Agama Sebagai Sumber Konflik dan Perang? (Sebuah Refleksi)

    2051

    Di awal tahun 2020, tentu kita berharap bahwa tahun ini akan lebih baik dari tahun kemarin. Kita berharap bangsa kita semakin dewasa dan mengambil pelajaran dari tahu politik yang telah berlalu. Naiknya Jokowi di periode keduanya, dan kalahnya kelompok fundamentalis yang selalu menghembuskan isu SARA, menimbulkan rasa optimis. Berharap bahwa, mudah-mudahan pemerintah bisa bersikap tegas terhadap mereka yang menghembuskan kebencian antar agama yang membuat kita terpecah belah.

    Namun, sepertinya saya terlalu cepat berharap. Beberapa waktu lalu, justru sebuah balai pertemuan Muslim di Gorontalo dirusak oleh warga yang tidak setuju dengan pengalihan fungsi balai tersebut menjadi rumah ibadah. Di Jawa Timur, sebuah sekolah agama Hindu turut menjadi aksi vandalisme sekelompok orang.

    Pengerusakan rumah ibadah dan sentimen agama ternyata masih cukup kuat di masyarakat kita. Perbedaan kepercayaan dan juga objek yang disembah menjadi motif utama dari kekerasan dan konflik yung terjadi di luar sana. Alih-alih membuat damai, di Indonesia agama justru seolah menjadi salah satu faktor yang memecah belah kesatuan.

    Sebuah pertanyaan besar, yang sering diajukan kepada penulis dalam tiap diskusi adalah: apakah agama menjadi faktor perpecahan bagi manusia saat ini?

     

    Agama dan Konflik

    Dalam sebuah wawancara, Richard Dawkins, ilmuwan biologi yang populer di Indonesia belakangan  ini berkata: “If you really, really believe that your god wants you to be a martyr and to blow people up, then you will do it. And you will think you’re doing it for righteous reasons. You will think you are a good person.”

    Dalam wawancara dialog dengan Scott Simon tersebut, Dawkins dengan pede-nya yakin bahwa ajaran agama tentang martir atau syahid demi menyenangkan Tuhan adalah salah satu faktor kenapa seorang pemeluk agama menjadi radikal.

    Bagi Dawkins atau beberapa orang, agama mungkin dianggap sebagai sumber konflik dan pepecahan. Agama merubah umat manusia menjadi kotak-kotak yang berbeda sehingga mereka saling memperebutkan klaim kebenaran.

    John Hick seorang tokoh yang terkenal ewat karya Philosophy of Religion (1970) mengakui bahwa tiap agama cenderung memperlakukan ajaran agama mereka sebagai kebenaran absolut. Pemahaman yang cenderung tertutup dan eksklusif ini yang dianggap oleh Mark Juergensmeyer dan Martin Marty berpendapat bahwa pada dasarnya agama itu hadir sebagai faktor pemecah belah.

    Fenomena kekerasan dan pertikaian antar agama di dalam lembar sejarah dunia, membuat para intelektual menafsir bahwa kekerasan yang tejadi di Libya, Yaman, Iraq, Syria, Palestina, adalah karena pengaruh dari sebuah doktrin agama yang eksklusif dan ekspansif.

    Penyair legendaris Jerman abad ke 16, Johann Wolfgang von Goethe, dalam masterpiece-nya, FAUST berkisah bahwa zaman dahulu suatu bangsa berperang merebut wilayah bangsa lain. Maka, dewa-dewa dari bangsa yang kalah akan dijadikan setan, sedangkan dewa dari bangsa yang menang, harus disembah sebagaimana maha dewa yang sebenarnya. Dalam karya tersebut, kita bisa membayangkan bahwa peperangan suatu kelompok bukan hanya karena faktor agama tapi juga diselingi oleh kepentingan politik.

    Contoh sederhananya, ketika kaum Yahudi berkuasa di Yerusalem, mereka menindas dan meneror kaum Kristiani. Ketika kaum Kristiani menjadi agama resmi di Romawi dan Alexandria, mereka menindas kaum Neo-Platonisme dan mendiskriminasi kaum Yahudi. Begitu juga ketika Islam berkuasa, kaum ”kafir” dijamin nyawa mereka jika memberi uang darah (jizyah). Secara sederhana, politik dan agama telah ikut bermain dalam konflik besar yang menyebabkan nyawa manusia tak bersalah melayang sia-sia.

    Walaupun agama mengajarkan kasih, namun konflik yang terjadi ditengah-tengah masyarakat, maraknya aksi teror dan juga pertikaian hanya karena berbeda pandangan teologis. sangat sulit  untuk tidak mengaitkannya dengan agama, sehingga orang berpikir secara sederhana bahwa agama menyebabkan pertikaian.

    *****

    Namun anggapan bahwa agama adalah sumber konflik dalam sejarah dibantah oleh Karen Armstrong. Karen yang fokus meneliti sejarah agama-agama justru melihat bahwa anggapan bahwa konflik sosial dimasa lalu dan di masa kini diakibatkan oleh agama hanyalah “mitos belaka.”

