Apakah Kita Harus Peduli Pada Kesenjangan?

    53

    Kesenjangan saat ini merupakan salah satu isu yang sangat hangat dibicarakan dan diperbincangkan oleh berbagai pihak. Posisi seseorang dalam spektrum ideologi politik sangat menentukan pandangan orang tersebut mengenai isu kesenjangan.

    Bagi seorang yang memiliki pandangan politik kiri misalnya, kesenjangan dianggap sebagai sesuatu yang imoral dan tidak bisa diterima. Adanya kesenjangan di masyarakat, dianggap sebagai bukti dari adanya struktur sosial yang tidak adil, dan oleh karena itu harus dilawan secara bersama

    Untuk itu, mereka yang memiliki afiliasi ideologi kiri misalnya, umumnya mengadvokasi berbagai kebijakan yang ditujukan untuk mengurangi kesenjangan dan memperkuat kalangan yang dianggap berada di posisi bawah dalam stratifikasi sosial. Kebijakan ini sangat bervariasi dan dalam berbagai bentuk, mulai dari yang cukup moderat, seperti memperluas program-program sosial pemerintah dan meningkatkan pajak bagi kalangan kaya, hingga yang paling ekstrim, seperti mengambil alih perusahaan dan alat-alat produksi untuk diredistribusi atau dikelola oleh negara.

    Sebaliknya, mereka yang memiliki gagasan politik liberal atau libertarian akan cenderung menganggap bahwa kesenjangan merupakan sesuatu yang alamiah dan mustahil dihilangkan. Tidak bisa kita nafikan, di dalam masyarakat memang ada sebagian orang yang dikarunai kemampuan lebih di bidang tertentu, dan memiliki kemauan untuk berinovasi lebih tinggi serta bekerja lebih keras dari sebagian kalangan lainnya.

    Lantas apakah kesenjangan, secara fundamental, merupakan sesuatu yang harus kita pedulikan?

    *****

    Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, izinkan saya membuat ilustrasi sederhana. Misalnya di suatu daerah ada 10 orang yang masing-masing memiliki uang 10 juta rupiah. Maka dengan demikian, jumlah kekayaan kesepuluh orang tersebut adalah setara dan sama sekali tidak ada kesenjangan.

    Lalu, salah satu dari kesepuluh orang tersebut, ada seseorang yang memilik kemampuan musik dan menyanyi yang luar biasa. Sembilan orang dari kawan orang tersebut meminta dirinya untuk menyanyi dan bermain musik di salah satu acara yang diadakan di daerah tersebut.

    Orang tersebut akhirnya setuju untuk menampilkan kemampuannya dan menghibur kawan-kawannya, namun dengan satu syarat. Ia menaruh biaya satu juta rupiah bagi setiap orang yang ingin menyaksikan kemampuannya. Rekan-rekannya tersebut akhirnya setuju, dan mereka akhirnya masing-masing memberikan uang satu juta rupiah untuk menyaksikan penampilan tersebut.

    Akhirnya, kondisi kesenjangan yang terjadi di masyarakat tersebut berubah. Sebelumnya, setiap orang memiliki jumlah kekayaan yang setara, yakni 10 juta rupiah. Namun, setelah 9 orang membayarkan 1 juta rupiah kepada satu orang atas penampilan yang ia bawakan, maka penampil tersebut kini memiliki uang 19 juta rupiah, sementara rekan-rekannya kini hanya memiliki uang 9 juta rupiah.

    Ilustrasi lainnya yang lebih konkret misalnya, di sebuah perusahaan ada 4 orang karyawan. Mereka masing-masing dibayar 25.000 rupiah per jam, dengan total 4 juta rupiah sebulan untuk 20 hari kerja dengan jam kerja 8 jam per hari. Masing-masing dari karyawan tersebut mendapatkan gaji yang setara, namun bila mereka ingin mendapatkan uang lebih maka mereka bisa mengambil jam kerja lebih.

    Dua karyawan akhirnya memutuskan untuk mengambil kerja lebih 2 jam per hari, dengan total 10 jam kerja, karena mereka ingin membeli barang yang mereka inginkan. Sementara, dua karyawan lainnya memutuskan untuk tetap bekerja 8 jam sehari, dan memutuskan menggunakan waktu luang mereka untuk beristirahat dan melakukan hobi yang mereka miliki.

    Akibatnya, keempat karyawan tersebut mendapatkan gaji akhir yang tidak setara. Dua karyawan membawa pulang 4 juta per bulan, sementara dua karyawan lainnya yang bersedia bekerja lebih mendapatkan 5 juta per bulan.

