Akar Tunggang Pohon Kebebasan

    776
    Foto: www.the-scientist.com

    Pernahkah kamu melihat sebuah pohon besar? Umumnnya, mereka sudah hidup selama ratusan tahun. Batangnya begitu besar sampai kita tidak bisa memeluknya. Dahannya begitu banyak dan bercabang menaungi area yang cukup luas. Terakhir, pohon yang besar memiliki akar tunggang yang sangat kuat. Tanpa akar yang kuat, tidak mungkin pohon itu berdiri selama ratusan tahun.

    Hal yang sama terjadi pada kebebasan. Sebagai cara hidup, kebebasan adalah pohon yang menaungi semua anggota masyarakat yang memercayainya. Selain itu, pohon kebebasan juga menghasilkan buah. Buah itu dihasilkan dari penyerbukan dan penyimpanan makanan tumbuhan. Makanan itu terbentuk dari proses fotosintesis yang mengolah zat hara. Zat hara itu sendiri diserap oleh akar pohon kebebasan.

    Apa arti perumpamaan ini? Jika kebebasan adalah pohon, maka kemakmuran adalah buahnya. Kemakmuran itu terbentuk dari output kegiatan ekonomi. Setelahnya, kegiatan ekonomi itu terbentuk dari proses eksploitasi, ‘fotosintesis’ yang mengolah sumber daya masyarakat. Sumber daya masyarakat inilah yang diserap oleh sistem ekonomi, ‘akar’ dari pohon kebebasan.

    Dari perumpamaan ini, kita mendapatkan sebuah premis. Kebebasan hanya mampu bertumbuh dan memberikan kemakmuran pada masyarakat, jika ia dilandasi oleh sistem ekonomi yang benar. Lantas, sistem ekonomi seperti apa yang benar bagi kebebasan?

    Untuk menjawabnya, mari kita kenali dulu dua jenis kebebasan (Friedman dalam miltonfriedman.hoover.org, 1978:1). Pertama, kebebasan dari paksaan pihak lain (absence of coercion). Kedua, kebebasan dari kemiskinan (freedom from want). Apa perbedaan keduanya?

    Kebebasan yang pertama adalah kebebasan untuk melaksanakan hak setiap individu tanpa intervensi. Mulai dari hak untuk berbicara sampai hak untuk melakukan kegiatan ekonomi. Sehingga, semua pihak termasuk pemerintah tidak punya hak untuk menghentikan individu. Justru, tugas pemerintah adalah memastikan individu terbebas dari tindak kriminal seperti perampokan dan penipuan (Butler, 2019:18).

    Kebebasan ini berjalan seiring dengan natur manusia yang memiliki kehendak bebas (free will). Ia mengangkat inisiatif individu, pertukaran bebas, sistem hukum yang tegas, pemerintahan yang terbatas, serta amal sebagai kunci kemakmuran masyarakat. Dengan kata lain, kebebasan ini berakar pada sistem ekonomi kapitalisme.

    Sementara, kebebasan yang kedua adalah kebebasan dari ‘kejatuhan standar hidup’. The government guarantee the living standards for each citizen. Garansi ini diberikan melalui berbagai program jaminan sosial yang diberikan pemerintah kepada masyarakat. Mulai dari universal healthcare sampai universal education. Inilah yang disebut sebagai negara kesejahteraan (welfare state).

    Tujuan dari konsep ini memang mulia. Namun, negara kesejahteraan memiliki satu masalah yang mendasar. Negara melawan natur individu yang memiliki kehendak bebas. Mengapa? Negara tidak mampu menjamin standar hidup melalui sumber daya sendiri. Ia pasti melakukan paksaan terhadap individu sebagai makhluk ekonomi untuk mendanainya. In one way or another.

    Amerika Serikat memaksakan pajak penghasilan yang lebih tinggi dan progresif untuk mendanai negara kesejahteraan mereka sejak 1933. Bahkan, Inggris melangkah lebih jauh pada tahun 1945-1951. Mereka menasionalisasi sebagian besar commanding heights perekonomiannya. Sehingga, sistem ekonomi etatisme menjadi akar untuk mendanai negara kesejahteraan.

