Agorisme, Illegalisme, dan Counter-Economics

    99

    Kemunculan Bonnot Gang pada masa Perang Dunia 1 diiringi perdebatan sengit di antara faksi-faksi anarkis yang bahkan terus berlangsung hingga saat ini: golongan kontra versus golongan pro-kekerasan. Bagi faksi yang terakhir, aksi perampokan hingga pembunuhan yang menyasar otoritas negara (tentara polisi) dan kapitalis dipandang tepat.

    Bonnot Gang, kelompok bandit tersohor Perancis awal abad ke-20, adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas banyaknya adegan film laga yang memperlihatkan segerombolan perampok kabur dengan menggunakan mobil sambil menembaki sekeliling mereka. Bandit “ideologis” yang merampok para kaum kapitalis ini mempelopori gaya merampok dan kabur dengan mobil curian.

    Selain itu, aksi kriminal anarkis pada era Belle Epooque ini identik dengan kemakmuran, perdamaian, perkembangan saintek, optimisme, dan hal-hal baik lainnya. Strategi mereka dikenal mampu bersembunyi dari kejaran polisi berkat simpati dan solidaritas kolektif anarkis lain. Mereka meneror Paris dan selalu menjadi berita utama saat itu.

    Menurut Richard Parry dalam The Bonnot Gang (1987), Salah satu pendiri dari gang tersebut, Jules Bonnot, sudah tertarik ide-ide anarkisme. Semula ia mengira anarkisme sekadar ekspresi jiwa muda yang dalam masa membaranya, tetapi kemudian gagasan tersebut justru menjadi pegangan hidupnya. Setelah ikut wajib militer dan menjadi punggung keluarga, ia tidak mendapat apa-apa dan akhirnya muak dengan keadaan. Ide dan teori di satu sisi, pengalaman pahit di sisi lainnya, menimbulkan proses dialektis yang menghasilkan ilegalisme.

    Dalam Ilegalisme seperti ini, perampokan dan pencurian dipandang sebagai cara perampasan kembali (secara individu dan massal) atas properti kapitalis, di mana pemalsuan dan penyelundupan digunakan sebagai alat untuk bertahan hidup, dan bahkan yang paling kontroversial, pemboman dan pembunuhan politik dikatakan sebagai “propaganda of the deed”. Para penjahat dirayakan karena pengabaian umum mereka atas otoritas negara dan penggunaan kejahatan mereka sebagai taktik bertahan hidup.

    Counter-economics semacam ini merupakan pucuk dari beberapa ide yang melatarbelakanginya seperti Egoisme, Agorisme, Anarkisme, dan reklamasi individual. Untuk penjelasannya, kurang lebih serupa tindakan yang dilakukan oleh tokoh Robin Hood.

    Meski pergerakan counter-economics seperti yang disebutkan di atas erat diasosiasikan dengan sayap kiri, Agorisme sebagai salah satu ide yang didasari oleh ide tersebut juga banyak terinspirasi dari mazhab Ekonomi Austria yang kerap diafiliasikan dengan politik sayap kanan. Selain banyak kemiripan antara Agorisme dan Anarko-kapitalisme dari Murray Rothbard, pencetus Agorisme sendiri, Samuel Edward Konkin III, pernah mengatakan bahwa Agorisme lebih Rothbardian daripada Rothbard sendiri. Kedua ide memeluk prinsip voluntarisme dan mengabaikan konsep kekayaan intelektual (Libertarianism.org, 27/11/2018).

    Agorisme, secara sederhana, adalah pertukaran barang dan jasa secara gratis oleh individu, pelaku pasar bebas. Yang paling mendasar dari gagasan ini adalah praktik yang terlibat dalam aktivitas pasar bebas di luar kendali atau regulasi suatu negara. Salah satu aspek penting dari agorisme sendiri adalah kesukarelaan.

    Agoris menginginkan hal yang sama seperti yang diinginkan oleh banyak orang, seperti pendidikan yang lebih baik, layanan kesehatan yang lebih baik, peluang yang lebih baik, dan lebih banyak perdamaian. Apa yang dicari adalah tatanan logis dan interaksi sukarela, yang diatur bukan oleh para politisi dan birokrat yang tidak kompeten dalam mengatur ekonomi. Dengan kata lain, setiap individu diakui memiliki kehidupan dan tubuhnya sendiri, dan dengan ekstensi, properti diperoleh secara sah atau diciptakan oleh tubuh dan pikiran itu.