    Kedua ilustrasi di atas merupakan ilustrasi yang membahas mengenai kesenjangan dari hal yang paling fundamental. Bila, secara fundamental, kesenjangan adalah sesuatu yang salah, maka orang yang menjadi penampil musik dan dua karyawan yang bersedia bekerja lebih dari ilustrasi di atas merupakan pihak yang jahat dan tidak bermoral, karena mereka memiliki kekayaan yang lebih banyak daripada orang lainnya. Hal ini tentu jelas sesuatu yang sangat tidak masuk akal.

    Memang, tidak bisa diabaikan bahwa, kesenjangan yang terjadi saat ini, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain, seperti Amerika Serikat, India, atau Eropa, tidak bisa disederhanakan seperti ilustrasi di atas. Ada berbagai faktor yang sangat kompleks yang menimbulkan adanya kesenjangan tersebut.

    Namun, ketika membahas mengenai kesenjangan, fokus kita seharusnya bukan pada kesenjangan itu sendiri, namun pada faktor apa yang menimbulkan kesenjangan tersebut. Apakah kesenjangan yang terjadi berdasarkan karena pertukaran sukarela dan kesediaan sebagian orang untuk bekerja lebih, atau karena adanya kebijakan dan hambatan dari penguasa atau mayoritas terhadap kelompok tertentu, sehingga mereka tidak bisa menggunakan potensi dan kemampuan yang mereka miliki secara maksimal.

    Taruhlah misalnya, selebriti Hollywood kelas atas, seperti penyanyi dan pemain film. Mereka mampu mendapatkan uang jutaan dollar per tahun, dan angka tersebut tentu jauh di atas dari penghasilan rata-rata masyarakat dunia, bahkan masyarakat di negara maju seperti Amerika Serikat.

    Pada tahun 2019 misalnya, aktor Dwayne ‘The Rock” Johnson merupakan salah satu aktor Hollywood dengan penghasilan tertinggi, yakni 89 juta dollar, atau 1,2 triliun rupiah (CNBC.com, 21/2/2020). Angka ini tentu merupakan nilai yang sangat tinggi, dan sangat jauh di atas pendapatan per kapita Amerika Serikat, yang menurut laporan Bank Dunia, pada tahun 2019 “hanya” USD65.000 (World Bank, 2019).

    Namun, sebagaimana ilustrasi yang saya paparkan sebelumnya, Dwayne Johnson tidak mendapatkan uang tersebut dengan merampas atau mencuri harta orang lain. Ia mendapatkan penghasilan yang sangat besar karena pertukaran sukarela, yakni ia merupakan aktor yang memiliki jutaan penggemar, dan berbagai film yang ia mainkan telah ditonton oleh jutaan orang di seluruh dunia. Para penonton tersebut menonton film tersebut secara sukarela, dan Dwayne Johnson tidak pernah memaksa orang lain untuk menyaksikan film yang ia perankan.

    Hal yang sama juga terjadi pada banyak biliuner, seperti Bill Gates misalnya. Pada awal tahun 2021 misalnya, ia memiliki kekayaan sebesar 124 miliar dollar, atau sekitar 1.700 triliun rupiah (Forbes.com, 12/2/2021). Bill Gates pada awalnya mendapat kekayaannya yang luar biasa karena ia mendirikan perusahaan Microsoft, yang berbagai produknya sudah dipakai oleh jutaan, atau mungkin miliaran orang, di seluruh dunia.

    Bill Gates tidak pernah memaksa konsumennya untuk menggunakan produk-produk Microsoft yang ia buat. Para konsumen tersebut, termasuk saya sendiri, menggunakan berbagai produk Microsoft, seperti Microsoft Office, karena produk tersebut telah terbuktu memberi manfaat dan membantu pekerjaan jutaan orang di seluruh dunia, salah satunya adalah bagi saya sendiri untuk menulis artikel ini.

    Sebagaimana Dwayne Johnson, Bill Gates tidak pernah memaksa konsumennya untuk menggunakan produk Microsoft. Tidak pernah ada kasus orang yang dipenjara karena ia menolak untuk menulis di Microsoft Word, atau tidak mau membuat presentasi menggunakan Power Point. Justru, kita semua sangat beruntung ada seseorang seperti Bill Gates yang lahir ke dunia, karena ia telah membuat produk yang membawa manfaat bagi banyak orang, dan kita harus terus mendorong agar ada “Bill Gates-Bill Gates” lain yang muncul di masa depan.

    Kalangan liberal dan libertarian juga tidak mengabaikan bahwa semua bentuk kesenjangan adalah sesuatu yang adil dan bisa diterima. Ada berbagai bentuk kesenjangan yang memang disebabkan oleh berbagai praktik ketidakadilan, salah satunya adalah kebijakan yang diskriminatif, baik dengan dasar ras, gender, atau agama. Namun, solusi dari hal tersebut adalah bukan dengan berupaya untuk menghapuskan seluruh kesenjangan tersebut, tetapi dengan membuka pintu kesempatan yang setara kepada kelompok-kelompok dan pihak yang mengalami diskriminasi tersebut.