    Lalu, kebebasan mana yang lebih baik? Merujuk pada premis di awal, kebebasan dari paksaan yang berdasarkan kapitalisme jelas lebih sesuai. Jika dibandingkan sebagai pohon, kebebasan yang pertama adalah pohon besar berakar tunggang. Pohon ini tumbuh alami sejak abad ke 18. Sementara, kebebasan yang kedua adalah pohon kecil berakar serabut. Ia dipaksa oleh pemerintah untuk tumbuh besar.

    Merit kebebasan ini semakin kuat ketika penulis membaca terjemahan An Introduction to Capitalism. Karya brilian dari Eamonn Butler ini sangat membantu pembacanya to put capitalism into perspective. Akhirnya, setelah membaca karya ini, penulis menemukan tiga keunggulan utama kapitalisme sebagai dasar kebebasan.

    Pertama, kapitalisme mendorong produktivitas sumber daya dalam masyarakat tanpa paksaan. Butler (2019:17) sendiri mendefinisikan kapitalisme sebagai cara berkegiatan ekonomi yang digunakan manusia untuk menciptakan/mengaplikasikan barang modal demi memproduksi barang dan jasa yang diinginkan orang lain seproduktif mungkin. Produktivitas ini muncul dari self-interest masing-masing unit ekonomi untuk memperoleh keuntungan yang optimal dalam mekanisme pasar, bukan paksaan pemerintah.

    Dorongan mekanisme pasar inilah yang menciptakan keunggulan kedua kapitalisme. Sistem ekonomi ini mendorong semua unit ekonomi untuk saling bekerjasama. Kerjasama ini terbentuk dari adanya pertukaran sukarela antar pelaku ekonomi untuk menguntungkan dirinya sendiri (Butler, 2019:18). Ketika ada ribuan pelaku ekonomi melakukannya, terciptalah sebuah jaringan kerjasama yang kompleks.

    Bahkan, penulis berani berkata bahwa sosial-isme justru diciptakan oleh mekanisme pasar. Sebab mekanisme inilah yang membentuk sebuah jaringan kerjasama yang kompleks dalam masyarakat bebas.

    Ketika jaringan kerjasama ini terbentuk, muncul keunggulan ketiga dari sistem ini. Kapitalisme jauh lebih efisien dalam meredistribusi kekayaan masyarakat. Efisiensi ini muncul karena ada ‘lampu lalu lintas’ yang jelas bagi setiap pelaku ekonomi. Namanya adalah harga pasar. Sinyal yang diberikan harga pasar membuat produsen siaga menangkap keinginan konsumen (Butler, 2019:18).

    Selain itu, kepemilikan modal dalam kapitalisme juga berjejaring (Butler, 2019:57). Kepemilikan yang berjejaring ini menciptakan mass ownership masyarakat terhadap faktor produksi. Sehingga, keuntungan yang diciptakan oleh proses produksi bisa dinikmati oleh setiap individu dalam masyarakat. Inilah yang menciptakan sebuah capital-owning democracy.

    Akhirnya, kerangka capital-owning democracy inilah yang membentuk sebuah masyarakat berlandaskan kebebasan.

    SUMBER:

    Butler, Eamonn. 2019. Kapitalisme: Modal, Kepemilikan, dan Pasar yang Menciptakan Kesejahteraan Dunia. https://drive.google.com/file/d/19eaZxtK_cR8ZwfJegoqJF3YNdcGN-vTg/view.

    https://miltonfriedman.hoover.org/friedman_images/Collections/2016c21/1978TheRoleofGovernment.pdf.

    Rionanda Dhamma Putra adalah seorang pembelajar yang ingin tahu banyak hal, dan sekarang adalah seorang pelajar di SMA Dian Harapan Lippo Cikarang.