Akar Pemikiran Libertarianisme Modern

72

Libertarianisme merupakan gagasan yang berprinsip pada kemerdekaan setiap individu untuk menentukan jalan hidup mereka masing-masing. Oleh karena itu, wewenang yang dimiliki oleh pemerintah haruslah seminim mungkin, yakni untuk melindungi kemerdekaan setiap individu yang sangat fundamental.

Libertarianisme menolak berbagai bentuk agresi atau pemakasaan terhadap orang lain, baik yang dilakukan oleh aktor negara atau aktor swasta. Segala tindakan perampasan dan agresi terhadap diri seseorang atau properti yang dimilikinya wajib ditindak tegas oleh negara.

Namun, ternyata gagasan ini bukanlah sesuatu yang baru. Akar pemikiran gagasan libertarianisme merupakan sesuatu yang bisa kita tarik ke belakang, jauh sebelum adanya berbagai teknologi yang mempermudah kehidupan kita saat ini.

Topik inilah yang menjadi bahasan dari Brian Doherty dalam artikelnya yang berjudul “The Roots of Modern Libertarianism”, yang dipublikasikan oleh Cato Institute. Doherty sendiri adalah salah satu editor dari majalah Reason dan penulis yang sudah menulis beberapa buku yang membahas mengenai sejarah politik dan kebijakan publik.

Doherty dalam artikelnya menulis mengenai sejarah pembentukan gagasan libertarianisme bisa dilihat hingga ribuan tahun yang lalu. Di masa lalu, para penguasa seperti raja dan kaisar memiliki kekuasaan yang sangat besar dan tidak terbatas. Mereka bisa melakukan hal apapun terhadap rakyat mereka, dan seluruh perkataan yang diucapkan oleh penguasa adalah hukum yang harus ditaati.

Namun, hal tersebut berubah sejak munculnya agama samawi. Agama Yahudi, yang merupakan agama samawi pertama yang muncul, mengajarkan bahwa kekuasaan Tuhan adalah kekuasaan yang tertinggi, dan bahkan seorang raja atau kasiar yang sangat berkuasa sekalipun juga menjadi subyek dari kuasa Sang Pencipta.

Para pemuka agama yang menginterpretasikan firman-firman Tuhan juga merupakan kelompok yang terpisah dari raja atau kaisar. Oleh karena itu, seorang raja tidak bisa menginterpretasikan atau mengartikan ayat-ayat suci sesuai dengan keinginannya untuk mendapatkan keuntungannya bagi dirinya sendiri.

Berbagai drama tragedi Yunani Kuno juga banyak membahas seputar tema mengenai tokoh-tokoh yang menentang para penguasa hingga para dewa demi nilai-nilai luhur, seperti kebebasan dan keadilan. Dalam karya tragedi Prometheus Bound oleh Aeschylus misalnya, menggambarkan tokoh dewa Prometheus yang menentang perintah dewa Zeus atas nama keadilan yang lebih tinggi daripada Zeus.

Prometheus mencuri api dan memberikannya kepada manusia untuk membangun peradaban dan mendapatkan pengetahuan, melawan perintah dewa Zeus. Melalui ajaran-ajaran agama samawi dan kisah-kisah tragedi Yunani Kuno seperti kisah Prometheus, kita diajarkan bahwa tidak ada seorang manusia pun yang berhak atas kekuasaan yang tidak terbatas. Setiap kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa, seperti raja atau kaisar, selalu dibatasi oleh berbagai hal, seperti kekuasaan Tuhan atau nilai-nilai luhur yang lebih tinggi, seperti kebebasan dan keadilan.

Tema pembatasan kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa merupakan tema yang kerap muncul dari masa ke masa dan selalu dibahas dalam berbagai periode dalam sejarah pemikiran politik dan peradaban Barat. Di Britania Raya misalnya, kita mengenal dokumen bersejarah seperti Magna Charta pada tahun 1215 yang membatasi kekuasaan yang dimiliki raja, yang menginspirasi berbagai dokumen konstitusi yang menjamin kebebasan dan hak-hak dasar warga negara, salah satunya adalah Konstitusi Amerika Serikat.