    Di banyak tempat dalam berbagai masa misalnya, terjadi berbagai kesenjangan yang diakibatkan kebijakan politik yang diskriminatif terhadap kelompok tertentu. Sistem Apartheid yang diberlakukan di Afrika Selatan, yang diterapkan hingga awal dekade 1990-an misalnya, merupakan salah satu contoh dari kebijakan tersebut.

    Pada masa Apartheid, warga kulit hitam dilarang untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik. Mereka juga harus hidup tersegregasi dari warga kulit putih, yang hidup dengan mendapatkan berbagai fasilitas yang jauh lebih baik, seperti fasilitas pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, dan lain sebagainya. Akibatnya, warga kulit hitam yang secara jumlah merupakan mayoritas di negara tersebut harus hidup dalam kemiskinan selama bergenarasi-generasi karena mereka tidak memiliki kesempatan yang sama dengan warga kulit putih (history.com, 7/9/2020).

    Kebijakan ini tentu merupakan hal yang tidak dapat diterima, dan bertentangan keras dengan liberalisme dan libertarianisme. Solusi atas dari hal tersebut tentu adalah memberikan kesempatan yang setara bagi warga kulit hitam, dan menghapuskan sekat-sekat segregasi yang telah menghambat jutaan penduduk kulit hitam di Afrika Selatan untuk maju dan mendapatkan kesejahteraan.

    Selain itu, hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah, fokus kita untuk mengentaskan kesenjangan juga dapat menjadi hal yang menyesatkan, dan menutup mata kita dari capaian luar biasa serta hal-hal yang justru memiliki dampak yang luar biasa untuk memperbaiki kehidupan seseorang. Berdasarkan laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) misalnya, dalam kurun waktu tahun 1990-2015, kesenjangan global semakin melebar (news.un.org, 21/1/2020).

    Namun, yang tak jarang diabaikan oleh berbagai kalangan anti kesenjangan adalah, pada kurun waktu yang sama, tingkat kemiskinan dunia berkurang secara drastis. Berdasarkan data dari Bank Dunia misalnya, pada tahun 1990, lebih dari 35% penduduk dunia hidup di bawa garis kemiskinan, yakni di bawah USD1,9 per hari. Angka tersebut menurun secara drastis pada 25 tahun setelahnya, di mana penduduk dunia yang hidup dengan di bawa USD1,9 per hari menurun hingga hanya 10% (blogs.worldbank.org, 24/9/2018).

    Berdasarkan data di atas, pernyataan bahwa kesenjangan yang meningkat disebabkan “yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin” adalah pernyataan yang sangat keliru. Mereka yang kaya memang semakin kaya, tetapi bukan berarti yang miskin semakin menderita. Kesenjangan semakin melebar karena mereka yang kaya mengalami peningkatan kekayaan yang jauh lebih cepat daripada mereka yang berada pada kelas menengah atau kelompok miskin, namun mereka yang miskin juga mengalami peningkatan standar hidup yang luar biasa.

    Ilmuwan kognitif tersohor asal Kanada, Steven Pinker, misalnya, mengatakan bahwa fokus kita seharusnya adalah bagaimana mengentaskan kemiskinan, dan bukan mengentaskan kesenjangan. Kemiskinan lah yang telah membawa penderitaan bagi miliaran orang di seluruh dunia, dan bukan kesenjangan (bigthink.com, 13/2/2018).

    Adanya kesenjangan yang tinggi juga tidak selalu berkorelasi dengan rendahnya kesejahteraan. Chile misalnya, merupakan salah satu negara yang memiliki kesenjangan yang paling tinggi. Berdasarkan data dari Bank Dunia, angka Koefisien Gini Chile pada tahun 2014 misalnya, mencapai 45,8 (World Bank, 2014). Sebaliknya, Timor Leste merupakan negara yang angka Koefisien Gini-nya kecil, yakni 28,7 pada tahun 2014 (World Bank, 2014).

    Namun, bukan berarti lantas kondisi ekonomi Timor Leste lebih baik daripada Chile. GDP per kapita Timor Leste, pada tahun 2014 misalnya, hanya USD1.232 (World Bank, 2014). Sementara itu, Chile pada tahun 2014 memiliki pendapatan per kapita sebesar USD14.671 (World Bank, 2014). Timor Leste merupakan salah satu negara paling miskin di kawasan Asia Pasfik, sementara Chile juga merupakan salah satu negara dengan pendapatan tertinggi di Amerika Latin. Pada tahun 2010, Chile menjadi negara pertama di kawasan Amerika Latin yang menjadi anggota organisasi negara-negara dengan penghasilan tinggi, Organisation for Economic Co-operation and Development atau OECD (oecd.org, 11/1/2010).