    Agorisme menekankan pentingnya membangun counter-economics, lembaga-lembaga ekonomi, dan perusahaan-perusahaan yang ada di luar batasan hukum dari intervensi dan paksaan negara. Agoris menganggap counter-economics ini sebagai bentuk aksi langsung tanpa kekerasan, damai, dan dengan metode yang menantang dan menghindari kekuasaan negara, dalam membangun masyarakat bebas berdasarkan prinsip pertukaran sukarela yang tidak dibatasi negara. (forexindonesia.org/01/09/2019)

    Gerakan counter-economics menekankan bahwa dengan peraturan, regulasi, dan lisensi telah mencekik perekonomian. Tujuan agorisme adalah agora, yakni masyarakat pasar terbuka yang tidak ternodai oleh pencurian, penyerangan, dan penipuan. Keadaan masyarakat bebas ini adalah satu-satunya di mana kita dapat memuaskan nilai-nilai subjektif tanpa menghancurkan nilai-nilai orang lain dengan kekerasan dan paksaan. (media.neliti.com)

    Agorisme mengadvokasikan pembangkangan sipil (civil disobedience) terhadap negara. Dengan adanya pasar gelap dan pasar abu, ilegalisme, membuat bisnis tanpa izin legal, penghindaran pajak, dan hal-hal lain, hal ini akan membuat negara kehilangan kekuatan ekonominya.

    Kembali ke awal mengenai bagaimana konsep pengembangan agorisme ini terbentuk, kita kenal dengan istilah shoplifting, kampanye mengutil yang berbasis ideologi dan juga ilegalisme Prancis. Prinsipnya erat dengan normalisasi mencuri dari perusahaan besar yang mempromosikan gerakan sebagai bentuk ketidakpatuhan, aksi menentang perusahaan multinasional. Apa yang kemudian membuatnya relevan dengan agorisme?

    Dalam bukunya yang berjudul Social Movement and Globalization, Cristina Flesher Fominaya menulis kutipan seorang aktivis pelaku shoplifting tentang perasaan menakjubkan saat melakukan pengutilan karena harga menjadi tak relevan dan kita menolak mentalitas pembeli yang selama ini dipupuk dalam diri kita. Bahkan, mereka mengadakan workshop untuk swakarya tas dan pakaian yang cocok untuk mengutil, hingga penggunaan box untuk memblokir sinyal saat melewati alarm keamanan di toko, dan tips-tips mencuri lainnya.

    Yang kita garisbawahi pada contoh shoplifting di atas bukan bagaimana cara mencuri barang dari perusahaan dan kiat-kiat licik lainnya, melainkan bagaimana kita menanamkan mental konsumen dan produsen yang tidak melulu bergantung pada kontrol harga pemerintah. Masalahnya, banyak sekali biaya yang tidak bisa dihitung dihasilkan dari regulasi ekonomi. Kompetisi yang berkurang, kemudahan melakukan bisnis, pengurangan lapangan kerja sebagai hasil dari distorsi pasar, pengaruh regulasi terhadap insentif, dan masih banyak lainnya.

    Regulasi ekonomi pemerintah juga bertindak sebagai pajak terselubung dengan menaikkan harga untuk konsumen, menciptakan hambatan industri tertentu, memberikan kuota untuk suatu komoditas, memasang tarif, membuat perlindungan untuk perusahaan tertentu dan mempraktekkan KKN, melanggar hak properti, di mana manfaat hanya akan dirasakan pembuat regulasi dengan perusahaan tertentu yang diproteksi.

     

    Referensi

    Parry, Richard. 1987. The Bonnot Gang. London: Rebel Press.

    https://www.libertarianism.org/columns/black-market-activism-agorism-samuel-edward-konkin-iii Diakses pada 19 September 2020, pukul 21.00 WIB.

    https://forexindonesia.org/beritaforex/agorisme-dan-bitcoin-orang-bebas-tidak-meminta-izin-maxine-waters.html Diakses pada 22 September 2020, pukul 09.00 WIB.

    https://media.neliti.com/media/publications/154759-ID-konstelasi-paradigma-objektif-dan-subjek.pdf Diakses pada 22 September 2020, pukul 09.00 WIB.

    Fominaya, Cristina Flesher. 2014. Social Movements and Globalization: How Protects, Occupations, and Uprisings are Changing in the World. London: Macmillan International Higher Education.