13 Reasons Why & Tema Bunuh Diri di Layar Kaca

528

Judul Serial: “13 Reasons Why”

Produser: Diana Son, Joseph Incaprera

Distributor: Netflix

Tahun Rilis: 2017

Jumlah Episode: 49

 

“Why didn’t you say this to me, when I was alive?”

Meskipun 13 Reasons Why tayang tahun 2017 silam, dan rasanya sudah sangat ketinggalan zaman, series ini dulu pernah direkomendasi teman-teman saya karena viral di Amerika Serikat sebelum pandemi COVID-19. Saya penasaran, apa yang membuatnya viral? Plot-twist nya kah? Jalan cerita dengan tokoh yang sangat mellow atau bagaimana?

Dari judul filmnya, kita tahu bahwa series ini menceritakan 13 alasan sang tokoh utama mengakhiri hidupnya sendiri. Dua minggu setelah Hannah Baker dipastikan meninggal karena bunuh diri, Clay Jensen, sahabat Hannah, menemukan kotak misterius berisi 7 kaset dengan 13 side, di depan pintu rumahnya.

Clay melakukan napak tilas pengalaman hidup Hannah dengan mengikuti segala instruksi yang diutarakan perempuan itu di dalam kaset. Tak pelak, ia menemukan banyak kenyataan pahit yang membuatnya kian empati dengan gadis tersebut.

Serial Netflix 13 Reason Why ini ternyata tidak hanya mengulas tentang faktor bunuh diri seseorang, ada kasus bullying, kekerasan seksual, pencemaran nama baik, dan masalah-masalah remaja umumnya yang diangkat dalam series ini. Semuanya dikemas begitu rapi, hingga Hannah berujung untuk mengakhiri nasibnya dengan bunuh diri.

“Loh? Cerita kayak begitu ‘kok ditayangkan?” Benar, pada awal kemunculan season 1, serial ini menimbulkan kontroversi karena dianggap meromantisasi bunuh diri sebagai tren, sebagai hal yang layak di kalangan remaja, hingga adegan pemerkosaan. Hal ini kian marak setelah menjadi buah bibir di media sosial.

Kritik-kritik lain terkesan sudah wajar. Misalnya, kritik terhadap konsumsi alkohol, budaya pergaulan bebas, dan sebagainya. Yang menarik, indikasi adanya kekhawatiran sejumlah pihak, terutama orang tua, terkait budaya populer ini mampu menggiring remaja memicu ide bunuh diri karena meromantisasi kepuasan-kepuasan yang diambil para tokoh.

Ada hal menarik dari penelitian mengenai pengaruh produk budaya popular, seperti film terhadap perubahan persepsi penonton tentang bunuh diri. Sebanyak 119 mahasiswa usia 18-20 tahun yang tidak pernah memiliki niat bunuh diri, berpartisipasi dalam studi mereka dan dibagi ke dalam tiga kelompok: penonton film bertema bunuh diri, film kekerasan, dan film dengan tema netral (Biblarz et. al, 1991).

Dari hasil penelitian tersebut, tidak ditemukan peningkatan persepsi positif terhadap bunuh diri yang signifikan dari ketiga kelompok tersebut. Meski demikian, mereka menyatakan terdapat peningkatan rangsangan fisiologis terhadap ide bunuh diri yang signifikan setelah kelompok pertama menonton film Surviving, film televisi yang menggambarkan bunuh diri dua remaja yang mengalami masalah keluarga. Secara khusus, mereka yang mengidentifikasi pengalaman diri dengan kisah tragis yang dialami tokoh-tokoh dalam film tentang bunuh diri berpotensi untuk memiliki rangsangan fisiologis yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak merasakan pengalaman serupa.

Di lain sisi, bunuh diri merupakan masalah yang sudah menjadi perhatian para filsuf sejak zaman Yunani Kuno. Plato misalnya, memaklumi bunuh diri  terjadi jika ada empat kondisi terpenuhi, di mana moral orang yang bersangkutan sangat corrupted, sudah mendapat hukuman mati, motif bunuh diri terdorong oleh ketidakberuntungan yang ekstrim dan tidak dapat dihindari (kumparan.com, 22/03/2019).

Permasalahan bunuh diri kian menarik didebatkan karena muncul pro dan kontra sejak itu. Apakah bunuh diri termasuk kejahatan atau justru itu kebebasan memilih?