    Sayangnya, tidak sedikit mereka yang memiliki sikap antipati terhadap segala bentuk kesenjangan, khususnya yang tinggal di wilayah urban dan bisa menikmati segala bentuk fasilitas yang disediakan berkat pembangunan ekonomi, yang kerap memandang remeh fenomena miliaran penduduk dunia yang berhasil terangkat dari garis kemiskinan. Mereka yang selalu memfokuskan dirinya pada kesenjangan, akan selalu bersikap sinis terhadap pembangunan ekonomi, dan akan selalu memandang sebelah mata terhadap berbagai kemajuan yang sudah dicapai umat manusia untuk mengangkat diri mereka dari kemiskinan selama kesenjangan masih ada dan meningkat.

    Padahal, bagi penduduk dunia yang hidup di bawah garis kemiskinan, khususnya yang tinggal di negara-negara yang berpenghasilan rendah, peningkatan pendapatan yang bisa mereka miliki merupakan sesuatu yang sangat berharga dan berarti, sekecil apapun itu. Semakin meningkatnya pendapatan yang bisa mereka dapatkan, berarti semakin besar pula kesempatan mereka untuk mendapat hunian yang lebih baik, untuk membuka usaha kecil, untuk membeli lebih banyak nutrisi bagi keluarga mereka, serta untuk membayar biaya pendidikan bagi buah hati yang mereka cintai, di mana hal tersebut merupakan hal yang dianggap taken for granted oleh kaum kiri kelas menengah yang tinggal di kota-kota besar di seluruh dunia.

    Sebagai penutup, untuk mereka yang tetap bersikeras bahwa kesenjangan secara fundamental dan pada dirinya sendiri adalah sesuatu yang imoral dan harus dihapuskan, pertanyaan saya adalah, bila Anda harus memiliki tinggal di sebuah negara, negara mana yang akan Anda pilih? Apakah di negara yang tingkat kesenjangannya rendah, tetapi seluruh masyarakatnya miskin dan tidak bisa mendapatkan kebutuhan dasar mereka, seperti makanan bernutrisi dan sanitasi yang bersih, atau di negara dengan tingkat kesenjangan yang tinggi, namun masyarakatnya hidup lebih sejahtera dan memiliki penghasilan yang jauh lebih besar?

     

    Referensi

    Laporan Internasional

    Bank Dunia. 2019. Dikutip dari https://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.PCAP.CD?locations=US pada 13 Februari 2021, pukul 23.40 WIB.

    Bank Dunia. 2014. Dikutip dari https://data.worldbank.org/indicator/SI.POV.GINI?end=2014&locations=CL&start=1987 pada 14 Februari 2021, pukul 03.10 WIB.

    Bank Dunia. 2014. Dikutip dari https://data.worldbank.org/indicator/SI.POV.GINI?locations=TL pada 14 Februari 2021, pukul 03.25 WIB.

    Bank Dunia. 2014. https://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.PCAP.CD?locations=CL pada 14 Februari 2021, pukul 03.45 WIB.

    Bank Dunia. 2014. https://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.PCAP.CD?locations=TL pada 9 Februari 2021, pukul 04.05 WIB.

     

    Internet

    https://www.cnbc.com/2020/02/07/the-10-highest-paid-actors-and-actresses-of-2019.html Diakses pada 13 Februari 2021, pukul 23.15 WIB.

    https://www.forbes.com/profile/bill-gates/?sh=501ee0bb689f Diakses pada 14 Februari 2021, pukul 00.05 WIB.

    https://www.history.com/topics/africa/apartheid#:~:text=Under%20apartheid%2C%20nonwhite%20South%20Africans,and%20use%20separate%20public%20facilities.&text=Despite%20strong%20and%20consistent%20opposition,better%20part%20of%2050%20years. Diakses pada 14 Februari 2021, pukul 00.45 WIB.

    https://news.un.org/en/story/2020/01/1055681#:~:text=Inequality%20is%20growing%20for%20more,by%20the%20UN%20on%20Tuesday. Diakses pada 14 Februari 2021, pukul 01.20 WIB.

    https://blogs.worldbank.org/opendata/global-poverty-2015-povcalnet-s-new-estimates-and-improved-documentation#:~:text=With%20continued%20reductions%2C%20the%20global,than%20a%2070%20percent%20reduction. Diakses pada 14 Februari 2021, pukul 01.55 WIB.

    https://bigthink.com/big-think-books/steven-pinker-enlightenment-now-inequality-happiness Diakses pada 14 Februari 2021, pukul 02.35 WIB.

    https://www.oecd.org/newsroom/chilesignsupasfirstoecdmemberinsouthamerica.htm#:~:text=Chile’s%20membership%20will%20become%20official,reform%20and%20sound%20economic%20policies. Diakses pada 9 Februari 2021, pukul 04.30 WIB.