Bagaimana Menjadi Seorang Libertarian yang Dapat Membumikan Ide-Ide Kebebasan?

631

Kata libertarianisme atau liberalisme di masyarakat kita cenderung memiliki konotasi yang buruk. Kata yang sebenarnya memiliki nilai-nilai dan semangat positif, namun kini menjadi salah satu terminologi yang dianggap negatif bagi banyak pihak. Liberalisme dan libertarianisme dianggap sebagai ideologi yang hanya mengagungkan kebebasan saja, mendukung egoisme, membela kapitalisme, dan merugikan norma dan adat di masyarakat.

Di luar anggapan orang-orang yang mengkritik liberalisme dan kebebasan sebagai biang keladi kerusakan Indonesia, sebenarnya (hal yang harus digarisbawahi) citra negatif ini sebenarnya terjadi karena kekosongan peran dari aktivis kebebasan, yang kurang memberi edukasi dan pemahaman yang benar mengenai kebebasan individual, hak-hak dasar manusia, pasar bebas dan lain sebagainya.

Untuk itu, perlu strategi dan juga cara agar ide-ide libertarian atau kebebasan, minimal bisa dipahami dan dihayati masyarakat. Dalam Friedman Conference yang ke-8, salah satu tema yang dibahas dalam acara ini adalah mengenai “How to be a better Libertarian with Friends and Influence People”, yang diselenggarakan oleh dua lembaga libertarian asal Australia, Australian Libertarian Society (ALS) dan Australian Taxpayer’s Alliance (ATA) pada 11 Juli 2020 lalu.

Lebih dari 300 aktivis, pemimpin pemikiran, perwakilan bisnis, dan influencer politik datang dan berpartisipasi dalam acara ini. Para tokoh terkemuka yang menyuarakan ide-ide kebebasan melakukan orasi atau presentasi mengenai isu-isu yang aktual dan hangat.

Para peserta konferensi tidak dari hanya Australia, tetapi dari berbagai negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Suara Kebebasan turut mengikuti acara ini dan turut menyimak isu-isu hangat yang tengah berkembang di seluruh belahan dunia. Karena saat ini dunia tengah mengalami pandemi COVID-19, maka konferensi diadakan secara daring.

Dalam salah satu tema yang menjadi topik hangat adalah bagaimana cara kita menjadi libertarian yang baik dan dapat mempengaruhi dan menyampaikan ide-ide kita pada semua orang. Menjadi pembicara pada tema ini adalah Ron Nehring, Julie Borowski, Brittany Hunter.

Komunikasi yang baik dan pembawaan yang baik adalah salah satu kunci bagaimana kita bisa diterima dengan baik oleh orang-orang dan masyarakat. Apalagi jika kita bawa kepada konteks masyarakat (khususnya masyarakat Indonesia) status sosial dan juga ketokohan seseorang sangat diperhatikan dan dipertimbangkan. Begitu juga dalam menyampaikan ide-ide dan juga gagasan yang kita bawa.

Khususnya mengenai ide-ide tentang kebebasan yang dibawa oleh kita, mungkin di mayarakat gagasan tentang kebebasan dan juga mengenai pasar bebas begitu sulit dimengerti. Bagaimana individualisme bisa menggantikan gotong royong? Bagaimana bisa pasar bebas bisa menciptakan sebuah ekonomi yang mantap, atau bagaimana kita bisa menjadi masyarakat yang utuh dan sukses tanpa peran pemerintah.

Saya pribadi juga memikirkan hal ini. Tentu Anda tidak bisa hanya sekedar mengatakan “belajar lagi tentang liberalisme klasik/libertarian dan pasar bebas” dan Anda juga tidak mungkin menyampaikannya ala debat kusir di media sosial.

