Bridgerton dan Hak Perempuan

90

Judul Series: Bridgerton

Sutradara: Chris Van Dusen

Tahun: 2020

Durasi: 60 menit per episode

Studio: Shondaland

 

Bridgerton merupakan serial hasil adaptasi novel The Duke and I karya Julia Quinn yang terbit tahun 2000. Serial ini mengisahkan kehidupan para aristokrat Regency London saat musim perjodohan tiba. Musim pertama serial Bridgerton ini berfokus pada kehidupan dua keluarga, yakni Bridgerton dan Featherington, serta kehadiran Duke of Hastings.

Bridgerton sejatinya seperti perpaduan Pride and Prejudice dan Gossip Girl. Permasalahan seputar pernikahan di keluarga Inggris seperti dalam Pride and Prejudice ditampilkan dengan narasi Lady Whistledown (Julie Andrews), layaknya format serial Gossip Girl.

Sebagai orang yang belum membaca novel The Duke and I, saya amat menikmati serial yang dibuat Chris Van Dusen bersama Shondaland ini, walau memiliki jalan cerita yang cenderung bisa ditebak, terutama di antara kedua pemeran utama, Daphne Bridgerton dan Duke of Hastings. Kisah cinta Daphne Bridgerton dan Duke of Hastings secara garis besar tak jauh berbeda dari yang sudah ditampilkan serial-serial lainnya, diawali pertemuan tidak sengaja dan kesalahpahaman, berlanjut membuat ‘kontrak’, hingga akhir yang mungkin sudah bisa ditebak banyak orang.

Namun, sejatinya Bridgerton tak hanya menyajikan kisah cinta serta chemistry yang baik antara Phoebe Dynevor dan Rege-Jean Page selaku pemeran utama. Walau berlatar belakang kehidupan aristokrat Inggris pada 1813, serial ini benar-benar masih bisa terhubung dengan masyarakat Indonesia saat ini.  Yang menarik adalah, serial tersebut berisikan banyak pesan yang dikemas secara baik, mulai dari permasalahan rasial, keluarga, kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, edukasi seks bagi anak, dan masih banyak lagi. Pesan-pesan yang disinggung di atas juga dirangkum rapih dalam tema ‘eksploitasi kencan dan kebebasan perempuan’.

 

Patrarki dan Pilihan Perempuan

Menilik sejarah, Indonesia pernah memiliki pejuang emansipasi perempuan. Saalah satu tokoh tersebut adalah R. A. Kartini. Sosok yang sudah sangat akrab di telinga kita tersebut bahkan juga diabadikan dalam sebuah lagu berjudul “Ibu Kita Kartini.” Dilatarbelakangi oleh pembatasan perempuan untuk memperoleh pendidikan formal di masa lalu, Kartini mulai melakukan perjuangannya mengkampanyekan kesetaraan gender melalui tulisan-tulisannya.

Meskipun telah digaungkan oleh Kartini dan diikuti gerakan-gerakan perempuan modern, nyatanya hingga detik ini praktik budaya patriarki masih ada dan berkembang di tatanan masyarakat Indonesia. Hal tersebut tampak dari hubungan laki-laki dan perempuan yang masih terlihat timpang, di mana kaum perempuan masih diposisikan sebagai bagian dari laki-laki, dimarginalkan, hingga didiskriminasi. Hal ini menyebabkan terbelenggunya kebebasan perempuan dan mengganggu hak-hak perempuan.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Puspayoga, menyebut tingkat kesetaraan gender di Indonesia masih rendah. Hal ini tecermin dari indeks kesetaraan gender yang dirilis Badan Program Pembangunan PBB (UNDP). Indonesia berada pada peringkat 103 dari 162 negara, atau terendah ketiga se-ASEAN. Adapun mengacu data lain, seperti Indeks Pembangunan Gender (IPG) di Indonesia per 2018 berada di angka 90,99. Kemudian, Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) berada pada angka 72,1 (mediaindonesia.com, 8/10/2020).

Menurutnya, kesetaraan gender berdampak langsung pada target kesetaraan pembangunan. Ketimpangan gender juga semakin terlihat di masa pandemi COVID-19. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, seperti, beban sebagai pendidik, pencari nafkah, hingga ancaman kekerasan rumah tangga.