Doherty melanjutkan dalam artikelnya, bahwa perkembangan gagasan libertarianisme tidak bisa dipisahkan dari sejarah perkembangan Amerika Serikat. Revolusi kemerdekaan Amerika Serikat merupakan perlawanan menentang kesewenang-wenangan raja Britania Raya yang berkuasa terhadap penduduk koloni Amerika Serikat di abad ke 18.

Penulis John Trenchard dan Thomas Gordon, yang menulis kumpulan esai yang dikenal dengan nama Cato’s Letters pada tahun 1720 -1723, dalam pamfletnya menulis mengenai hak alamiah setiap manusia yang tidak boleh diambil paksa dan dilangar oleh pemerintah, dan tugas pemerintah adalah melindungi diri individu setiap warganya dan properti yang mereka miliki. Kumpulan esai ini kelak akan menginspirasi berbagai tokoh-tokoh revolusi Amerika pada tahun 1776 ketika mereka memutuskan untuk merdeka dari kekuasaan Britania Raya.

Amerika Serikat juga bukan hanya negara yang didirikan di atas nilai-nilai kebebasan politik, seperti kebebasan beragama dan berbicara, namun juga kebebasan ekonomi. Tidak seperti saudara-saudara mereka di Eropa, warga Amerika Serikat memiliki kebebasan untuk melakukan kegiatan ekonomi dan kegiatan produksi, yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat dan menarik jutaan imigran dari seluruh dunia untuk berlomba-lomba datang ke negara Paman Sam tersebut.

Berbagai negara Eropa pada masa itu, masih dikungkung oleh berbagai kebijakan ekonomi proteksionis dan peran pemerintah yang sangat besar untuk melakukan kegiatan ekonomi. Keberhasilan kebebasan ekonomi di Amerika Serikat yang mendorong pertumbuhan dan meningkatkan kesejahteraan memberi inspirasi bagi banyak pemikir dan ekonom di Eropa bahwa kebebasan ekonomi adalah sesuatu yang sangat penting.

Salah satu tokoh pemikir dan ekonom Eropa di abad ke-19 yang memiliki pemikiran “radikal” pada masa itu terkait dengan kebijakan ekonomi adalah ekonom asal Prancis, Frederic Bastiat. Bastiat menulis bahwa tugas pemerintah adalah melindungi kebebasan dan hak properti yang dimiliki oleh warganya. Bila pemerintah melakukan pengambilan paksa terhadap properti seseorang untuk diberikan kepada orang lain, atau memberlakukan kebijakan yang membatasi kebebasan ekonomi seseorang untuk menguntungkan pihak lain dalam berbagai bentuk, seperti tarif, proteksi, dan lain-lain, maka hal tersebut adalah tidak ada bedanya dari perampasan.

Di Britania Raya, penulis dan politisi Richard Cobden dan John Bright di abad ke-19 juga mengkampanyekan kebijakan pasar bebas dan anti-proteksionisme yang diberlakukan di negara mereka. Mereka menentang kebijakan tarif dan restriksi impor makanan yang meningkatkan harga pangan dan hanya menguntungkan segelintir pemilik lahan dan produsen makanan semata.

Di akhir artikelnya, Doherty menulis bahwa ide-ide yang dibawa dan implikasi dari berbagai kebijakan dari berbagai tokoh-tokoh besar tersebut memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk tradisi pemikiran libertarianisme modern. Abad ke-20 sudah menjadi saksi bahwa, negara yang mengikuti gagasan yang dibawa dari ide-ide tersebut, seperti wewenang pemerintah yang terbatas, pasar bebas dan kebebasan ekonomi, serta kebebasan individu untuk beragama dan mengemukakan pendapat telah berhasil meraih kesejahteraan dan terhindar dari jurang totalitarianisme

Sebaliknya, negara-negara yang mengadopsi kebijakan yang berlawanan dari ide-ide tersebut, seperti di negara-negara komunis, justru menemui hasil yang berbeda. Negara-negara tersebut tidak hanya menjadi negara totalitarian yang berakhir pada  pemerintahan tirani, namun juga harus berakhir pada kemelaratan dan kemiskinan.

 

Artikel ini diambil dari tulisan Brian Doherty yang berjudul “The Roots of Modern Libertarianism. Link artikel: https://www.cato.org/policy-report/marchapril-2007/roots-modern-libertarian-ideas Diakses pada 10 Oktober 2020, pukul 03.10 WIB.