Bunuh diri erat kaitannya dengan depresi. Banyak sekali variabel-variabel yang bisa menyebabkan seseorang mengalami depresi. Banyak sekali. Hingga beberapa depresi tidak dapat diketahui sebabnya karena depresi adalah kompilasi dari faktor internal dan eksternal. Selain depresi, adalah mental. Yang kita semua tahu, mental orang berbeda-beda, tergantung dari proses sosialisasi primer dan sekundernya.

Melihat banyaknya faktor tersebut, rasanya tidak adil apabila langsung mencap orang yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri dengan stigma buruk. Memang, bunuh diri sendiri menimbulkan reaksi sosial. Keluarga yang ditinggalkan akan terkena dampak yang paling terasa. Namun, jika hanya melihat dampak dari bunuh diri terhadap masyarakat sekitarnya, relevankah dengan si pelaku bunuh diri sendiri?

Beberapa orang berusaha menerka-nerka alasan bunuh diri seseorang. Namun, semuanya hanya perkiraan. Tidak ada yang bisa tahu penyebab orang bunuh diri dengan pasti, kecuali jika kasusnya sama dengan Hannah Baker di 13 Reasons Why. Sama seperti orang-orang lainnya, dalam serial tersebut diceritakan alasan Hannah memutuskan bunuh diri, mulai dari kekerasan seksual yang dialaminya oleh mantan pacar, bullying oleh temannya, sampai guru psikologi di sekolahnya yang justru semakin memojokkannya.

Memang, bunuh diri sendiri tidak menyelesaikan masalah apapun menurut mayoritas masyarakat. Namun, siapa yang tahu jika si pelaku bunuh diri lebih memilih untuk mati ketimbang menjalani hidup yang tidak ia inginkan. Tidak ada yang tahu pasti, namun, mayoritas orang yang melakukan bunuh diri mungkin berpikiran seperti itu.

Misalnya, seperti kasus bunuh diri karena putus cinta. Banyak orang tua yang menyayangkan perbuatan tersebut karena meremehkan alasannya. “Putus cinta, toh bisa cari yang lain, cewek masih banyak.” Dari sini kita bisa melihat bahwa, era kapan pun itu, selalu ada alasan untuk reaksi penolakan orang tua pada kultur dan budaya tempat anaknya tumbuh.

Apa hal tersebut karena nilai moral yang menurun? Tentu tidak. Sebagian orang tua mengalami cultural shock melihat distingsi kehidupan masa mudanya dan dengan perbandingan masa muda anaknya. Sementara, sebagian orang tua memang cenderung konservatif.

Dari variabel faktor depresi yang tidak menentu, perbedaan mental, proses sosialisasi, sampai moral anak muda yang mungkin sampai saat ini belum relevan dengan masa dulu, semua hal tersebut merupakan masalah yang dialami masing-masing individu. Jadi, pertanyaan “apakah bunuh diri merupakan kejahatan atau kebebasan memilih seseorang?”Jawabannya adalah “kebebasan memilih”.

Namun, kebebasan memilih tentunya punya konsekuensi dan orang tersebut akan mempertanggungjawabkan resikonya. Mempunyai kebebasan, bukan berarti semua tindakan boleh atau layak dilakukan seenaknya. Setiap individu perlu mengetahui konsekuensi dari pilihan yang diambilnya.

Maka dari itu, peran edukasi mengenai bunuh diri ini penting. Baik itu dalam maksud mencegah tindakan bunuh diri, mengajarkan sikap empati dan peduli, serta memberi edukasi yang benar, merupakan beberapa hal yang penting untuk dilakukan dan saling melengkapi.

Sama seperti pendidikan seks yang dianggap tabu, bunuh diri juga dianggap sebagai tema yang tidak pantas untuk dibicarakan dan didiskusikan dengan anak-anak, karena kebanyakan orang merasa anak-anak belum terlalu stres untuk bunuh diri. Padahal, pendidikan sejak dini tersebut, dengan cara yang tepat, sangat penting untuk anak-anak untuk belajar dan berpikir agar bisa menentukan pilihannya.

 

Referensi

Jurnal

Biblarz, Arturo, et. Al. 1991. “Media Influence on Attitudes Toward Suicide”. The American Association for Suicidology. Diakses dari https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/j.1943-278X.1991.tb00575.x pada 17 Oktober 2020, pukul 10.00 WIB.

 

Internet

https://kumparan.com/kumparannews/bunuh-diri-dalam-sejarah-yunani-kuno-1553247720593620209 Diakses pada 17 Oktober 2020, pukul 22.00 WIB.