*****

Ron Nehring yang menjadi pemateri pertama memiliki fokus pada sisi politik. Nehring menyinggung tentang gagasan dan kebijakan libertarian di tengah masyarakat Australia mengalami kesulitan. Misalnya, masalah regulasi ekonomi dan isu isu kebebasan, legalisasi ganja, kebebasan berbicara yang lebih luas, pernikahan sesama jenis, yang digagas oleh Partai Demokrasi Liberal (LDP) yang banyak ditentang dan ditolak oleh kelompok konservatif dan agama, baik di Australia atau di negara manapun (termasuk di Indonesia).

Nehring menjelaskan materi dari sisi politik pemerintahan di mana program-program libertarian dapat sukses terealisasi dan diterima masyarakat. Ia menjelaskan tentang komunikasi persuasif. Komunikasi persuasif ini sangat penting untuk mengubah atau memengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang. Dengan demikian, lewat komunikasi persuasif kita dapat menyampaikan ide dan gagasan dengan baik.

Pemateri menjelaskan mengenai apa yang mempengaruhi persepsi kita? Biasanya, orang terpengaruh oleh apa yang mereka lihat, mereka dengar, dan juga apa yang mereka percakapkan. Pemateri menjelasakan bahwa apa yang kita lihat (visual) memengaruhi 55%, apa yang dijabarkan kepada kita dari orang lain (vokal) memengaruhi 38%, dan komunikasi tertulis atau written communication (menulis dan membaca) 7%.

Dari sini, kita tahu bahwa masyarakat lebih banyak terpengaruh oleh apa yang dia lihat dan apa yang ia dengar secara langsung. Dalam hal ini, politisi liberal selaku pemimpin harus melakukan pendekatan yang persuasif dan juga bersahabat. Masyarakat menilai dan melihat pemimpin yang mereka anggap bisa menjadi panutan dan memberi harapan.

Karena itu, pemateri menjelaskan syarat-syarat seorang pemimpin yang menjadi panutan mayarakat, yaitu pemimpin yang mempunyai rencana, visioner, melihat kedepan, fokus pada kebijakan atau program, mewujudkan visi menjadi kenyataan,  kuat, peduli, jujur, dan memperlakukan orang dengan adil.

Lalu, bagaimana partai liberal dan para politisi dapat menarik perhatian masyarakat dan menyampaikan gagasannya agar bisa diterima oleh masyarakat ?

Ron Nehring memberi trik kunci, bahwa setiap orang membuat penilaian secara intuitif.  Para pemilih membuat penilaian berdasarkan landasan moral yang berbeda. Di sini, para politisi libertarian harus mengikat pesan ke dalam fondasi moral dari para pemilih. Bangkitkan ide-ide kebebasan dengan membangkitkan sisi peduli atau keadilan. Misalnya ,sisi peduli kepada para LGBT dan kepada kelompok minoitas yang didiskriminasi.

Kemudian, jangan mengutip teori-teori yang rumit, para politisi (dan juga aktivis kebebasan) harus menyampaikan gagaannya sesederhana mungkin dan sebaik mungkin. Bawalah cerita dan kejadian-kejadian yang realistik dan problem masyarakat. Lalu sisipkan ide-ide kebebasan dengan penyampaian yang ringan, sopan, dan masuk akal.

Selesai Nehring menyampaikan presentasinya, Brittany Hunter yang menjadi pemateri selanjutnya menyampaikan presentasinya yang lebih menekankan cara pikir dan kehidupan sebagai seorang libertarian.

Kita menghadapi dunia yang mengerikan, di mana setiap orang dihadapkan dengan berbagai masalah setiap harinya. Kita seringkali menyalahkan orang lain, seperti ketika tidak mendapatkan pekerjaan, merasa tidak aman dan lain-lain, tak jarang kita menyalahkan negara dan menyalahkan sistem.

Kita sibuk menyalahkan pemerintah yang membangun sistem atau orang yang ada di balik sistem itu atas buruknya nasib kita. Jika kita terus menerus menyalahkan sesuatu yang berada di luar diri kita, hal terebut justru akan sangat menguras waktu dan energi. Seperti melakukan komplain, protes, demonstrasi, menganggap seolah semua masalah yang terjadi dalam hidup kita adalah akibat orang lain.

