seks bebas?” Beberapa alasan yang disertakan oleh orang-orang yang menyatakan kontra terhadap seks bebas adalah penyakit menular seksual, seperti HIV/AIDS, eksploitasi seksual, kekerasan seksual, atau yang lebih umumnya lagi karena dalih agama. Intinya, seks bebas (tidak, lebih tepatnya ‘seks’) masih dianggap tabu dan amoral oleh beberapa lapisan masyarakat di Indonesia, walau sebagian besarnya lebih bertendensi ke hipokrit. Istilahnya, ogah ogah mau.

    Perayaan Hari Valentine tidak ada hubungannya dengan meningkatnya angka seks bebas. Sampai saat ini, penulis sendiri belum menemukan data terkait jumlah kasus seks bebas di antara remaja yang meningkat menjelang atau sesudah perayaan Hari Valentine. Namun, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Dr. Racmat terhadap kesehatan reproduksi remaja yang dilakukan pada tahun 2007, remaja usia 15-19 tahun, baik putra maupun putri, tidak sedikit yang sudah pernah melakukan hubungan seksual. Data terhadap 10.833 remaja laki-laki berusia 15-19 tahun menunjukkan bahwa sekitar 72% sudah berpacaran, 92% sudah berciuman, 62% sudah pernah meraba-raba pasangan, 10,2% sudah pernah melakukan hubungan seksual (Wati, 2017).

    Para remaja mengartikan dan untuk menjawab semua rasa penasarannya, dengan cara melakukan hubungan seks diluar pernikahan. Hubungan seks diluar pernikahan yang dilakukan dikalangan remaja karena remaja memaknai bahwa hubungan seks itu sebagai pembuktian rasa sayang terhadap pasangannya meskipun bermula atas dasar paksaan, pembuktian terhadap lingkungan kelompok agar dapat diterimanya remaja tersebut dalam kelompok bermain, dan ada yang melalukan karena bisa menambah uang jajan untuk memenuhi kebutuhan remaja tersebut meskipun awalnya remaja tersebut merasa dibohongi (Abdillah, 2014).

    Terkait dengan hal tersebut, pengetahuan remaja mengenai hubungan seksual dapat dikatakan masih kurang, karena remaja hanya mengetahui lewat teman, video, atau film porno. Akses internet yang bebas membuat remaja dengan mudahnya dapat mengeksplor definisi seks melalui pemahaman sempit yang ditampilkan di internet. Hal ini membuat remaja menyimpulkan atau mengartikan sendiri tentang pengertian hubungan seks (Abdillah, 2014).

    Seharusnya peran orang tua dan institusi pendidikan sejak dini lah yang sebenarnya dibutuhkan pada tahap awal mengenai edukasi seks kepada anak. Sejak dini, anak-anak harus diberikan edukasi seksualitas, kenapa tidak boleh atau dilarang melakukan sesuatu, apa yang harus dilakukan dan dijaga, supaya mereka tahu ada bagian penting dari tubuhnya yang tidak boleh dipegang orang lain atau diekspos. Selain itu, mereka juga akan lebih memahami perilaku seksual yang seharusnya dilakukan, memahami kesehatan dan perkembangan reproduksi, hubungan laki-laki dan perempuan serta batasan-batasan yang tidak boleh diabaikan.

    Tidak mudah memang melakukan perubahan itu. Setiap argumentasi akan menimbulkan pro dan kontra, tapi inilah kenyataan yang harus dihadapi. Bukan soal perayaan hari khususnya yang harus dikambinghitamkan, melainkan masyarakatnya sendiri yang perlu memiliki informasi dan pemahaman yang cukup mengenai hari khusus dan peranyannya di berbagai negara, termasuk Hari Valentine. Hal ini penting untuk menghindari pemahaman keliru soal perayaan hari khusus seperti itu, maupun membuang sumber daya dengan percuma karena pemahaman yang salah kaprah mengenai hari kasih sayang. Perubahan ini akan terjadi, hanya soal siapa yang memulainya. Akan terjadi pergeseran nilai moral, dan akan terjadi mass-shock pada beberapa lapisan masyarakat dalam masa transisi. Nilai dan norma akan terus berganti seiring berjalannya waktu, di mana akan ada beberapa stigma dan statement  konservatif  yang tidak lagi relevan.

    Referensi

    Artikel

    https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-47222657 Diakses pada 18 Februari 2022, pukul 17.03 WIB.

    https://news.detik.com/berita/d-5942887/razia-kondom-disorot-kasatpol-pp-makassar-untuk-edukasi-dan-urai-kerumunan Diakses pada 18 Februari 2022, pukul 16.51 WIB.

    https://www.rd.com/list/valentines-day-ideas/ Diakses pada 18 Februari 2022, pukul 16.36 WIB.

    Jurnal

    Abdillah, F. Makna Hubungan Seks bagi Remaja yang Belum Menikah di Kota Surabaya. Jurnal Sosial dan Politik, Universitas Airlangga. Diakses melalui http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-kmntsef61d55539full.pdf. Diakses pada 18 Februari 2022, pukul 18.00 WIB.

    Wati, Y. (2017).  Faktor Perilaku Seks Bebas pada Remaja. Jurnal Photon Vol 8 (1) FMIPA UMRI. Diakses melalui https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&ved=2ahUKEwjI9u3q84j2AhVSmuYKHX9yACAQFnoECBcQAQ&url=https%3A%2F%2Fejurnal.umri.ac.id%2Findex.php%2Fphoton%2Farticle%2Fdownload%2F534%2F421&usg=AOvVaw1TS4KTuUULrcbm7pwpZtdW pada 18 Februari 2022, pukul 17.46 WIB.