    Karen Armstrong juga menulis sebuah essay di TheGuardian,  yang  berjudul  ”The Myth of Religious Violence” atau Mitos Kekerasan atas nama Agama. Karen berkata,

    Before the modern period, religion was not a separate activity, hermetically sealed off from all others; rather, it permeated all human undertakings, including economics, state-building, politics and warfare. Before 1700, it would have been impossible for people to say where, for example, “politics” ended and “religion” began…..  These wars were neither “all about religion” nor “all about politics”. Nor was it a question of the state simply “using” religion for political ends. There was as yet no coherent way to divide religious causes from social causes.”

    Karen Menjelaskan bahwa anggapan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu agama selalu menjadi sumber konflik sangat tidak tepat. Di Zaman dahulu, agama menyatu dengan unsur politik, ekonomi, sosial dan lain sebagainya. kita tidak bisa mengatakan bahwa era 1700 tahun yang lalu atau sebelumnya adalah era agama, sehingga mengeneralisir bahwa setiap kekerasan dan konflik pada masa itu adalah semata-mata konflik agama.

    Dalam suatu konflik, katakanlah, Perang Salib atau Reconquesta di Spanyol. Semua unsur, baik agama, politik, dan persaingan ekonomi turut bermain. Institusi kepausan saat itu ingin meluaskan kekuasaaannya kebagian Timur yang dahulu dikuasai oleh Romawi Timur (Byzantium) sehingga perang antara Kristen dan Islam (Seljuq) tak dapat dihindari.

    Begitu juga reconquesta, konflik politik yang terjadi antara amir-amir Islam dan persaingan politik antar sekte (madzhab) dan juga agama secara kompleks akhirnya melebar menjadi konflik antar agama yang kemudian membawa tendensi ras Eropa versus ras Arab.

    Kesimpulannya,  dalam seuah konflik yang tercatat dalam sejarah, tidak bisa secara sederhana kita menganggap itu sebagai “perang agama” atau “perang politik”. Konflik sosial yang terjadi secara dahsyat di masyarakat tidak bisa disimplifikasi sedemikian rupa, banyak faktor yang menyebabkannya.

    Wiliam Cavanaugh bahkan membalik anggapan Dawkins dan Martin Marty, dengan berkata bahwa peradaban sekuler dan nasionalisme sempit-lah yang “me-framing” bahwa agama sebagai biang kekacauan. Sekularisme dan nasionalisme menutup mata bahwa keduanya juga mengakibatkan perang besar pada Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia kedua.

    William Cavanaugh menulis dalam The Root of Evils yang dimuat dalam American Magazine, “Kami tak henti-hentinya terpesona oleh kekerasan yang diduga tertanam dalam Islam Syiah Iran; kami lebih suka untuk tidak memikirkan pemerintahan Shah selama sekian 26 tahun yang didukung teror sekuler. Kita ingat bahwa para ayatullah memberlakukan aturan berpakaian Islami ketika Shah digulingkan pada 1979; kita lupa bahwa shah pertama memberlakukan kode berpakaian sekuler pada tahun 1924.”

    *****

    Apakah agama sebagai sumber konflik yang diterangkan oleh Richard Dawkins dan Martin Marty? Atau, Nasionalisme-Sekuler sebagai sumber konflik sebagaimana pandangan Karen Armstrong dan William Cavanaugh? Hal tersebut masih menjadi perdebatan intelektual yang menarik yang dapat kita ambil sebagai bahan renungan (refleksi).

    Namun, dapat diakui bahwa dalam suatu konflik di masyarakat (kususnya di Indonesia) tidak simpel jika kita menganggap agama atau faktor lain sebagai dalang utama. Agama tidak “memborong seluruh saham.” Kebencian etnis, nasionalisme fanatik, bahkan juga persaingan ekonomi dan politik termasuk salah satu faktor.

    Di Tanjung Balai, baik Indonesia atau Malaysia, kebencian terhadap warga etnis Tionghoa yang lebih berhasil daripada etnis Melayu secara faktual turut menjadi konflik sosial. Kecemburuan dan kebencian itu kemudian menyeret nama Tuhan agar tampak “lebih suci”.

    Namun pandangan heroik agama tak dapat dibantah juga menjadi dasar bagi kekerasan itu sendiri. Tak dapat dibantah pula bahwa para kombatan ISIS yang berada di Syria juga merupakan orang-orang Prancis, Jerman dan negara Eropa lainnya. Motif keagamaan menjadi suatu dasar bagi mereka untuk meninggalkan hidup nyaman di rumah dan berangkat ke medan jihad untuk berperang dan menyembelih para kafir dan bidat.

    Namun, diantara perbedaan pandangan intelektual tersebut, mereka semua bersepakat pada pemisahan secara administrasi agama dengan negara. William Cavanaugh sendiri masih menginginkan institusi negara dan agama dipisah, namun bukan berarti unsur agama dan kesalehan benar-benar dihilangkan dalam ruang publik sebagaimana di Prancis.

    Negara bukanlah sepenuhnya institusi yang netral dari agama dalam artian negara tidak harus selalu alergi terhadap setiap ritus dan simbol agama. Negara hadir sebagai penengah dan pengayom. Dengan “kekuatan” hukum, pemerintah harus menjamin semua agama mendapat porsi yang sesuai sehingga memberikan ruang kepada agama-agama untuk berekspresi dan  membiarkan tiap individu bebas mempraktikan iman dan spiritualitas mereka.