Menurut Hunter, di sini yang diperlukan adalah berpikir jernih dan mengajak orang untuk membangun dari diri sendiri. Daripada kita terus menyalahkan orang lain, lebih baik kita fokus pada diri kita. Membangun dan mengembangkan diri adalah gagasan utama dari libertarianisme.

Ketimbang mengurusi persoalan ekonomi yang kompleks dan rumit, kita bisa memulai dengan membereskan “kamar kita” terlebih dahulu. Siapa tahu, hal itu akan menjadi inspirasi bagi orang lain.

Kalau tidak bisa mendapat kerja, mungkin kita bisa membangun bisnis dan membuka lapangan kerja. Lebih baik kita sebaik mungkin berupaya mengeluarkan negara dari semua persoalan yang kita hadapi dan mulai mengembangkan diri, dan meningkatkan kemampuan dan kualitas kita agar bisa membuat perubahan. Bagi Brittany Hunter, menjadi libertarian yang baik adalah melihat apa yang baik dalam diri sendiri dan mengaktualkannya dalam kehidupan ketimbang mencela orang lain.

Setelah kita mengamalkan, Julie Borowski yang menjadi pemateri ketiga memberi tips untuk mempengaruhi dan menyebarkan gagasan libertarian kepada orang lain. Menurut Borowski, menyebarkan ide-ide kebebasan saat ini sudah lebih mudah, dan kita bisa dengan mudah melakukannya di media sosial. Banyak orang telah membuat kanal YouTube, blog, podcast dan lain-lain, tetapi masalahnya kurang dimanfaatkan untuk menyebarkan dan membumikan ide-ide kebebasan dan saat ini kita harus memulainya.

Semua orang bisa melakukannya. Selama masih ada internet, dengan segala keterbatasan, kita bisa membuat semua itu melalui podcast, YouTube, blog dan lain-lain. Apalagi, saat ini kita sedang melakukan karantina dan mempunyai lebih banyak waktu. Kita bisa membuat hal-hal semacam ini.

Masalah yang timbul kemudian adalah kebingungan untuk membuat nama channel. Jika kita ragu untuk memberi nama channel libertarian, kita bisa mulai dengan nama kita sendiri dan mengisinya dengan tema dan gagasan libertarian. Untuk mendapatkan ide, kita bisa berjejaring dengan orang lain.

Tujuan dari ini adalah bukan untuk uang, tetapi agar kita bisa menyebarkan gagasan tentang kebebasan, memberi dampak bagi orang lain, membuat orang tertawa dan bertukar pikiran. Di media sosial, kita juga bisa menjalin komunikasi dengan berbagai macam sahabat, bertukar pikiran bahkan membuat komunitas kecil yang konsisten dengan ide kebebasan.

Lalu, bagaimana cara menghadapi haters dan pembenci ide-ide kita dan menyerang kita secara personal?

Borowski pun mengaku bahwa ia juga bingung kenapa banyak haters yang kerap mengunjungi jejaring sosialnya. Awal-awal seseorang memulai aktivismenya melalui YouTube, mungkin kita tidak punya haters karena kita mungkin belum dikenal. Namun, ketika kita sudah mempunyai haters, maka itu saatnya kita berbangga hati karena itu menunjukkan kalau channel dan konten kita benar-benar penting dan diperhitungkan.

Borowski juga mengatakan, menghadapi haters dengan berdebat, terkadang itu tidak perlu, karena mereka tidak akan mengubah pendapatnya. Yang perlu dijaga adalah orang-orang yang mendukung dan berada di pihak kita. Sifat ramah juga sangat penting agar orang-orang menyukai kita dan orang-orang awam lebih tertarik dengan ide kebebasan yang kita bawakan.