Rumitnya perwujudan kesetaraan gender, baik di luar negeri maupun di Indonesia sendiri, berkaitan dengan timpangnya partisipasi kontrol, serta kesempatan memperoleh manfaat antara perempuan dan laki-laki. Salah satunya dipicu nilai dan konstruksi sosial di masyarakat.

Di serial Bridgerton ini contohnya, sang sutradara menunjukkan bagaimana masih banyaknya orang yang menilai perempuan tak perlu berpendidikan tinggi karena akan berujung menikah dan menjadi ibu rumah tangga. Hal itu terlihat jelas dari perlakuan Lady Featherington dan Lady Bridgerton yang melarang Penelope serta Eloise membaca buku. Buku dinilai dapat mengacak-acak, bahkan membuat anak mereka bingung.

“Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi perempuan, seperti apa rasanya saat seluruh hidupmu hanya dinilai dari satu momen. Aku dibesarkan untuk ini. Inilah diriku. Aku tidak punya nilai lain. Jika tidak bisa menemukan suami, aku tak berguna.” kata Daphne.

“Daphne jatuh cinta. Apa baginya itu sebuah capaian? Berwajah elok dan berambut bagus bukan capaian. Kamu tahu apa itu capaian? Menuntut ilmu di universitas,” tutur Eloise.

Sejatinya, menjadi ibu rumah tangga atau perempuan karier adalah pilihan pribadi masing-masing perempuan. Tak ada yang salah mengenai hal tersebut. Daphne dan Eloise lahir dari ibu dan bertumbuh dalam keluarga yang sama, tetapi memiliki pilihan berbeda. Tak ada yang salah dari memilih menikah muda atau tidak menjadikan menikah dalam prioritas hidup, apalagi banyak hal yang benar-benar harus dipersiapkan untuk pernikahan. Justru, permasalahan akan muncul ketika pilihan hidup seseorang dipaksakan kepada orang lain.

Dalam serial ini juga diperlihatkan bagaimana perempuan yang tidak dilahirkan dalam status sosial yang bergengsi harus berjuang dan mendapatkan nafkah dengan bekerja keras, tetapi juga dapat menjadi “penghibur” bagi lelaki dari status sosial yang tinggi. Namun, tidak semua perempuan tertarik untuk mengikuti arus pergaulan yang semacam ini dan mulai muncul beberapa awal pemikiran kebebasan bagi perempuan, baik dari segi tatanan sosial yang telah berlaku hingga pemikiran-pemikiran radikal yang disampaikan melalui dialog-dialog kocak oleh dua sahabat Eloise Bridgerton dan Penelope Featherington.

Dari serial ini, saya sadar akan masih banyaknya diskriminasi gender di berbagai aspek kehidupan. Memang, ada perbedaan secara biologis antara perempuan dan laki-laki. Namun, seringkali budaya merekonstruksi perbedaan biologis ini menjadi seperangkat tuntutan sosial tentang keharusan dalam berperilaku. Kendati tuntutan ini bervariasi di setiap masyarakat, tapi terdapat beberapa kemiripan yang mencolok.

Misalnya, hampir semua kelompok masyarakat menyerahkan tanggung jawab perawatan anak pada perempuan, sedangkan tugas untuk berperang diberikan pada laki-laki. Sebagaimana halnya ras, etnik, dan kelas, gender sebagai sebuah kategori sosial yang sangat menentukan jalan hidup seseorang dan partisipasinya dalam masyarakat. Tidak semua masyarakat mengalami diskriminasi berdasarkan ras atau etnis, namun semua masyarakat mengalami diskriminasi berdasarkan gender-dalam bentuk kesenjangan dan perbedaan, dalam tingkatan yang berbeda-beda.

Kesetaraan yang saya maksud di sini adalah memiliki kesamaan hak secara politis, sosial dan finansial. Menurut saya, kesetaraan bukan tentang menjadikan seseorang superior atau inferior, tetapi tentang berbagi kesempatan dan pilihan yang sama atas aspek-aspek yang ada di masyarakat. Kesetaraan tentang kualitas dan karakter individu di mana, laki-laki dan perempuan saling menghargai, hidup berdampingan dengan damai, mengakui kelebihan dan memahami pentingnya keberadaan satu sama lain.

 

Referensi

https://mediaindonesia.com/humaniora/351154/kesetaraan-gender-di-indonesia-masih-rendah Diakses pada 24 Januari 2021, pukul 23.00 WIB.